Menjadi 'Ilmuwan Sosial' dengan Foto-foto Portrait

Tips Fotografi

Menjadi 'Ilmuwan Sosial' dengan Foto-foto Portrait

Ari Saputra - detikInet
Selasa, 29 Des 2015 10:09 WIB
Pedagang lontong sayur di Monumen Nasional, 2013. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Ketika Nicolaas Pieneman diminta Jenderal de Kock melukis peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, ia kebingungan. Sebab, pelukis portrait itu belum pernah sama sekali ke Hindia Belanda khususnya tanah Jawa.

Pelukis kerajaan semasa Raja Willem II itu (1840-1849) hanya menerka wajah pendukung Diponegoro dari sumber lisan dan desas-desus para prajurit kompeni yang bertugas di Hindia Belanda.

Tidak mengherankan bila lukisan yang saat ini terpajang di Museum Rijkmuseum Amsterdam tersebut banyak keliru. Terutama wajah Diponegoro dan pendukungnya yang lebih mirip wajah Arab (Timur Tengah). Penulis yang sempat melihat langsung lukisan Pieneman tersebut sempat tersenyum geli.

Bagaimana mungkin pendukung Diponegoro dan Diponegoro yang asli Jawa digambarkan berhidung mancung. Pilihan warna dan kain serta jubahnya menyerupai peristiwa di kekaisaran Turki daripada di Hindia Belanda. Beberapa kalangan menilai lebih mirip paras Afrika Utara daripada wajah Nusantara.

Kekeliruan tersebut mungkin terjadi karena pada saat itu belum ditemukan teknologi kamera. Sehingga sosok pribumi hanya bersumber pada cerita berantai tanpa bukti otentik.

Baru pada beberapa dekade kemudian, saat kamera moderen ditemukan, para fotografer mulai berburu foto portrait di hampir seluruh tanah jajahan Belanda, Prancis, Inggris maupun di negeri koloni lain.

Ada yang dengan tujuan ilmiah sebagai bagian dari laporan jurnal antropologi atau etnografi. Namun pendapat lain menduga berunsur propaganda seperti yang ingin dilakukan dalam lukisan 'Penangkapan Diponengoro' versi Pieneman.

Saat ini, dengan teknologi kamera dengan foto selfie yang dihasilkan jutaan frame setiap hari, masih relevankah berburu foto portrait? Tentu masih dan akan terus dibutuhkan. Sebab, portrait dan karakter masyarakat dan individu selalu berubah. Dulu, orang malu-malu difoto, sekarang justru sangat senang melihat kamera. Tidak tahu bagaimana reaksi mereka berada di depan kamera 10 tahun lagi.

Dengan metode fotografi yang ketat dan pendekatan yang terukur, foto-foto portrait juga masih dibutuhkan. Terutama untuk menangkap kekayaan etnik dan manusia. Dari petani, pedagang asongan, seniman jalanan sampai kepala suku atau tokoh masyarakat. Dari suku terpencil di ujung Indonesia hingga kelas menengah yang tengah menyeduh kopi panas di lantai 33 di jantung Jakarta.

Bagaimana mendapatkan foto portrait yang kaya pesan local experience itu?

Pertama, kenali daerah yang akan dituju. Terutama kebiasaan, sopan santun dan reaksi umum menghadapi kamera. Di masyarakat Jepang, pada umumnya mereka senang difoto oleh orang asing sekalipun. Sebaliknya, di negara tertentu bisa merasa terganggu dengan kamera turis. Atau, ada juga yang mau difoto namun setelah itu minta bayaran.


Keterangan foto: Penjual buah di Marienplatz, Munich, 2015. (Ari Saputra/detikcom)

Kedua, membuat foto portrait dengan orang yang baru dikenal perlu menjaga sopan santun. Menyapa dan mengobrol singkat dapat menjadi pembuka yang nyaman sebelum memotret. Cara lain untuk mendekatkan suasana dengan belanja terlebih dahulu jika hendak memotret di pasar atau penjual di tepi jalan.


Keterangan foto: Pedagang kacang-kacangan di Busan, Korsel, 2015. (Ari Saputra/detikcom)

Ketiga, lakukan pemotretan dengan nyaman dan alamiah. Hindari pose atau mengarahkan gaya yang membuat subjek tidak percaya diri, canggung atau terintimidasi. Kalaupun mau candid, sebaiknya melakukan dengan tidak menimbulkan kecurigaan dan dilakukan di tempat umum.


Keterangan foto: Penjual ketan bakar, di Bandung, 2015 (kiri) dan gadis pengangkut kayu bakar di Garut, 2009. (Ari Saputra/detikcom)

Jika subjek sadar sedang di-candid dan minta foto tersebut dihapus, Anda bisa menuruti kemauannya. Kalaupun bisa berkelit, lakukan dengan sopan dan persuasif sehingga tidak menyinggung perasaan yang di-candid.


Keterangan foto: Penjaga minimarket di kawasan Time Square Garden, 2014. (Ari Saputra/detikcom)

Keempat, hormati hak-hak subjek foto seperti tidak menggunakan hasil foto untuk kebutuhan komersil. Kalaupun itu perlu dikemudian hari, pastikan sudah mengantongi izin dari yang kita potret (model release).

Untuk menghindari kebosanan, foto portrait ini bisa disisipkan di antara foto-foto traveling, streetphotography, arsitektur atau cityscape. Lakukan secara konsisten sampai menemukan passion dalam setiap jepretan. Perhatikan hingga detil, ekpresi wajah, warna make up, arah cahaya, komposisi, model pakaian, gaya rambut hingga lingkungan sekitar. Pastikan setiap inch dari frame foto merupakan data otentik yang tidak bisa dimanipulasi.


Keterangan foto: Penjual es krim di Kyoto, Jepang, 2014. (Ari Saputra/detikcom)

Lalu simpan atau share foto-foto tersebut dengan rapih dalam folder yang mudah dicari. Bisa untuk portfolio pribadi, dapat pula menjadi saksi zaman dan semacam tangga untuk menjadi 'ilmuwan sosial' yang peka dan peduli terhadap perubahan zaman.

(Ari/ash)