Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Lomonesia: Menantang Arus Digital dengan Kamera Analog

Lomonesia: Menantang Arus Digital dengan Kamera Analog


- detikInet

Jakarta - Serbuan kamera digital yang menjanjikan semua serba cepat dan instan tak menyurutkan minat komunitas ini. Malah, gaungnya makin santer terdengar.

Lomonesia, komunitas kamera Lomo yang bisa dibilang unik karena 'senjata' yang mereka usung. Masih setia di analog, komunitas ini seakan menyeret pengguna kamera ke era di mana DSLR masih menjadi benda asing.

Berangkat dari kumpulan beberapa orang yang memiliki minat yang sama di dunia fotografi, Lomonesia terbentuk. Adalah Tommy Haryanto dan beberapa rekannya yang bertanggung jawab atas berdirinya Lomonesia di tahun 2004 setelah sebelumnya eksis di milis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita adalah komunitas resmi yang diakui Lomography pusat," tutur Satria Ramadhan, sosok yang sudah lama menggeluti kamera ini sekaligus menjadi Project Manager Lomonesia.
Β 


Kamera Lomo sendiri dilahirkan oleh perusahaan Leningradskoye Optiko-Mechanichesckoye Obyedinenie (LOMO). Perusahaan yang berbasis di Rusia tersebut dulunya dikenal sebagai vendor lensa untuk alat-alat kesehatan, alat-alat persenjataan, dan lensa kamera.

Lupakan proses ala digital di mana pengguna kamera bisa langsung menikmati hasil bidikannya di layar LCD dan langsung menguploadnya ke PC. Lomo masih memakai roll film untuk pemakaiannya.

Untuk menikmati hasil bidikan, pengguna harus melalui proses cuci cetak. Dan inilah keunikan kamera asal negara beruang merah tersebut. Warna-warna yang dihasilkannya pun memiliki ciri yang khas. Wajar jika banyak media yang kerap memakai istilah foto 'bergaya lomo' di penulisan beritanya.

Meski sudah berdiri pada 5 Agustus 2004, diakui Satria bahwa komunitasnya ini baru disorot pada penghujung tahun 2009-2010. Kenapa? Hal ini terkait dengan pembukaan toko Lomo yang mereka lakukan.

"Sebelumnya kami gerilya di internet dan di Ak.sa.ra hingga akhirnya di tahun 2009 kami mendapat kepercayaan dari Lomography Asia Pasifik untuk membuka toko Lomography Embassy Store," jelas pria yang juga aktif di dunia musik ini.

Berbeda dengan fungsi toko pada umumnya, selain untuk penjualan kamera toko yang terletak di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan tersebut juga dijadikan gathering komunitas.

Bagi sebagain besar orang, komunitas ini mungkin belum dikenal. Namun jangan salah, bagi mereka yang bergelut di dunia fotografi, nama komunitas ini sudah sangat akrab. Selain memiliki semacam perwakilan di banyak kota besar di Indonesia, Lomonesia juga aktif menyelenggarakan acara. Pun juga, untuk di milisnya sendiri jumlah anggotanya sudah di angka ribuan.
Β 

(Kegiatan hunting Lomonesia)

"Kami memiliki kegiatan tahunan, juga gathering beberapa bulan sekali, lalu hunting dan ada beberapa pameran kecil serta 1 pameran besar," jelas Satria. Sempat juga mereka mengadakan hunting bareng di Singapura bersama komunitas Lomo dari berbagai negara.

Ya, keberadaan komunitas ini memang tidak hanya di Indonesia. Lomography memiliki wadahnya masing-masing di banyak negara dengan nama yang berbeda-beda. Di Singapura misalnya ia bernama Lomotion.

Lomography menjadi alternatif yang menyegarkan di tengah maraknya kamera digital dan tren aplikasi mobile yang menjagokan olah foto instan bergaya jadul. Memang, dibutuhkan tenaga ekstra untuk memakai kamera tersebut, namun inilah seninya.

Berikut contoh hasil bidikan Lomo.
Β 

Β 

Β 

Β 
(Foto: dokumentasi Lomonesia)
(sha/ash)







Hide Ads