Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Teknologi Ini Bisa Peringatkan Gempa Sebelum Guncangan Datang, Begini Caranya

Teknologi Ini Bisa Peringatkan Gempa Sebelum Guncangan Datang, Begini Caranya


Agus Tri Haryanto - detikInet

Warga melintas di dekat bangunan toko yang rusak akibat gempa di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Senin (17/8/2026). Wilayah yang tersebut menjadi salah satu titik di Kabupaten Manggarai yang paling terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 di NTT. ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/foc.
Warga melintas di dekat bangunan toko yang rusak akibat gempa di kawasan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT, Senin (17/8/2026). Foto: ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF
Jakarta -

Sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning (EEW) semakin banyak digunakan di berbagai negara untuk memberikan peringatan kepada masyarakat beberapa detik sebelum guncangan gempa tiba. Pemanfaatan teknologi tersebut penting digunakan di negara yang rawan bencana, seperti Indonesia yang berada di jalur Cincin Api (Ring of Fire).

Sebagai informasi, EEW merupakan bagian dari Early Warning System (EWS) khusus untuk mendeteksi gempa bumi dalam hitungan detik sebelum guncangan merusak tiba.

Sistem EEW ini menjadi perhatian setelah sejumlah gempa mengguncang berbagai wilayah, mulai dari California, Venezuela hingga Jepang. Jutaan orang menerima peringatan melalui ponsel yang memberi mereka waktu singkat untuk berlindung sebelum guncangan terjadi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), seperti dikutip dari Phys.org, Selasa (18/8/2026) sejumlah negara telah memiliki sistem EEW, di antaranya Amerika Serikat, Meksiko, Jepang, Turki, Rumania, China, Italia, dan Taiwan.

Venezuela yang beberapa waktu lalu diguncang gempa dahsyat berkekuatan 7,2 dan 7,5 diketahui belum memiliki EEW nasional. Akan tetapi, sebagian warga tetap menerima peringatan beberapa detik bahkan beberapa menit sebelum guncangan melalui sistem Google Android Earthquake Alerts.

Gempa bumi menghasilkan beberapa jenis gelombang. Gelombang P bergerak paling cepat dan menghasilkan getaran yang lebih kecil. Setelah itu muncul gelombang S yang lebih lambat dengan guncangan lebih berbahaya. Gelombang L datang paling akhir dan merupakan salah satu yang paling merusak.

Perbedaan kecepatan gelombang inilah yang memungkinkan sistem peringatan dini memberikan waktu kepada masyarakat sebelum guncangan yang lebih kuat tiba.

Sistem EEW pada umumnya menggunakan seismometer dan sensor lain untuk mendeteksi gelombang gempa. Data tersebut kemudian dikirim ke jaringan regional untuk menentukan lokasi awal dan perkiraan magnitudo gempa dalam hitungan detik.

Jika intensitas gempa diperkirakan mencapai ambang tertentu, sistem akan mengirimkan peringatan ke wilayah yang kemungkinan terdampak.

Sinyal elektronik yang digunakan untuk mendeteksi dan mengirimkan peringatan bergerak jauh lebih cepat dibandingkan gelombang seismik yang merambat melalui tanah. Oleh sebab itu, semakin jauh seseorang dari pusat gempa, semakin besar peluang mendapatkan waktu peringatan. Namun, waktu yang tersedia umumnya hanya beberapa detik.

Jepang menjadi salah satu negara dengan sistem peringatan gempa paling maju. Setelah gempa berkekuatan 9,0 dan tsunami melanda wilayah timur laut Jepang pada 2011, sistem peringatan gempa negara tersebut diperluas hingga mencakup dasar laut.

Japan's Seafloor Observation Network for Earthquakes and Tsunamis (S-Net) menggunakan ribuan mil kabel bawah laut dan sensor untuk memantau secara langsung zona subduksi lepas pantai tempat lempeng tektonik bertemu.

Sistem tersebut disebut sebagai salah satu sistem paling canggih di dunia. Kehadiran S-Net meningkatkan waktu peringatan gempa sekitar 20 detik dan membuat peringatan tsunami bisa diberikan hingga 20 menit lebih cepat.

Sementara itu, di Amerika Serikat bagian barat, USGS mengoperasikan ShakeAlert untuk California, Oregon, dan Washington. Sistem tersebut menyalurkan peringatan melalui berbagai kanal, termasuk aplikasi MyShake yang dikelola California.

USGS mencatat lebih dari 4 juta orang mendapatkan peringatan saat gempa California terjadi pada Juni 2026. Aplikasi MyShake sendiri telah mengirimkan 6,8 juta peringatan untuk 194 gempa sejak diluncurkan pada 2019.

Hal yang menjadi perhatian adalah sistem EEW tidak memprediksi kapan gempa akan terjadi karena bekerja setelah gempa mulai terjadi, dengan mendeteksi gelombang awal dan memperkirakan wilayah yang akan mengalami guncangan.

Kendati begitu, manfaat utama sistem tersebut adalah memberikan beberapa detik waktu tambahan agar masyarakat dapat mengambil tindakan keselamatan.

Peringatan gempa pada sejumlah sistem juga dilengkapi informasi tambahan, seperti perkiraan magnitudo dan jarak perangkat dari pusat gempa. Terlepas dari teknologi yang digunakan, pesan keselamatan yang diberikan tetap sama, yakni turun, berlindung, dan bertahan.



(agt/rns)




Hide Ads