Jet tempur F-15E Strike Eagle menggunakan kursi lontar untuk menyelamatkan pilot saat terjadi kegagalan fatal. Seperti dilaporkan, dua pilot jet yang ditembak jatuh oleh rudal Iran melontarkan diri dari pesawat dan kemudian diselamatkan.
F-15E memakai sistem ACES II untuk mengevakuasi penerbang. Mengalami gaya gravitasi hingga 20 G, awak dilontarkan dalam urutan otomatis. Sebelum kursi logam berat dapat bergerak, peledak harus segera membuang kanopi F-15E yang masif untuk membuka jalur pelarian.
Karena Strike Eagle membawa dua awak, sebuah sekuenser (pengatur urutan) otomatis akan menembakkan kursi Perwira Sistem Senjata (Weapons System Officer) di belakang terlebih dahulu untuk mencegah tabrakan.
Menarik tuas pelontar akan memicu motor roket berbahan bakar padat mendorong kursi seberat sekitar 57 kg lurus ke atas. Akselerasi ekstrem ini membuat pilot terkena gaya gravitasi hampir 20 G, mengubah manusia seberat 90 kilogram menjadi proyektil seberat 1.800 kilogram selama sepersekian detik.
ACES II tidak mengandalkan urutan pengembangan parasut yang tetap. Sensor lingkungan bawaan terus-menerus menghitung kecepatan udara dan ketinggian dinamis dan memilih satu dari tiga mode operasi untuk memastikan parasut terbuka pada milidetik yang tepat.
Melontarkan diri pada kecepatan mendekati 960 km per jam menghantam pilot dengan tekanan udara kinetik yang sangat merusak, layaknya menabrak dinding beton. Untuk mencegah trauma anggota tubuh, penahan kaki otomatis langsung menarik kaki pilot agar merapat sejajar dengan kursi, sementara helm melindungi wajah.
Parasut penstabil kecil segera mengembang untuk menghentikan kursi agar tidak berputar kencang tak terkendali. Setelah perangkat tersebut turun di bawah ketinggian 3.000 meter, baut peledak akan mendorong kursi menjauh sehingga parasut utama dapat mengembang dengan aman tanpa terlilit.
Saat pilot perlahan turun, perlengkapan bertahan hidup yang ringkas otomatis terjatuh menggantung di bawah dengan sebuah tali untuk meredam gaya benturan yang keras saat menyentuh tanah. Sebuah suar pencari lokasi GPS terintegrasi secara bersamaan memancarkan sinyal marabahaya yang dienkripsi, yang menginisiasi misi pencarian dan penyelamatan.
"Anda selalu khawatir tentang kondisi penerbang dan awak pesawat, jika mereka harus melontarkan diri, karena pelontaran adalah salah satu pengalaman paling ekstrem yang bisa dialami tubuh manusia," jelas Matthew Buckley, pilot F-18 Hornet dalam 44 misi tempur di Irak. Menurutnya, tidak ada manusia diciptakan menahan gaya 10 hingga 20 G seketika.
Dikutip detikINET dari NY Post, memang ada alat simulasi kursi lontar yang brutal, tapi tak ada apa-apanya dibanding kejadian aslinya. Kolonel Angkatan Udara tersebut terluka parah, tapi masih berhasil menghindari pasukan musuh sambil bersembunyi di Pegunungan Zagros selama satu setengah hari sampai diselamatkan.
Meskipun tidak jelas cedera seperti apa yang dialaminya, Buckley menduga ia kemungkinan besar babak belur baik selama pelontaran atau setelah mendarat di medan yang terlihat tidak bersahabat.
Umumnya, kompresi dari proses pelontaran itu sendiri dapat menyebabkan hal-hal seperti cedera saraf tulang belakang. Dulu di masa-masa awal pertempuran udara, beberapa tentara akan kehilangan kaki atau telapak kaki karena tersangkut di kanopi atau di pedal kemudi saat pelontaran dipicu.
Asalkan sebagian besar tubuh penerbang berhasil keluar dari pesawat, pelontaran semacam itu akan dipuji sebagai keberhasilan. "Militer mendefinisikan pelontaran yang sukses ketika pilot menarik tuas pelontar. Kanopi terlepas, roket menembak, parasut terbuka. Apa yang terjadi pada pilotnya, itu di tangan Tuhan," tambahnya.
Simak Video 'Iran Sebut AS 'Gatot' Selamatkan Pilot: Trump Tak Kompeten!':
(fyk/rns)