Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Drone Rusia yang Disetir AI Jadi Algojo Mengerikan di Ukraina

Drone Rusia yang Disetir AI Jadi Algojo Mengerikan di Ukraina


Fino Yurio Kristo - detikInet

A photograph taken on December 27, 2025, shows an Iranian-designed Shahed 136 (Geranium-2) drone used by the Russian Army flying over Kyiv during a Russian drone and missile attack, amid the Russian invasion in Ukraine. (Sergei Supinsky/AFP)
Ilustrasi drone Rusia. Foto: dok. Sergei Supinsky/AFP
Jakarta -

Rusia dilaporkan menggunakan drone yang dikendalikan AI untuk membunuh warga tak berdosa di Ukraina. Sejumlah komandan militer dan pakar forensik Ukraina mengungkap ke New York Times bahwa drone Rusia yang sepenuhnya otonom, dipiloti sistem AI eksperimental, menarget warga di Zaporizhzhia, kota di tenggara Ukraina.

Salah satu drone tersebut mampu memilih target presisi yaitu tangki-tangki propana di dekat sebuah pom bensin, lalu menyerangnya.

Implikasi dari penggunaan senjata mematikan yang dipandu oleh mesin otonom di medan perang ini sangatlah mengerikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini adalah risiko bagi seluruh dunia. Dalam beberapa tahun ke depan, kita akan hidup layaknya di film 'Terminator'. Ini bukan lelucon. Mesin yang membuat keputusan untuk menyerang," cetus komandan pertahanan udara Zaporizhzhia, Serhiy Minaiev, kepada NYT.

Pakar forensik menemukan komputer mini di dalam drone, yang dikembangkan produsen chip AI Nvidia, yang memungkinkan drone mengidentifikasi targetnya sendiri. Modul chip AI yang dikenal sebagai Jetson Orin tersebut, pada dasarnya ditujukan untuk digunakan oleh mahasiswa robotika dan untuk aplikasi komputasi luar angkasa.

ADVERTISEMENT

Para pejabat militer menyatakan drone tersebut tak memiliki antena sama sekali dan tidak memancarkan frekuensi radio apa pun, yang menepis kemungkinan bahwa pesawat tersebut dipiloti dari jarak jauh oleh tentara Rusia.

Meskipun NYT mencatat bahwa ketiadaan antena tidak secara langsung membuktikan drone tersebut sepenuhnya dikendalikan AI, sistem autopilot yang lebih konvensional takkan membutuhkan chip AI buatan Nvidia.

Drone otonom tersebut menggunakan sistem kamera berpemandu AI untuk mengenali target. Ini merupakan peningkatan dari sistem drone dengan bantuan AI yang ada saat ini, yang menggunakan teknologi tersebut sekadar untuk mengunci target yang dipilih sebelumnya oleh pilot manusia dari jarak jauh.

Implikasi etis dari adanya drone yang digerakkan algoritma machine learning atau robot pembunuh yang menarget warga sipil tanpa adanya campur tangan manusia sama sekali ini dinilai sangat mengerikan. Praktik ini lama dikecam keras berbagai kelompok hak asasi internasional, termasuk PBB dan Palang Merah.

Dalam sebuah pernyataan bersama, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres dan Presiden Palang Merah Internasional Mirjana Spoljaric Egger menyampaikan pesan terkait fenomena itu.

"Kita kini berada dalam jarak yang sangat berbahaya untuk melewati batas merah moral: penargetan manusia secara otonom oleh mesin," ujar mereka yang dikutip detikINET dari Futurism.



(fyk/fay)




Hide Ads