Senin, 22 Jun 2015 08:11 WIB

#dnewgeneration

Erik Prasetya, Sang Pelopor Streetphotography Tanah Air

Ari Saputra - detikInet
Erik Prasetya, pelopor streetphotography di Indonesia. (aridetikINET)
Jakarta -

Barangkali, tak ada yang lebih mengenal jalanan Sudirman-Thamrin selain Erik Prasetya. Sebab, lebih dari 25 tahun ia susuri jalanan protokol tersebut untuk memotret apa saja yang terjadi di situ. Dari kemacetan, antrian busway, hingga penjual sapi di depan Hotel Shangrilla saat tanahnya masih kosong 20 tahun lampau.

"Mungkin nanti dalam 5 tahun ini masih tetep dengan tema itu (streetphotography). Merumuskan lebih baik, memberi contoh lebih mudah," ujar Erik Prasetya, fotografer yang dikenal sebagai peletak dasar streetphotography tanah air ini.

Ditemui detikINET di Komunitas Salihara Jakarta Selatan, Erik masih khas dengan gaya nyentriknya: kaos oblong ketat, syal di leher, topi Fedora dan tas messenger kulit berisi kamera Leica seri M warna silver. Sebuah laptop di depannya membuat Erik perlu mengecek facebook dan memantau linimasa di akun pribadinya.

"Saya harus masuk ke medium yang populer, Facebook. Tapi Instagram buat saya enggaklah. Saya nggak mau tergantung like (yang ada di Instagram)," kata Erik menyentil para penguna Instagram yang sekedar mencari jumlah like terbanyak sehingga lupa memotret secara konsisten.

Nah, konsistensi dan loyalitas terhadap dunia fotografi dimulai sejak Erik kecil, tepatnya waktu masih berusia 10 tahun. Saat itu, ibunya memberi dia kamera medium format Yasica Mat, kamera yang nantinya justru dijual oleh orangtua ketika Erik mulai berkibar di dunia motret -memotret.

"Bagaimana lagi, orangtua. Waktu saya tanyakan, kameranya sudah dijual. Katanya tukar tambah, dapat kamera kecil bisa isi film 36, kalau yang Yasica kan cuma 12. Ayah saya juga mau nyoba-nyoba motret tahu anaknya jadi fotografer," kata Erik terkekeh.

Selepas SMA di Padang, ia melanjutkan kuliah di ITB teknik perminyakan dan lulus dengan nilai yang menurutnya tidak begitu memuaskan. Pun demikian, Erik sempat menggunakan gelar akademiknya sebagai engineer di sebuah perusahaan oil services namun tidak membuatnya betah.

Ia banting stir menjadi wartawan tulis di Majalah Mingguan Mutiara (Sinar Harapan) sebelum akhirnya menjadi fotografer lepas untuk Majalah Mingguan Tempo.

"Begitu selesai kuliah, bekerja di pertambangan kok nggak seru-seru amat. Nggak seperti yang saya mau. Saya akhirnya memberanikan diri, mungkin kalau bekerja yang sesuai hobi itu menarik. Nah waktu itu yang kepikir jadi wartawan lah. Jadi wartawan sajalah," tandas peraih berbagai penghargaan fotografi tingkat internasional tersebut.

Lagi-lagi Erik tidak bisa lari dari takdirnya. Sebab, menjadi wartawan tulis dirasakan kurang produktif dan tidak sreg. Kerapkali ia perlu waktu lama untuk sekedar menulis satu atau dua artikel.

"Kalau tulisan, saya agak lama nulisnya. Tidak kunjung bagus. Lama kelamaan saya berfikir saya berbakat di foto. Kalau foto memang kesenangan saya sejak kecil. Akhirnya saya memutuskan diri pada foto," tandas pengguna Leica dari awal hingga saat ini.

Akhirnya ia mulai serius memotret kembali dan menemukan sensasi menekan shutter yang sudah ia rasakan sejak umur 10 tahun. Beberapa jepretannya ia kirimkan untuk majalah Tempo dari foto tunggal atau esai foto.

"Waktu itu Tempo membayar Rp 800.000 untuk satu artikel foto. Padahal gaji fotografer pada waktu itu Rp 1 juta. Jadi kalau saya masukin dua, artinya lebih gede dari gaji orang sebulan," ucapnya.

Selain sebagai fotografer lepas di Tempo, ia tetap memotret apa saja untuk mengamankan kebutuhan finansial sehari-hari. Itu ia lakukan dengan tetap memotret pernikahan, iklan atau pabrik. Sampai pada suatu titik ia bosan karena sebatas rutinitas saja dan sekedar kompromi dengan selera klien.

"Disitu saya berfikir saya harus mempunyai proyek pribadilah, yang memuaskan saya, Tidak harus berkomporomi dengan kemauan orang. Maka saya bikin proyek pribadi. Proyeknya apa itu? Ya Thamrin-Sudirman. Tahun 90an," tandas Erik.

Berbekal ambisi dan insting fotografi, ia mulai memotret perubahan Tahmrin-Sudirman sejak tahun 1990. Ia tidak bakal menyangka bakal menjadi proyek super panjang hingga 20 tahun kemudian.

"Setelah berjalan 10 tahun, tahun 2000 saya kumpulin foto-fotonya. Saya mau bikin buku. Ada yang mau nerbitin, nggak jadi. Ada lagi, nggak jadi. Akhirnya buku itu baru terbit tahun 2010. Foto awalnya tahun 90, foto akhirnya 2010," cerita Erik menyebut buku Estetika Banal yang kemudian banyak dijadikan pondasi dan pegangan streetphotography di Indonesia.

Buku tersebut kemudian berlanjut dalam seri yang beragam namun masih dalam seri streetphotography. Beberapa dibuat lebih mudah dengan seri tutorial atau tips dan trik memotret jalanan.

"Kalau orang mau bikin streetphotography ya ini standarnya. Kalau di atas ini berarti hebat, kalau di bawah ini berarti kurang kerja keras," tutup Erik lugas.

(Ari/rou)