Menurut Mari, penerapan e-government (e-Gov) yang dipelajarinya dalam GLF sebelumnya terlihat mudah dalam teori. Namun prakteknya di Indonesia ternyata sulit. "Dalam GLF di New Delhi, India, saya banyak belajar. Tapi saat implementasi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan," papar Mari.
Ia mencontohkan, saat membuat sisi depan (front office) cenderung lebih mudah. "Kami seperti bank. Pegawai negeri diberi seragam, lingkungan (fisik) dibuat menarik dan nyaman," tuturnya.
Namun kemudian saat hendak menerapkan back office-nya, Mari mengakui pemerintah mengalami banyak kesulitan. "Mungkin ini yang keempat kalinya Indonesia berusaha menerapkannya, dengan empat konsultan yang berbeda, dan akhirnya semua itu kita 'campakkan'," ujar Mari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mencontohkan aplikasi National Single Window akhirnya bisa terlaksana akibat adanya deadline ASEAN Single Window. Itu pun sempat membutuhkan waktu 12 bulan hanya untuk mengumpulkan 35 organisasi pemerintah yang terlibat untuk berdiskusi.
Hal lain yang juga sulit bagi pemerintah menurut Mari adalah keharusan merawat, melakukan pengawasan serta mengukur keberhasilan secara independen. Semua itu disebutnya asing bagi orang-orang di pemerintahan. "Ternyata, kuncinya adalah kesabaran," Mari menambahkan.
Hari kedua GLF akan menghadirkan Bill Gates sebagai salah satu pembicara. Apa pendapat Anda? Diskusikan di detikINET Forum. (wsh/wsh)