×
Ad

Cara Kerja Water Bombing, Jatuhkan 4.000 Liter Air ke Titik Api

Adi Fida Rahman - detikInet
Selasa, 22 Sep 2026 07:45 WIB
Cara Kerja Water Bombing, Jatuhkan 4.000 Liter Air ke Titik Api Foto: Nur Hadi Wicaksono/detikJatim
Jakarta -

Pemandangan helikopter terbang membawa kantong air raksasa lalu menumpahkannya ke lokasi kebakaran kerap terlihat saat operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Teknik yang dikenal sebagai water bombing ini ternyata bukan sekadar membawa air lalu menjatuhkannya dari udara.

Helikopter harus mengambil air, terbang menuju lokasi kebakaran, menentukan titik sasaran, lalu melepaskan muatannya pada saat yang tepat. Dalam sekali penjatuhan, jumlah air yang dibawa bahkan bisa mencapai ribuan liter.

BNPB menggunakan berbagai jenis helikopter untuk operasi water bombing. Salah satunya MI-8AMT yang memiliki kapasitas angkut air hingga 4.000 liter atau sekitar empat ton dalam sekali pengambilan.

Helikopter biasanya menggunakan wadah air yang digantung menggunakan kabel di bawah badan pesawat. Sistem semacam ini memungkinkan pilot mengambil air dari sumber seperti danau, sungai, atau waduk tanpa perlu mendarat.

Helikopter terbang rendah di atas sumber air dan menurunkan wadah tersebut hingga terendam. Setelah terisi, wadah diangkat dan helikopter langsung terbang menuju titik kebakaran.

Bagian yang tak kalah menantang adalah menjatuhkan air ke sasaran. Pilot harus memperhitungkan lokasi titik api dan kondisi penerbangan agar air dilepaskan di area yang dibutuhkan. Faktor seperti angin juga menjadi tantangan karena dapat mempercepat penyebaran kebakaran. BNPB menggunakan patroli udara untuk menemukan titik api sebelum operasi water bombing dilakukan.

Helikopter water bombing saat manuver pemadaman karhutla di Jambi Foto: (Foto: Istimewa/ Satgas Karhutla Jambi)

Skala operasinya bisa sangat besar. Dalam operasi karhutla di Kalimantan Selatan yang dilaporkan BNPB pada Agustus 2026, satu helikopter Super Puma melakukan 245 kali penjatuhan dengan total sekitar 980.000 liter air.

Artinya, rata-rata sekitar 4.000 liter air dijatuhkan dalam setiap drop. Helikopter MI-8 dalam operasi yang sama melakukan 57 kali penjatuhan dengan total sekitar 228.000 liter, sedangkan Black Hawk melakukan 82 kali drop dengan total sekitar 328.000 liter.

Namun menjatuhkan ribuan liter air dari udara tidak berarti api otomatis padam.

Di Teluk Bintuni, Papua Barat, misalnya, BNPB mengungkap rapatnya pepohonan menjadi tantangan water bombing. Air yang dijatuhkan dari helikopter tidak selalu langsung mencapai permukaan tanah atau material yang terbakar karena tertahan vegetasi.

Karena itu, water bombing terutama berguna untuk menjangkau lokasi yang sulit dicapai melalui jalur darat dan menekan titik api tertentu. BNPB menegaskan penanganan karhutla tidak dapat sepenuhnya mengandalkan helikopter karena jangkauannya terbatas dan biaya operasionalnya besar.

Operasi udara pun tetap dikombinasikan dengan pemadaman oleh tim darat serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), terutama ketika kebakaran terjadi di kawasan luas dan lahan gambut.



Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"

(afr/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork