BERITA TERBARU
Rabu, 05 Apr 2017 16:55 WIB

Tips dan Trik Fotografi

Memotret di Kondisi Gelap, Begini Mengakalinya

Enche Tjin - detikInet
Ilustrasi foto low light. Foto: Enche Tjin Ilustrasi foto low light. Foto: Enche Tjin
Jakarta - Sebagian besar orang menyalahkan ISO tinggi sebagai penyebab utama mengapa kualitas gambar menurun karena munculnya noise (bintik bintik yang menutupi detail).

Memang benar bahwa jika setting ISO kamera kita tinggi, kualitas gambar berkurang. Tapi jika direnungkan, sebenarnya, ISO tinggi hanya merupakan akibat. Penyebab sebenarnya adalah setting bukaan (F-stop) dan shutter speed yang kurang optimal.

Jika kita memilih bukaan yang kecil, seperti f/8-16, otomatis cahaya yang masuk sedikit dan memaksa ISO menjadi tinggi saat memotret. Sama juga jika kita memilih shutter speed, jika terlalu cepat seperti 1/1000, otomatis cahaya yang masuk sedikit dan memaksa ISO naik untuk mendapatkan foto yang terang.

Kamera: Leica SL, lensa SL 24-90mm f/2.8-4. ISO 800, 1/8 detik, f/4, 24mm. Karena subjek tidak bergerak (gereja), maka saya mengoptimalkan shutter speed. Nilai shutter yang saya gunakan didapatkan dengan 1/24mm lalu penyebutnya saya bagi dengan 4, karena lensa 24-90m memiliki stabilizer built-in, sehingga menghasilkan shutter 1/8 detik.Kamera: Leica SL, lensa SL 24-90mm f/2.8-4. ISO 800, f/4, 1/125 detik, Untuk foto yang ini, saya harus mengunakan shutter speed cukup cepat karena subjek yang saya foto bergerak. 1/125 adalah angka optimal karena pergerakan tari yang ditampilkan tidak terlalu cepat. Foto: Enche Tjin

Jadi, cara yang terbaik untuk mengoptimalkan setting kamera di kondisi kurang cahaya adalah memilih bukaan dan shutter speed yang pas. Untuk bukaan yang optimal, kita dapat memilih yang sesuai dengan ruang tajam yang dibutuhkan.

Jika memotret pemandangan yang jarak ke subjeknya tidak banyak berbeda, misalnya subjeknya jauh seperti pegunungan, kita bisa mengunakan bukaan f/4 - f/5.6, tidak perlu sampai f/8-16.

Format kamera yang digunakan juga perlu dipertimbangkan juga dalam memilih bukaan yang optimal saat kondisi cahaya gelap. Jika mengunakan kamera sensor format kecil seperti 1 inch, four thirds, maka bukaan yang relatif besar seperti f/1.4-f/2.8 sudah cukup untuk mendapatkan pemandangan yang tajam.

Sedangkan di format full frame, ruang tajamnya (depth of field) lebih tipis, sehingga fotografer harus lebih berhati-hati dalam memilih bukaan untuk mendapatkan hasil yang tajam.

Kamera: Panasonic LX10, f/1.4, 1/25 detik, ISO 125. Dengan mengunakan bukaan yang sangat besar, dan shutter yang relatif lambat, saya dapat mengunakan ISO rendah sehingga kualitas foto tetap baik menjelang malam hari. Meskipun bukaan yang saya gunakan sangat besar yaitu f/1.4, tapi karena sensor yang digunakan relatif kecil (jenis 1 inci) dan focal length lensa lebar, maka ruang tajam cukup.Kamera: Panasonic LX10, f/1.4, 1/25 detik, ISO 125. Dengan mengunakan bukaan yang sangat besar, dan shutter yang relatif lambat, saya dapat mengunakan ISO rendah sehingga kualitas foto tetap baik menjelang malam hari. Meskipun bukaan yang saya gunakan sangat besar yaitu f/1.4, tapi karena sensor yang digunakan relatif kecil (jenis 1 inci) dan focal length lensa lebar, maka ruang tajam cukup. Foto: Enche Tjin

Di lain pihak, sebaiknya memilih shutter yang tidak terlalu cepat jika tidak membutuhkan. Untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak cepat seperti kegiatan olahraga atau satwa liar, tentunya perlu shutter speed yang relatif cepat, yaitu sekitar 1/500-1/1000 detik.

