Demo Besar-besaran Gegara Pakai WhatsApp Harus Bayar

FotoINET

Demo Besar-besaran Gegara Pakai WhatsApp Harus Bayar

Reuters - detikInet
Minggu, 20 Okt 2019 20:30 WIB

Jakarta - Pemberlakuan pajak untuk pengguna WhatsApp pun menuai protes keras di Lebanon.

Pemerintah Lebanon mengumumkan bahwa pengguna layanan WhatsApp, khususnya pemakai fitur panggilan suara, akan kena pajak. Hal itu langsung memicu munculnya demo besar-besaran. Foto: Reuters

Awalnya, pemerintah mengumumkan akan membebankan pajak sekitar USD 6 per bulan buat WhatsApp dan juga layanan lain yang punya fitur panggilan suara via internet termasuk Facebook Messenger dan Apple FaceTime. Foto: Reuters

WhatsApp sangat populer di Lebanon, digunakan oleh 84% orang dewasa di sana. Tercatat 98% kelompok usia di bawah 30 tahun menggunakan layanan milik Facebook tersebut. Foto: Reuters

Pemberlakuan pajak WhatsApp pun menuai protes keras. Bahkan demonstran di banyak tempat memblokir jalanan, membakar ban dan bentrok dengan aparat hingga gas air mata pun dilepaskan. Foto: Reuters

Pemerintah coba menarik keputusan pajak WhatsApp tapi sudah terlambat. Foto: Reuters

Lebanon memang sedang dilanda krisis ekonomi dan korupsi berlangsung masif sehingga rakyat kecewa. Penerapan pajak WhatsApp semakin menambah kemarahan mereka. Foto: Reuters

"Politisi membunuh kami. Semuanya mahal, tidak ada pekerjaan, tidak ada uang, tidak ada apapun," sebut seorang demonstran berusia 23 tahun, Khaled Dokmak. Foto: Reuters

"Kami berada di sini untuk segala hal, untuk bahan bakar, makanan, roti semuanya," kata demonstran yang lain, Abdullah. Foto: Reuters

Ribuan demonstran itu menuntut pemerintah untuk lengser karena dianggap tidak becus mengurus ekonomi dan disebut-sebut sebagai aksi terbesar di Lebanon sejak tahun 2015. Foto: Reuters

Saat demo makin membesar, Menteri Telekomunikasi Lebanon memutuskan pengenaan pajak WhatsApp batal. Foto: Reuters

Gas air mata dilepaskan aparat pada massa yang tidak mau bubar. Foto: Reuters

“Protes ini dipicu oleh rancana pajak layanan VoIP. Tapi itu adalah kulminasi beberapa hal seperti kurangnya makanan dan bahan bakar. Ada korupsi besar dan penyalahgunaan dan publik,” kata Diana Hodali, reporter Deutsche Welle. Foto: Reuters

(/)