Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Karyawan Teknologi Silicon Valley Hilang dalam Tragedi Banjir Nepal

Karyawan Teknologi Silicon Valley Hilang dalam Tragedi Banjir Nepal


Fino Yurio Kristo - detikInet

Warga berjalan di tengah lumpur dan puing-puing rumah yang runtuh akibat tanah longsor dan banjir bandang di wilayah dekat perbatasan Nepal-Tiongkok, di Nuwakot, Nepal, pada 28 Agustus 2026. ANTARA/Daniel Ceng - Anadolu Agency /pri.
Foto: Warga berjalan di tengah lumpur dan puing-puing rumah yang runtuh akibat tanah longsor dan banjir bandang di wilayah dekat perbatasan Nepal-Tiongkok, di Nuwakot, Nepal, pada 28 Agustus 2026. ANTARA/Daniel Ceng - Anadolu Agency /pri.
Jakarta -

Seorang pekerja teknologi asal kawasan Bay Area termasuk di antara puluhan warga Amerika Serikat yang masih hilang sampai saat ini, setelah banjir bandang dahsyat di Nepal pada hari Rabu menewaskan ratusan orang dan menyebabkan ribuan lainnya belum ditemukan.

Otoritas Nepal merilis daftar nama awal 65 warga negara AS yang hilang, termasuk Prabhath Sajeepa yang berusia 48 tahun. Menurut profil di LinkedIn, Sajeepa telah bekerja sebagai pimpinan teknis (engineering leader) di Pure Storage, sebuah perusahaan penyimpanan data yang berbasis di Santa Clara, California, sejak tahun 2016.

Sebelumnya, ia bekerja di perusahaan raksasa teknologi Cisco. Keponakannya mengatakan bahwa Sajeepa aktif di Isha Foundation selama beberapa tahun, sebuah organisasi spiritual nirlaba yang menawarkan program yoga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keponakannya yang bernama Kavya Koulagi Jayatheertha menyebutkan bahwa rombongan yang berafiliasi dengan yayasan tersebut memang sedang melakukan perjalanan di kawasan yang terdampak. Delapan puluh anggota rombongan, termasuk 22 orang dari AS, hingga kini masih dinyatakan hilang.

"Situasi ini sungguh mengerikan. Saya harap ia berada di tempat yang aman," harap sang keponakan yang dikutip detikINET dari NY Post.

ADVERTISEMENT

Jaggi Vasudev, pemimpin yayasan tersebut, mengunggah sebuah video yang menyampaikan bahwa rombongan itu sedang berada di dalam gedung imigrasi di Gyirong sesaat sebelum bangunan tersebut tersapu banjir dahsyat.

Pesan terakhir yang ia terima dari ketua rombongan dikirim tepat sembilan menit sebelum banjir menerjang. "Ini adalah peristiwa yang sangat mengerikan dan di luar dugaan," ujar Vasudev.

Banjir bandang mengerikan tersebut diyakini dipicu ketika bagian bawah gletser patah dan jatuh dari ketinggian, lalu menghantam dasar lembah dan menciptakan longsoran es.



(fyk/fyk)




Hide Ads