Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AS Hadapi Realita Pahit, Bomber Siluman Tak Cukup Lawan Iran

AS Hadapi Realita Pahit, Bomber Siluman Tak Cukup Lawan Iran


Adi Fida Rahman - detikInet

B-21 Raider Bomber
AS Hadapi Realita Pahit, Bomber Siluman Tak Cukup Lawan Iran. Foto: via 19fortyfive
Jakarta -

Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran membuka satu fakta yang selama ini jarang disorot: kekuatan bomber siluman AS ternyata belum cukup untuk menghadapi perang modern yang semakin kompleks. Di balik dominasi teknologi militernya, Washington kini dihadapkan pada "realita pahit" soal keterbatasan armada.

Dalam operasi udara terbaru melawan Iran, Angkatan Udara AS harus mengandalkan kombinasi berbagai platform, mulai dari bomber lama seperti B-52 hingga pesawat siluman B-2 Spirit. Bahkan, sejumlah misi dilakukan dari jarak sangat jauh dengan durasi penerbangan lebih dari 30 jam demi menghindari sistem pertahanan udara Iran.

Situasi ini menegaskan satu hal penting: meski memiliki teknologi canggih, jumlah aset tempur strategis tetap menjadi faktor krusial dalam peperangan modern.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Sebagian besar serangan awal dilakukan menggunakan bomber B-52 Stratofortress dan B-1B Lancer dari jarak aman. Namun ketika stok Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) mulai menipis, AS terpaksa menggunakan munisi jarak pendek yang diluncurkan dari pesawat tempur seperti F-15E Strike Eagle dan F-35A Lightning II-yang justru meningkatkan risiko di medan tempur.

Bahkan, laporan menyebutkan ada pesawat yang rusak hingga jatuh di wilayah udara Iran. Ini mempertegas bahwa superioritas udara AS tidak sepenuhnya tercapai. Dalam kondisi seperti ini, hanya segelintir platform seperti B-2 Spirit yang terbukti mampu menembus pertahanan lawan dan kembali tanpa gangguan berarti.

Namun keandalan B-2 pun memiliki keterbatasan. Operasi intensif di awal konflik kemudian menurun, diduga karena biaya operasional yang sangat tinggi serta risiko besar dalam misi penetrasi. Hal ini semakin menegaskan kebutuhan akan generasi baru bomber siluman yang lebih canggih dan fleksibel.

B-21 Raider BomberB-21 Raider Bomber Foto: via 19fortyfive

Di sinilah B-21 Raider masuk sebagai harapan baru. Bomber generasi terbaru ini dirancang dengan teknologi siluman yang lebih unggul, arsitektur sistem terbuka, serta kemampuan untuk bertindak sebagai pusat komando udara yang mampu mengelola pertempuran secara real-time. B-21 bukan sekadar pembawa senjata, melainkan juga "otak" dalam jaringan peperangan modern.

Namun masalahnya bukan hanya soal teknologi, melainkan jumlah. Amerika Serikat saat ini menargetkan produksi sekitar 100 unit B-21 Raider untuk menggantikan armada lama seperti B-1B dan B-2. Pertanyaannya, apakah jumlah tersebut cukup?

Realitanya, tidak ada armada militer yang bisa beroperasi dalam kondisi 100 persen siap tempur. Sebagian pesawat selalu berada dalam fase perawatan, pelatihan, atau cadangan. Secara historis, hanya sekitar setengah hingga dua pertiga dari total armada yang benar-benar siap digunakan kapan saja. Artinya, dari 100 unit B-21, kemungkinan hanya sekitar 50 hingga 60 pesawat yang siap tempur secara global.

Jumlah itu menjadi sangat terbatas jika AS harus menghadapi konflik di lebih dari satu wilayah sekaligus, seperti di Timur Tengah dan Indo-Pasifik. Dalam skenario perang multi-front, margin kekuatan tersebut bisa terkikis dengan cepat.

B-21 Raider BomberB-21 Raider Bomber Foto: via 19fortyfive

Kondisi ini diperparah oleh perubahan karakter perang modern. Jika dulu konflik besar diasumsikan berlangsung singkat, kini justru sebaliknya. Perang cenderung berlangsung panjang, penuh atrisi, dan menguras sumber daya secara bertahap. Dalam situasi seperti ini, jumlah platform tempur menjadi sama pentingnya dengan kecanggihannya.

Militer AS sendiri mulai mengakui bahwa target 100 unit B-21 mungkin sudah tidak relevan dengan kondisi ancaman saat ini. Sejumlah pejabat dari US Strategic Command dan Air Force Global Strike Command bahkan menyebut angka tersebut sebagai asumsi lama yang perlu diperbarui.

Angka sekitar 145 unit B-21 mulai disebut sebagai kebutuhan yang lebih realistis, terutama jika dipadukan dengan armada bomber lain seperti B-52J yang telah dimodernisasi. Bahkan, beberapa analis menilai jumlah tersebut pun masih belum cukup untuk menghadapi dinamika geopolitik global yang terus berubah.

B-21 Raider BomberB-21 Raider Bomber Foto: via 19fortyfive

Di sisi lain, dari aspek industri, program B-21 justru berada dalam posisi yang relatif kuat. Produksinya berjalan sesuai jadwal dan bahkan berada di bawah proyeksi biaya awal-sesuatu yang jarang terjadi dalam proyek pertahanan skala besar. Infrastruktur manufaktur juga telah disiapkan untuk meningkatkan output jika diperlukan.

Dengan lanskap geopolitik yang semakin tidak menentu, AS kini dihadapkan pada dilema besar: apakah cukup mengandalkan keunggulan teknologi, atau harus memperbanyak armada demi menjaga dominasi militer global.

Jawabannya mulai terlihat jelas-dan tidak sepenuhnya nyaman bagi Washington. Demikian dilansir dari laman 19fortyfive.




(afr/afr)








Hide Ads