Jumat, 14 Jul 2017 16:37 WIB

Cerita di Balik Hebohnya Monyet Selfie di Sulawesi

Fino Yurio Kristo - detikInet
David Slater di Sulawesi. Foto: BBC David Slater di Sulawesi. Foto: BBC
Jakarta - Ceritanya pada tahun 2011, David Slater yang asli Inggris ini berkunjung ke hutan di pulau Sulawesi. Dia ingin mengabadikan monyet hitam yang langka itu. Dia sampai di lokasi, kemudian dikerumuni para monyet yang penasaran dengan kameranya.

Salah satu monyet membajak perangkat kamera Slater dan menekan tombol shutter berkali-kali. "Mereka ini cukup jahil, melompat lompat di peralatanku dan sepertinya mereka bisa berpose di depan kamera ketika salah satunya menekan tombol," terang Slater.

"Suara yang terdengar membuatnya tertarik dan dia terus menekannya. Awalnya hal ini membuat banyak monyet itu takut dan menjauh, tapi mereka segera kembali lagi. Sungguh pemandangan yang menakjubkan," tambah Slater.

Sang monyet menjepret begitu banyak foto. Tidak semuanya bagus tentu saja, tapi ada satu foto selfie yang terlihat sempurna. Foto itulah yang saat ini terkenal karena sang monyet terlihat tertawa lebar dan menjepret dirinya sendiri.

Slater merasa foto itu hak ciptanya. Ia pernah meradang ketika Wikimedia memajangnya tanpa permisi dan ia meminta foto itu dihapus. Wikimedia menolak dengan alasan monyet itu memotret dirinya sendiri (selfie) dan sang fotografer tak seharusnya mempunyai hak atasnya. Karena bukan dirinya yang mengambil foto itu.
Cerita di Balik Hebohnya Monyet Selfie di Sulawesi Foto: istimewa

"Dia tidak bisa memiliki foto itu, karena ia tidak mengambil foto tersebut," kata editor Wikimedia kala itu. Mereka menegaskan foto itu dalam domain publik, karena sebagai karya hewan (non-manusia), sehingga manusia tidak bisa memiliki hak ciptanya.

Slater merasa rugi besar karena foto tersebut dianggap masuk ke domain publik. Beberapa media pun memajangnya tanpa merasa harus meminta izin. Sebelum itu, Slater mengaku meraih pendapatan tak sedikit dengan menjual foto sang monyet selfie.

"Aku yang memiliki fotonya tapi karena monyetnya yang menekan tombol, mereka mengklaim monyet itu yang punya hak ciptanya. Masalahnya adalah mereka mengatakan pada orang bahwa foto itu bebas digunakan karena berada di publik domain," tutur Slater.

Sekarang, Slater kembali berurusan dengan lembaga penyanyang binatang PETA. PETA menilai Slater mengeksploitasi dan mengambil keuntungan dari foto itu, padahal seharusnya diberikan pada sang monyet yang dinilai lebih sahih sebagai pemegang hak cipta. (fyk/fyk)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed