×
Ad

Kekhawatiran Kawanan AI Bisa Rebut Internet, Ini Kata Pakar

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 01 Okt 2026 16:15 WIB
Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto
Jakarta -

Dalam pidato di 1951, matematikawan tenar Inggris Alan Turing berteori bahwa mesin cerdas suatu saat berpotensi mengambil alih kendali masyarakat.

"Akan ada banyak hal harus dilakukan dalam upaya misalnya, menjaga kecerdasan kita agar tetap setara dengan standar yang ditetapkan mesin. Sebab, sangat mungkin bahwa begitu metode mesin berpikir ini dimulai, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melampaui kemampuan kita yang lemah," ujar Turing, yang dikenal karena perannya memecahkan kode Enigma Nazi pada Perang Dunia II.

Di saat mesin berpotensi berada di ambang kecerdasan super, CEO Anthropic, Dario Amodei, baru-baru ini menghidupkan kembali ketakutan masa lalu tersebut ke konteks saat ini dengan memperingatkan kawanan AI mungkin akan mengambil alih kendali internet. Namun kenyataannya tak semudah itu.

Alasan utama ilmuwan komputer menepis kekhawatiran bahwa AI dapat merebut kendali web dari manusia adalah karena internet tidak bersifat monolitik, melainkan terdiri dari sistem jaringan luas yang saling terhubung.

"Internet adalah jaringan dari berbagai jaringan tempat miliaran perangkat terhubung melalui router, switch, dan titik akses Wi-Fi," kata Vishal Misra, pakar komputasi dan AI di Columbia University.

"Keberagaman tersebut adalah sebuah pertahanan. Tidak ada sakelar pusat yang bisa dimatikan, dan tidak ada satu sistem operasi tunggal yang bisa disusupi," jelasnya yang dikutip detikINET dari CBS.

AI juga akan membutuhkan daya komputasi luar biasa besar untuk bisa mengambil alih internet dalam skala besar. Itu dikatakan John Thickstun, ilmuwan komputer sekaligus pakar pembelajaran AI di Cornell University,

Daya komputasi tersebut memerlukan akses ke semikonduktor tingkat lanjut guna melakukan berbagai perhitungan rumit dan mengeksekusi tugas lainnya. Sementara itu, ketersediaan chip ini sangat terbatas.

"Agen-agen AI yang beroperasi di dunia maya harus mencari cara untuk mendapatkannya," ujar Thickstun. AI akan tetap membutuhkan bantuan manusia untuk bisa meningkatkan aksesnya terhadap sumber daya komputasi secara signifikan.

Tentu kelompok kriminal yang memiliki akses ke model AI terbaru dapat jadi ancaman. Namun, mereka juga dibatasi jumlah daya komputasi untuk agen AI. Bahaya baru nyata jika pelaku kejahatan punya akses memadai ke sumber daya komputasi khusus dalam waktu cukup lama.

Ketika AI Lepas Kendali

Ketakutan AI berpotensi merebut kendali internet dan bahwa suatu hari bisa memusnahkan umat manusia tidak sepenuhnya salah, tapi saat ini masih belum bisa dipastikan. Di sisi lain, kekhawatiran semacam itu mengaburkan ancaman yang lebih nyata dari AI.

Seperti yang terlihat pada serangan di bulan Juli oleh bot OpenAI terhadap platform Hugging Face serta insiden lain di mana agen AI lepas kendali, kecerdasan buatan menunjukkan kemampuan mengkhawatirkan dalam mengeksploitasi kelemahan keamanan online.

Dalam serangan Hugging Face, agen-agen AI berhasil keluar dari lingkungan pengujian yang seharusnya terisolasi dari internet. Mereka berkolaborasi menggunakan papan pesan rahasia dan melumpuhkan pertahanan Hugging Face.

Insiden serupa dengan skala yang lebih luas masih bisa menyebabkan gangguan serius tanpa perlu membahayakan internet secara keseluruhan. Dengan kata lain, AI mampu mengacaukan masyarakat dengan berbagai cara tanpa harus mencapai skenario kiamat.

Contohnya, kawanan agen AI ini dapat mencuri uang, meretas identitas, memanipulasi pasar keuangan, serta mengganggu sistem kelistrikan dan komunikasi. "Tidak seperti hacker manusia, jutaan agen AI dapat mengoordinasikan serangan secara serentak, 24 jam nonstop," ujar Roman Yampolskiy, pakar keselamatan AI.

AI bisa melancarkan serangan siber yang memicu gangguan luas pada internet. "AI akan lebih pintar dan lebih cerdik dari kita. AI akan memikirkan cara untuk mencapai tujuannya. Kita memang tak tahu bagaimana caranya, tapi itu pasti akan terjadi," kata Matt Chessen, pakar di Center for the Geopolitics of Artificial General Intelligence.



Simak Video "Video: Luapan Kekhawatiran Peraih Nobel Fisika soal Hasil Risetnya"

(fyk/fyk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork