Rivalitas Indonesia dan Malaysia di media sosial setelah Timnas Indonesia memastikan tiket ke final FIFA ASEAN Cup 2026 sepertinya belum berkesudahan. Sayangnya, adu komentar yang awalnya berkaitan dengan sepakbola mulai melebar ke isu ras, sejarah, hingga keberadaan Indonesia sebagai sebuah negara.
Sejumlah unggahan bernada provokatif dari warganet Malaysia beredar dan kemudian dikumpulkan ulang oleh akun X @SatirNesia. Salah satu yang ramai disorot menampilkan peta Asia Tenggara dengan wilayah Indonesia dihilangkan.
"Hidup berdampingan dengan negara-negara lain tanpa perlu sibuk bergaduh atau cari pasal," tulis akun tersebut sembari menyertakan bendera Malaysia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unggahan itu sontak memancing respons warganet Indonesia. Ada yang membalasnya dengan mengingatkan posisi geografis Indonesia, khususnya Pulau Sumatera, ketika tsunami Samudra Hindia menerjang pada 2004.
"Pulau yang engkau hapus tu sudah menjadi buffer zone raksasa yang menahan, meredam, dan membelokkan sebagian besar energi gelombang tsunami," tulis salah seorang warganet.
Perlu dicatat, klaim bahwa Sumatera secara langsung "menahan sebagian besar" energi tsunami 2004 merupakan penyederhanaan dan tidak disertai sumber ilmiah dalam unggahan tersebut.
Candaan Frans Kaisiepo Ikut Disorot
Unggahan lain yang memancing reaksi memperlihatkan uang pecahan Rp10.000 bergambar pahlawan nasional Frans Kaisiepo. Penampilan Kaisiepo dalam uang tersebut dibandingkan dengan karakter Thanos dari Marvel.
"Dah la Malaysia jom kita balik. Diorang ada Thanos do," tulis akun tersebut.
Balasan dari warganet Indonesia kemudian menjelaskan siapa sosok yang berada di uang Rp10.000 itu.
"Ya betul, itu Thanos kami. Nama dia Frans Kaisiepo, pahlawan nasional dari Papua," tulis seorang pengguna Threads.
Frans Kaisiepo memang merupakan pahlawan nasional asal Papua dan dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah integrasi Papua ke Indonesia. Namanya juga diabadikan sebagai nama Bandar Udara Internasional Frans Kaisiepo di Biak.
Rangkaian unggahan tersebut kemudian jadi perbincangan warganet.
"Gatau malu rendahin pahlawan Indo sambil pamerin punya mereka. Pdhl mereka mah merdeka aja hasil dikasi (jalur diplomasi dan perundingan) bkn perjuangan perang berdarahΒ² kyk kita. Blm lg kelakuan mereka petantang-petenteng strong passport. SG yg duluan & stronger aja bersahaja," ucap @pengenliatbayi.
"Parah kali sampai bawa bawa pahlawan. Secara gak langsung udah malah jatuhnya kayak rasi," kata @mimosmei_bigwin.
"Dari kemarin gak ikut nimbrung dgn keributan ini. Kali ini aku udh sebel banget gak bisa ditoleransi kalo udh menghina sosok penting kek pahlawan. Mana ada merendahkan bendera merah putih jga, gila bener tingkahnya!" tulis @sakiaa01.
"Orang Malaysia ngapain sih masih kesel gara2 bola kemarin? Paspor mereka nomor 2 terkuat didunia, Presiden mereka bukan Prabowo, Wapres mereka bukan Gibran. Indonesia menang bola, mereka menang dalam kehidupan. Udah lah," ujar @rezatalks.
"Cuma gara gara bola baper nya kemana mana π€£π€£ Indonesia ini cuma lolos doang ke final lho bukan juara tapi netizen Malaysia ini udah pada ngamuk dan bahas kemana mana.... Ga kebayang kalo besok indo juara bisa gila kali mereka π€£π€£π€£π€£π€£" kata @Hari_shevchenko.
Namun sejumlah warganet Malaysia mengungkap postingan berbau rasis ini sebagai balasan dari unggahan sejenis yang dilakukan netizen Indonesia. Salah satunya yang mengedit foto salah satu sultan asal Negeri Jiran.
"Too much???? Kalian yg edit FOTO sultan kami duluan... Trus kalau sampai mainan kalian adalah sultan apa itu baik2 saja?????? Sultan lho sultan bukan perdana menteri / presiden," kata @HisPunya.
"well u make fun of our sultan the one who protect our religion and our country, so? whos in the wrong . We don`t argue about football first , u guys did become weirdly possessed in stadium and suddenly bash our footballers not enough u did to our Agong," tulis @iliyabasyar.
Panasnya percakapan ini muncul setelah Malaysia gagal secara dramatis melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026. Harimau Malaya sebenarnya menang telak 6-0 atas Singapura pada pertandingan terakhir Grup A.
Namun pada pertandingan lain, Indonesia mengalahkan Bangladesh 9-2. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi tujuh poin dengan selisih gol +9, tetapi Garuda unggul produktivitas gol, 11 berbanding sembilan, sehingga berhak melaju ke final.
Di sisi lain, persaingan sepakbola semestinya tidak menjadi pembenaran untuk membawa-bawa ras, etnis maupun asal negara. X sendiri melarang serangan terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan ras, etnis dan asal negara, termasuk penghinaan yang merendahkan serta konten dehumanisasi.
(afr/afr)

