Potret MRT di Korea Utara, Sudah Ada Sejak 1970-an

FotoINET

Potret MRT di Korea Utara, Sudah Ada Sejak 1970-an

istimewa - detikInet
Senin, 01 Apr 2019 11:50 WIB

Jakarta - Banyak warga di Korea Utara setiap harinya menggunakan MRT sebagai alat traportasi. Yuk kita intip bagaimana suasana MRT di negara tertutup tersebut.

MRT atau kereta bawah tanah di Korea Utara sudah dibangun sejak tahun 1970-an yang terdiri dari 16 stasiun. (Foto: Reuters)

Halte Metro pyongyang menjadi salah satu halte kereta bawah tanah terdalam di dunia hingga 110 meter.  (Foto: Reuters)

Halte yang dilapisi baja tebal ini juga merangkap sebagai tempat berlindung dari ledakan bom. (Foto: Reuters)

Eskalator yang sangat tinggi, butuh waktu empat menit untuk sampai ke bawah atau atas. Selama di eskalator, penumpang MRT akan didengarkan lagu kebangsaan Korut. (Foto: Reuters)

Interior dari stasiun kereta bawah tanah ini tampak mewah tapi juga sekaligus jadul. Terdapat banyak pilar yang dilapisi marmer, lalu lampu gantung, dan lukisan Kim Jong-il. (Foto: Reuters)

Kereta-kereta di Korut saat ini merupakan bekas dari Jerman yang dibeli pada akhir tahun 1990-an.  (Foto: Reuters)

Pada saat jam sibuk, kereta akan datang dan pergi setiap 2 menit sekali. (Foto: Reuters)

Di dalam stasiun, tidak ada iklan melainkan berita koran di mana isinya sudah diatur oleh negara.  (Foto: Reuters)

Bagi pelancong yang ingin merasakan MRT di Korut, hanya diizinkan untuk pergi ke stasiun tertentu. Itupun harus ditemain oleh pemandu. (Foto: Reuters)

Setiap gerbong kereta selalu ada potret Kim Il-Sung dan Kim Jong-Il, yang dibingkai lebih tebal di bagian atas untuk memberi kesan bahwa para mantan pemimpin ini sedang mengawasi. (Foto: Reuters)

Lukisan jadul tampak menghiasi kaca gerbong MRT di Korut. (Foto: Reuters)

Tampak para warga antre di eskalator. (Foto: Reuters)

Turis asal Australia, Elliot Davies mengatakan kepada National Geographic "Setiap stasiun cukup banyak mencakup semua yang pemerintah benar-benar ingin orang-orang di Korea Utara mendengarkan." (Foto: Reuters)

“Seluruh perjalanan di Korea Utara bersifat politis, di mana mereka ingin Anda keluar dari sisi lain dan menjadi seperti,‘ Anda tahu apa? Korea Utara tidak seburuk itu!" tambahnya. (Foto: Reuters)

Seorang warga menunjukkan simbol peace di jarinya. Foto: Reuters

(/)