Google dilaporkan secara ilegal menebang sekitar 250.000 pohon di Finlandia untuk membangun sebuah data center, menyisakan lahan lumpur gersang yang memaksa kawanan serigala masuk permukiman untuk mencari makanan dan membuat marah penduduk setempat.
Raksasa teknologi itu membabat 816 ekar hutan di Finlandia Utara. Google dituduh menebang pohon dan membuka lahan sebelum mendapat persetujuan penuh, mengingat hukum Finlandia mewajibkan perusahaan menyelesaikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebelum operasi skala besar.
Para pejabat Finlandia, yang marah atas perusakan massal tersebut, menangguhkan seluruh pembangunan di dua lokasi data center Google untuk menilai dampak lingkungannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Operasi berlangsung dekat kota pedesaan Muhos. Foto dari lokasi memperlihatkan lahan tandus penuh jejak ban, genangan lumpur, dan gundukan tanah. Penebangan pohon di area tersebut menghancurkan satwa di hutan, membuat predator seperti serigala mencari makanan lebih dekat ke permukiman di desa Otanmaki, 80 km dari lokasi.
"Ada kawanan serigala masuk desa kami karena semua hewan liar pindah dari hutan. Mereka kabur. Hal lain yang membuat saya khawatir tentang data center ini adalah kebisingannya karena tanah di sini adalah batuan keras," ungkap warga bernama Anni Ranta pada Guardian.
Penduduk yang marah mengecam Google, meminta pertanggungjawaban dari perusahaan tersebut untuk mengganti kerugian masyarakat. "Ini dilakukan dengan cara yang salah. Gaya Amerika. Tidak masuk akal," kata penduduk Muhos, Antti Jakonen.
"Saya sama sekali tidak ingin mereka ada di Finlandia. Saya tidak suka keseluruhan ide tentang AI dan dunia yang berubah serta bagaimana cara perubahannya. Ini berjalan terlalu cepat, terlalu dini," imbuh Ranta.
Dua lokasi proyek Google di Finlandia merupakan bagian dari investasi infrastruktur AI senilai USD 15 miliar di negara Nordik tersebut, yang diumumkan bulan September.
Badan Perizinan dan Pengawasan Finlandia memberi tenggat waktu pada anak perusahaan proyek Google, Tuike Finland Oy, hingga 23 Oktober untuk menangguhkan seluruh operasi.
Penebangan pohon-pohon tersebut menyebabkan sumber air yang mengalir di dekat lokasi berubah warna menjadi cokelat dan mencemari aliran sungai yang bermuara ke Sungai Oulujoki.
Pimpinan tertinggi Google di Finlandia, Antti Jarvinen, mengklaim telah memiliki persetujuan legislatif untuk memulai penebangan pohon berskala besar tersebut. Penjelasan Jarvinen dikecam sebagai arogansi.
"Mereka membeli lahan luas dan langsung menebanginya begitu saja. Ini murni arogansi dan sangat mencengangkan," ujar kepala Finnish Association for Nature Conservation (SLL) Hanna Halmeenpaa.
Para penentang meyakini Google terburu-buru membangun kompleks tersebut sebelum UU di Finlandia dapat mengejar kemajuan AI untuk menerapkan peraturan yang memadai. Jarvinen akhirnya meminta maaf atas kerusakan tersebut dan menyatakan akan berupaya melindungi sumber air sebelum menanam kembali pohon.
"Saya heran mengapa kita harus mengorbankan begitu banyak alam kita. Mereka menyerahkan semuanya dengan terlalu mudah," kata ahli konservasi Vesa Hyyrylainen yang dikutip detikINET dari NY Post.