Memotret orangutan, burung hingga monyet kini bisa menghasilkan uang bagi warga di sejumlah desa di Kalimantan Barat. Lewat program konservasi KehatiKu, warga dibayar untuk memotret atau merekam suara satwa liar tanpa perlu menangkapnya.
Bayarannya mulai dari Rp 5.000 untuk pengamatan burung umum hingga Rp 130.000 untuk orangutan yang terancam punah. Peserta paling aktif bahkan bisa mengantongi hingga Rp 10 juta per bulan.
Program yang dijalankan konsultan lingkungan Borneo Futures ini punya tujuan sederhana tetapi menarik: membuat satwa liar lebih bernilai ketika tetap hidup di alam dibandingkan ketika diburu dan dijual.
Pendekatan tersebut sekaligus memberikan sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat dan menghasilkan data mengenai persebaran serta perubahan populasi satwa liar.
Salah satu pesertanya adalah Octavius. Pria berusia 50 tahun itu menjelajahi hutan dengan sepatu bot dan smartphone yang dilengkapi lensa telefoto untuk mencari orangutan, monyet hingga burung.
Penghasilan tambahan tersebut sangat membantu keluarganya, termasuk untuk membayar biaya kuliah anak-anak.
Pada September, Octavius bersama puluhan warga berkumpul di kantor kecil di Desa Labian untuk menerima pembayaran bulanan. Saat itu ia memperoleh Rp 4 juta.
"Ini pekerjaan sampingan, tidak mengganggu" pekerjaan bertani, kata Octavius kepada AFP.
Ia bahkan tidak harus selalu secara khusus masuk hutan untuk mencari satwa. Ketika warga sedang mengumpulkan daun kratom, misalnya, mereka kerap mendengar suara burung.
Jika satwa terlihat, mereka mengambil foto. Jika tidak memungkinkan, suara burung dapat direkam untuk kemudian dikirimkan sebagai bukti pengamatan.
Dari Berburu Jadi Memotret Satwa
KehatiKu dimulai sekitar dua tahun lalu dan kini melibatkan masyarakat di sembilan desa di Kalimantan Barat. Sebagian besar peserta merupakan petani kecil yang menanam padi, kakao, durian hingga kratom.
Sebelumnya, sebagian masyarakat memperoleh uang dengan menangkap burung liar untuk kemudian dijual, terutama kepada pembeli di dalam negeri.
KehatiKu mencoba mengubah perhitungan ekonominya.
"Orang-orang mulai menyadari bahwa sebelumnya mereka menangkap satu burung dan nilainya Rp 50.000, sekarang mereka hanya perlu mengambil foto, mengirimkannya kepada kami, dan mereka bisa menerima pembayaran Rp 5.000 hingga Rp 10.000," kata Direktur Borneo Futures Indonesia Nardiyono kepada AFP.
Menurutnya, jika warga berhasil mendapatkan beberapa foto, pendapatannya bisa menyamai hasil menjual seekor burung. Bedanya, burung tersebut tetap hidup di habitatnya, dapat berkembang biak dan berpotensi kembali diamati.
Perubahan tersebut mulai menghasilkan dampak. Dua desa peserta secara sukarela memberlakukan larangan berburu sejak program berjalan.
Simak Video "Menikmati Waktu Bersantai di Kolam Renang Penginapan di Kalimantan "
(afr/afr)