Menerka Nasib Pabrikan Kamera Tahun 2016

Menerka Nasib Pabrikan Kamera Tahun 2016

Enche Tjin - detikInet
Senin, 13 Jun 2016 14:00 WIB
Foto: detikINET/Ari Saputra
Jakarta - Tahun 2015-2016 bukan tahun yang tidak mudah bagi produsen kamera digital baik kamera compact maupun kamera interchangeable lens (kamera yang bisa tukar lensa). Sebagian besar produsen melaporkan penurunan penjualan dan bahkan kerugian dalam bisnis kameranya.

Salah satunya karena sebagian pembeli kamera compact kini lebih memilih membeli ponsel pintar dengan kamera yang bagus, dan inovasi kamera digital juga melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan relatif terhadap perkembangan inovasi ponsel pintar.

Di artikel ini, saya ingin membahas kondisi beberapa merk kamera populer saat ini:

Canon

Penghasilan utama Canon adalah dari kamera compact dan terutama dari kamera DSLR. Namun di tahun ini, penjualan kamera mulai merosot dan sebagian besar penggunanya "bocor" ke mirrorless seperti ke Fujifilm.

Meskipun kamera DSLR Canon menurut saya cukup baik fitur dan kualitas gambarnya (untuk produk kamera high end), tapi inovasinya terkesan lambat, karena saya amati, sepertinya Canon takut, kalau fitur kamera foto dan videonya terlalu canggih, maka bisa membuat produk camcorder dan DSLR untuk profesional harganya lebih tinggi jadi gak laku.

Selain itu, arah peminat penggemar fotografi saat ini adalah mendambakan kamera yang lebih ringkas dan mudah digunakan, sedangkan perkembangan kamera mirrorless Canon EOS M terasa sangat lambat terutama lensa-lensa dan fitur kameranya yang tertinggal dibanding kompetitornya.

Canon EOS M3 – Kamera Mirrorless Canon tercanggih saat ini.
Namun, sebagai pemimpin pasar, Canon punya banyak pengguna dan pengikut, sebagian masih setia, dan punya kekuatan lain yaitu koleksi lensanya banyak dan terjangkau, demikian juga aksesoris resmi dan juga dukungan pihak ketiga yang banyak.

Saran saya untuk Canon adalah jangan memusuhi kamera mirrorless, tapi lebih fokus dalam mengembangkan kamera mirrorless terutama lensa-lensanya.

Selanjutnya, Canon perlu mengembangkan kualitas kameranya lagi, dari kualitas gambar, dan juga fitur penunjang dan video. Banyak lensa Canon seri L sudah saatnya di upgrade supaya bisa maksimal di kamera beresolusi tinggi.

Nikon

Nikon memiliki posisi yang lebih parah dari Canon, karena sistem kamera mirrorlessnya mengunakan sensor yang terlalu kecil. Fotografer serius akan mencari sistem kamera dengan sensor yang lebih besar, dan pengguna casual akan memilih kamera compact bersensor 1 inci seperti Sony RX100, Canon G7X dan Panasonic LX100.

Nikon sendiri juga berencana mengeluarkan kamera compact bersensor 1 inci. Nah, saat kamera compact dan prosumer sudah memakai sensor 1 inci, untuk apa lagi membeli kamera dan lensa yang terpisah seperti sistem Nikon 1?

Di sektor kamera DSLR Nikon juga memiliki tantangan yang sangat besar karena kompetisi dari Canon dan juga dari sistem kamera mirrorless. Di kondisi yang sulit ini, saya pikir Nikon harus kembali meninjau rencana jangka pendek dan panjangnya.

Saya kira kualitas foto dari kamera DSLR Nikon tidak saya ragukan karena saya sendiri pengguna kamera Nikon dan saat ini memiliki dua kamera DSLR dan sejumlah lensa Nikon. Namun banyak hal yang harus dikembangkan. Boleh juga mempertimbangkan pengembangan kamera mirrorless full frame dengan mempertahankan F-mount.

Nikon D500, kamera DSLR terbaru yang jago ngebut.
Di bagian lensa, koleksi lensa Nikon lebih banyak dari Canon, dan relatif terjangkau dari masa kamera film/analog. Tapi Nikon masih punya banyak pe-er untuk memodernisasi lensanya ke type E (electronic) sehingga lebih stabil dan siap diadaptasi di kamera mirrorless. Kualitas casing lensa juga sudah saatnya ditingkatkan. Pemakaian bahan plastik yang ringan dan tipis memang memiliki keuntungan yaitu bobot lensa jadi ringan, tapi lebih tidak tahan banting.

Ada hal yang membuat saya khawatir, yaitu kegiatan penghematan "cost cutting measure" yang dilakukan oleh Nikon diseluruh dunia. Ini akan berimbas pada quality control dan kualitas pelayanan untuk produk lama dan baru, dan potensial menghambat inovasi.

Sony

Dalam beberapa tahun terakhir, Sony memilih langkah yang tepat dengan berinovasi dan mengambil resiko dengan mengumumkan kamera mirrorless full frame seri A7. Seri Sony A7 lah yang membantu divisi imaging Sony mencetak angka biru dibandingkan dengan divisi lainnya seperti TV, audio dan bahkan sensor kamera.

Dengan inovasi yang agresif yaitu dalam tiga tahun terakhir, Sony telah mengeluarkan 6 kamera mirrorless full frame (A7, A7R, A7S, A7II, A7RII, A7SII). Kamera mirrorless Sony yang bersensor APS-C seperti Sony A6000, A6300 juga berjaya di pasaran dan membantu meningkatkan pangsa pasar dan juga keuntungan untuk perusahaan.

Sony A7R II, kamera mirrorless yang hampir sempurna
Meski sukses dalam bidang inovasi kamera, Sony masih punya kelemahan, pilihan lensa saat ini sudah cukup banyak dibandingkan dua tahun yang lalu, tapi meskipun demikian, masih banyak celah yang perlu ditutupi. Pilihan lensa dengan harga terjangkau tidak banyak, mengakibatkan banyak pengguna kamera Sony masih mengunakan lensa DSLR jadul dengan adaptor. Kinerja kamera seperti A7 masih terasa agak lambat karena tidak didukung oleh baterai yang besar dan kuat. Oleh sebab itu, saya menyarankan Sony supaya bertindak cepat dalam mengeluarkan kamera yang benar-benar profesional/flagship mirrorless Sony A9 untuk membungkam berbagai kritik dari pengguna kamera DSLR.

Sony juga perlu berbenah dalam menangani masalah pelayanan purna jual (after sale service). Banyak saya dengar keluhan dari pengguna kamera yang mengalami kerusakan harus menunggu sebulan dua bulan sampai kameranya diperbaiki. Dengan kualitas service yang cepat dan bagus, saya yakin fotografer profesional akan lebih banyak bergabung dan menetapkan hatinya dengan Sony dan tidak berpindah balik ke sistem DSLR. Dengan banyaknya fotografer profesional bergabung, kredibilitas merk kamera Sony di bidang imaging juga akan meningkat.

Fujifilm

Dalam waktu relatif singkat, yaitu sekitar empat tahun, Fujifilm telah bangkit dari nol menjadi kekuatan yang disegani di dunia kamera digital. Banyak pengguna kamera DSLR atau pengguna kamera analog pindah ke sistem Fuji karena ukurannya yang relatif compact, desain kamera dengan kendali yang seperti kamera film.

Reputasinya sebagai pembuat lensa yang piawai juga membantu, dan terlebih merk-nya yang sudah terkenal di dunia fotografi sejak berpuluh tahun yang lalu. Karena pengalaman Fuji dari film, banyak pilihan simulasi film yang menghasikan warna foto seperti warna film jaman dahulu seperti Fuji Astia, Velvia, sampai Classic Chrome (menyerupai film legendaris Kodachrome).

