Sangat mudah untuk menyadari kehadiran sebuah drone. Dengan baling-baling yang berputar dan bodi yang sering kali bongsor, perangkat ini biasanya sangat mudah terlihat.
Namun, para insinyur dari Northwestern University berhasil menciptakan sebuah drone yang jauh lebih sulit untuk dideteksi: Phantom Twist, sebuah prototipe yang berputar sangat cepat hingga wujudnya hanya terlihat seperti bayangan buram.
Bukan menggunakan kamuflase, panel transparan, atau material pembelok cahaya ala film fiksi ilmiah, Phantom Twist memanfaatkan efek motion blur (kabur akibat gerakan) dan keterbatasan penglihatan mata manusia, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (21/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengelabui Mata dengan Kecepatan
Bodi drone ini berputar antara 15 hingga 25 kali per detik. Kecepatan ekstrem ini memaksa mata manusia untuk merata-ratakan bagian yang bergerak dengan latar belakang apa pun yang ada di belakangnya. Pada kecepatan maksimum, pesawat nirawak ini hampir tidak terlihat dan hanya tampak sebagai noda samar di udara.
Tidak seperti quadcopter konvensional yang memiliki empat rotor yang mengelilingi bodi statis, Phantom Twist menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda:
- Rotor Tunggal: Drone ini hanya menggunakan satu motor dan satu baling-baling.
- Putaran Berlawanan: Baling-baling berputar ke satu arah, sementara bagian pesawat lainnya berputar ke arah yang berlawanan.
- Tanpa Titik Fokus: Desain ini hampir tidak menyisakan komponen statis yang bisa dikunci oleh fokus mata manusia.
Dirancang Menggunakan Kecerdasan Buatan
Menciptakan perangkat yang bisa tetap stabil saat terbang sekaligus sulit dilihat membutuhkan lebih dari sekadar menempelkan komponen ke rangka yang berputar. Tim peneliti memulai prosesnya dengan model komputasi yang menghasilkan sekitar 20.000 konfigurasi yang memungkinkan.
Algoritma AI dan optimisasi kemudian menata ulang posisi motor, baterai, papan sirkuit, penyeimbang (counterweight), dan bagian lainnya untuk menemukan desain yang menyeimbangkan performa penerbangan dengan tingkat visibilitas terendah.
Kandidat desain yang paling menjanjikan kemudian disimulasikan saat berputar dan ditumpangkan pada 100 latar belakang dunia nyata. Sebuah model persepsi yang dirancang untuk meniru penglihatan manusia memberikan skor seberapa mencolok masing-masing desain tersebut. Tim peneliti mempertahankan 500 desain yang paling tidak terlihat dan terus menyesuaikan tata letaknya hingga mencapai versi final.
Komponen-komponennya ditempatkan berjauhan pada ketinggian dan sudut yang berbeda, dengan banyak ruang kosong di antaranya. Hal ini mencegah bagian-bagian padat saling tumpang tindih saat berputar dan membentuk siluet gelap yang mudah dikenali. Menurut metrik visibilitas peneliti, Phantom Twist sekitar 10 kali lebih sulit untuk dilihat dibandingkan quadcopter dengan ukuran serupa.
Meski mengesankan, prototipe saat ini masih memiliki beberapa kelemahan yang harus disempurnakan:
- Sistem Pelacakan Eksternal: Drone ini masih bergantung pada sistem pelacakan optik eksternal, sehingga penggunaannya terbatas pada lingkungan yang terkendali.
- Komponen Terlihat: Kabel yang terbuka dan batang penyangga dari serat karbon masih terlihat sebagian.
- Masalah Suara: Yang terpenting, perangkat ini masih bersuara layaknya drone pada umumnya. Jadi, siapa pun yang gagal melihat wujud buramnya kemungkinan besar masih bisa mendengarnya.
Versi masa depan diharapkan dapat menggunakan sistem propulsi yang lebih senyap dan material yang lebih transparan.
Potensi aplikasi drone ini sangat luas, mulai dari mengamati satwa liar tanpa mengubah perilaku alami hewan, menyurvei lahan basah, hingga memeriksa infrastruktur dengan gangguan visual yang minim. Kamera yang dipasang pada bodi yang berputar juga berpotensi menangkap pandangan 360 derajat penuh untuk keperluan navigasi.

