Game khusus ini bernama 'Shoot/No Shoot'. Dalam game tersebut, polisi dituntut untuk dapat mengambil keputusan yang tepat. Seperti ketika dalam keadaan mendekati seorang pria yang sedang mencari sesuatu di bagasi mobil. Lalu tiba-tiba pria tersebut berbalik dan si polisi harus bisa membaca situasi dan mengambil keputusan yang tepat dan cepat, apakah menembak orang tersebut, mengeluarkan tembakan peringatan ataupun memutuskan tidak menembak.
Game ini bertujuan untuk mengidentifikasi siapa petugas yang panik dalam situasi yang menegangkan seperti ini. Mahasiswa PhD, Paul Robertson, mengklaim bahwa game ini tak seperti game tembak-tembakan lainnya. "Game ini lebih realistis dan berfokus pada keputusan akhir yang diambil, apakah menarik pelatuk pistol atau tidak," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr James Bown, dosen di Abertay University menjelaskan bahwa karakter dalam game tersebut memiliki kecerdasan buatan, sehingga dapat merespon perintah suara, membalas tembakan saat pemain salah menembak ataupun tiba-tiba menyerah atau melarikan diri.
Dr Patrick Cronin yang juga terlibat dalam proyek ini menambahkan, mengambil keputusan untuk menembak atau tidak merupakan saat yang sulit, karena masing-masing memiliki konsekuensi sendiri. Game ini berfokus pada mekanisme psikologi di balik pengambilan keputusan.
"Misalnya, jika seorang polisi mengambil keputusan yang salah, imbasnya bisa merugikan diri sendiri, keluarga, bahkan mungkin bisa masuk penjara," tandas Cronin, seperti dikutip detikINET dari BBC, Kamis (22/5/2008).
Namun, sebelum digunakan untuk melatih para penegak hukum, game ini akan diuji terlebih dahulu oleh Home Office Scientific Development Branch (HOSDB) untuk ditinjau keandalannya.
Hobi nge-game juga? Gabung saja di detikINET Forum!
(faw/ash)