Fuji XT-10, kamera ini laris seperti kacang goreng dan banyak menggoda iman pengguna kamera DSLR.
Fujifilm di Indonesia juga melakukan gebrakan yang bagus dalam hal marketing. Fuji mengajak fotografer kawakan yang memiliki pengikut dalam jumlah banyak, dan kebetulan cocok genre-nya, yaitu dokumenter, street, travel dan portrait. Secara desain, desain kamera Fujifilm juga sangat trendy dan fashionable. Bagi sebagian orang, desain gak masalah, yang penting enak dipakai dan kualitasnya bagus, tapi banyak masyarakat awam yang sangat peduli dengan desain sebuah kamera sebagai bagian dari gaya hidup atau gaya busana.

Marketing Fuji yang mengunakan sistem paket lensa dan potongan harga yang agresif juga tampaknya sangat berhasil mempengaruhi penggunanya, maupun calon penganut yang masih mengunakan sistem kamera DSLR. Acara-acara kumpul-kumpul tour foto yang sering di lakukan bekerja sama dengan berbagai pihak oleh Fujifilm Indonesia secara kontinyu pelan-pelan berhasil "meracuni" pengguna kamera DSLR yang belum pindah.

Meski sukses dalam marketing, Fujifilm mendapat masalah dalam inovasi kamera dan video. Sensor APS-C membatasi resolusi dan kualitas foto. Fuji juga secara tradisional tidak memiliki kompetensi di bidang video, padahal generasi muda sekarang menuntut kamera foto yang juga video-nya juga bagus dan praktis untuk digunakan.

Akhir tahun ini dan tahun depan merupakan tahun kunci untuk Fujifilm. Apakah mereka akan terus maju dengan inovasi yang menggebrak, atau akan mulai mengalami penurunan karena pesaing makin agresif dalam hal inovasi dan harga.

Olympus

Kekuatan Olympus adalah dari merk yang sudah terkenal dari jaman film. Olympus terkenal sebagai perusahaan yang piawai dalam membuat lensa baik untuk alat-alat medis dan fotografi. Konsep utama Olympus dalam membuat sistem kamera adalah memperhatikan ukuran sistem secara keseluruhan. Menurut Olympus, untuk apa kameranya kecil tapi lensanya besar-besar? Karena pengalaman yang banyak di dunia film dan cetak, warna yang dihasilkan oleh kamera Olympus saya nilai sangat baik, mampu menghasilkan warna-warna yang natural langsung dari kamera.

OMD EM5 II, ringkas, tapi tangguh dan tahan air.
Untuk produk kameranya, Olympus terkenal atas 5 axis stabilizernya yang efektif untuk foto dan video. Hampir semua kamera baru Olympus sudah dilengkapi dengan fitur ini sehingga sangat membantu saat memotret di kondisi yang agak gelap. Kekuatan lainnya adalah ukuran yang ringkas, termasuk lensa-lensanya ringkas dan sebagian besar lensa PRO baru-nya tahan cipratan air (weathershield).

Rekomendasi saya untuk Olympus, terutama di Indonesia adalah untuk memperhatikan harga. Mungkin perlu penyesuaian harga supaya tetap bisa kompetitif dengan pesaing. Untuk lensa-lensanya, koleksi lensa zoom sudah baik, tinggal lensa fix, terutama yang lebar, cukup penting untuk dibuat, contohnya lensa 10mm (ekuiv 20mm) dan lensa 14mm (ekuiv 28mm). Bukaan bisa dibatasi di f/2.8 supaya ukuran tetap ringkas dan harga terjangkau.

Sistem autofokus dan kualitas video juga sudah boleh ditingkatkan menjadi hybrid AF dan 4K video. Sepertinya harapan saya akan terkabul akhir tahun ini dalam bentuk Olympus OMD EM1 II.

Panasonic

Seperti Sony, Panasonic lebih terkenal di kalangan videografi daripada fotografi. Panasonic bersama Olympus adalah dua perusahaan yang mengembangkan sistem mirrorless pertama di dunia. Di tahun 2008, Panasonic mengeluarkan Panasonic G1, yang merupakan kamera mirrorless pertama di dunia. Namun Panasonic saat ini menjadi pemain yang cukup kecil dibandingkan merk kamera mirrorless yang lain di Indonesia.

Panasonic GX85 – Imut tapi fiturnya mutakhir dan relatif terjangkau,
Produk kamera Panasonic sendiri, saya pikir banyak yang potensial. Beberapa memiliki fitur unik, bentuk compact, dan harga relatif terjangkau. Katakanlah Panasonic GM1 yang sangat kecil Panasonic G7 dan GX85. Kedua kamera yang saya sebutkan terakhir tidak terlalu mahal, tapi sudah mampu merekam video 4K. Khusus GX85 sudah dilengkapi dengan teknologi 5 axis stabilization yang sangat membantu untuk mendapatkan foto atau merekam video di kondisi sulit. Selain itu, Panasonic juga mengembangkan teknologi 4K-nya untuk fotografi, yaitu fitur 4K Photo dan 4K Burst yang sangat berguna untuk merekam momen aksi yang sangat cepat seperti foto wildlife, anak, dsb.

Untuk lensanya, Panasonic dibantu oleh Leica dalam mendesain lensa. Panasonic juga tergabung dalam konsorsium micro four thirds, banyak pilihan lensa untuk pengguna kamera Panasonic, diantaranya Panasonic, Olympus, Sigma, Tamron, Voigtlander, dan lainnya.

Di Indonesia, Panasonic perlu lebih dekat dengan penggunanya dan mencari celah pasar baru, saya pikir generasi muda yang ingin mendapatkan foto dan sekaligus video bagus tanpa bawaan yang banyak. Sistem m43 Panasonic ini cocok untuk travel blogger, video blogger, photojournalist/dokumenter dan lifestyle photography.

Pentax

Pentax memiliki kamera dengan fitur yang melebihi sebagian besar kamera DSLR Canon dan Nikon dengan harga yang lebih terjangkau tapi sayangnya sistem lensanya jauh dari lengkap. Pentax juga terlalu lama tidak aktif dalam menjangkau konsumen lama dan baru, sehingga sulit menarik fotografer yang mengunakan kamera lain untuk pindah ke sistem Pentax. Sebenarnya saya rasakan sayang sekali.

Pentax K1, Gagah dan Tangguh
Dibawah naungan Ricoh yang memiliki sumber daya yang lebih besar, seharusnya Pentax berusaha lebih menggebrak dan membangkitkan fans setia Pentax (Pentaxian) untuk mengembangkan pengaruh sistem Pentax ke pengguna-pengguna kamera lainnya. Dalam segi hardware, pekerjaan rumah Pentax masih banyak, salah satunya memperbaharui lensa-lensa Pentax, terutama yang fix, untuk relevan di era kamera beresolusi tinggi.

Dari fitur dan teknologi, kamera DSLR Pentax terbaru yaitu Pentax K1 mampu menghadang bahkan melewati kemampuan kamera DSLR merk lain yang jauh lebih mahal. K1 sangat piawai saat memotret subjek gak bergerak (Studio) atau landscape. Hanya saja, kamera dan lensa Pentax belum cukup piawai untuk subjek yang bergerak sangat cepat. Dukungan dari produsen lensa seperti Sigma, Tamron dan Tokina harus terus dikejar supaya pilihan lensa untuk kamera Pentax lebih banyak lagi.

Demikian ulasan saya tentang kondisi sistem kamera saat ini, mudah-mudahan membantu teman-teman baik sebagai calon pembeli, penjual maupun perusahaan pembuat kamera dan lensa.


*) Penulis: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi.com, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer.

Mau konsultasi berbagai hal seputar fotografi? Kirim saja pertanyaan ke Klinik IT detikINET di link berikut. (jsn/ash)