Tapi jika memotret subjek yang tidak bergerak, seperti pemandangan, arsitektur, atau portrait orang yang relatif diam, maka shutter speed yang dipilih boleh disesuaikan dengan jarak fokus (focal length lensa) yang dilakukan. Jika focal length lensa yang kita gunakan adalah 50mm, maka setidaknya kita harus mengunakan 1 / focal length lensa, dalam hal ini 1/50 detik, idealnya dilebihkan menjadi 1/80 detik, supaya hasil foto lebih tajam.

Saat ini, stabilizer sudah umum ditemukan di berbagai lensa atau di dalam kamera. Jika memiliki fitur ini, kita bisa memanfatkan fitur ini untuk menstabilkan gambar saat memotret dengan shutter speed lambat. Secara umum, saya membagikan angka penyebut shutter speed dengan 4. Contohnya harusnya 1/80 detik, saya bisa gunakan 1/20 detik jika stabilizernya aktif. Cara mendapatkan 1/20 adalah 80 dibagi dengan 4.

Yang perlu diingat adalah, jika mengunakan kamera dengan format APS-C atau four thirds, kita perlu mengalikan focal length lensa dengan faktor pengali (1.5x, 1.6x atau 2x) sehingga mendapatkan focal length ekuivalen dengan focal length format full frame.

Namun ini bukanlah perhitungan yang saklek, karena setiap orang memiliki cara penanganan kamera yang berbeda, ada yang lebih stabil, ada yang kurang, jika kita menyadari bahwa tangan kita kurang stabil, maka sebaiknya dikompensasikan dengan shutter speed yang lebih tinggi daripada semestinya.

Pengunaan alat bantu seperti tripod akan sangat membantu saat memotret di kondisi gelap, alasannya adalah kita dapat mengunakan shutter yang lambat untuk mendapatkan cahaya yang cukup. Tapi perlu diperhatikan bahwa tripod tidak begitu berguna untuk memotret subjek yang bergerak. Satu lagi alat tambahan yang dapat membantu yaitu flash atau lampu LED. Berbeda dengan tripod, lighting tambahan dapat digunakan untuk membekukan subjek yang bergerak juga.

Kesimpulan

Untuk menghasilkan foto yang optimal di kondisi gelap, yang terpenting adalah menentukan bukaan dan shutter speed yang optimal. Bukaan yang optimal adalah bukaan yang cocok untuk ruang tajam pemandangan yang ingin dihasilkan, dan shutter speed yang dipilih sebaiknya tidak terlalu cepat melebihi kebutuhan.

Dengan pemilihan bukaan dan shutter speed yang optimal, kita dapat mendapatkan nilai ISO yang serendah mungkin sehingga foto yang dihasilkan memiliki kualitas gambar yang terbaik.

Kamera: Leica SL, lensa SL 24-90mm f/2.8-4. ISO 800, 1/8 detik, f/4, 24mm. Karena subjek tidak bergerak (gereja), maka saya mengoptimalkan shutter speed. Nilai shutter yang saya gunakan didapatkan dengan 1/24mm lalu penyebutnya saya bagi dengan 4, karena lensa 24-90m memiliki stabilizer built-in, sehingga menghasilkan shutter 1/8 detik.Kamera: Leica SL, lensa SL 24-90mm f/2.8-4. ISO 800, 1/8 detik, f/4, 24mm. Karena subjek tidak bergerak (gereja), maka saya mengoptimalkan shutter speed. Nilai shutter yang saya gunakan didapatkan dengan 1/24mm lalu penyebutnya saya bagi dengan 4, karena lensa 24-90m memiliki stabilizer built-in, sehingga menghasilkan shutter 1/8 detik. Foto: Enche Tjin



Mau konsultasi berbagai hal seputar fotografi? Kirim saja pertanyaan ke Klinik IT detikINET di link berikut.

*)Enche Tjin aktif dalam menulis dan menyelenggarakan kursus kilat serta tur fotografi, Enche juga menerima jasa fotografi terutama event dan portrait. Ia pun terafiliasi dengan www.infofotografi.com. (asj/asj)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed