Guttenfelder memang layak jadi yang terbaik. Ia mengisi sebagian besar galeri Instagramnya dengan potret kehidupan sehari-hari warga Korea Utara. Sebuah kesempatan langka, tak semua orang bisa mendapatkannya.
Keleluasannya dalam menjelajah wilayah yang menutup diri dari negara luar ini tak lain berkat pekerjaannya sebagai fotografer di kantor berita Associated Press (AP). Di sana ia menjabat sebagai AP Chief Asia Photographer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pelajar di Universitas Kim II Sung yang tengah membersihkan salju, anak-anak yang terlihat serius memainkan instrumen bass, hingga tentara-tentara Korea Utara yang melintas dengan kendaraan unik, semuanya mengajak kita untuk akhirnya bisa menelisik kehidupan seperti apa yang terjadi di sana.
"Tidak ada yang tahu apapun mengenai Korea Utara," ujar Guttenfelder seperti detikINET kutip dari majalah Time, Senin (23/12/2013). "Saya merasa ini adalah kesempatan besar dan tanggung jawab besar," tambahnya.

Baginya, Korea Utara bukanlah tempat dimana fotografer bisa menadapatkan foto jurnalistik yang baik dengan gampangnya. "Ini lebih tentang mengumpulkan semua bagian-bagian," paparnya. Nah, dari penyatuan kepingan-kepingan itulah, sesuatu yang menarik bisa muncul.
Di sela-sela menggali kehidupan di Korut, Guttenfelder juga menjelajah wilayah lain. Di akunnya, kita turut diajak melihat mimpi buruk yang dialami warga Filipina setelah topan Haiyan mengamuk.

Ketajaman mata Guttenfelder dan kelihaiannya menguasai kamera membuat jurnalis foto veteran ini tak hanya menjadi Instagrammer of the Year versi Time. Sebelumnya, ia juga pernah memboyong penghargaan bergengsi dari World Press Photo, bukan hanya sekali, melainkan tujuh kali.
(sha/rou)