Bak Psikiater, Komputer Bantu Atasi Fobia
- detikInet
London -
Sebuah program komputer bernama 'Fearfighter' diciptakan untuk mengatasi berbagai macam gangguan kejiwaan yang dialami orang-orang, seperti panik, depresi ringan, atau fobia. Dengan mengakses Fearfighter, seseorang akan menjalani terapi layaknya bertemu psikiater. Program ini didukung oleh National Health Service, sebuah lembaga pemerintahan Inggris yang menangani isu-isu kesehatan di masyarakat. Dalam beberapa kasus, terbukti program ini mampu mengatasi rasa takut berlebihan pada pasien penderita fobia maupun penyakit kejiwaan ringan lainnya. Bagaimana proses terapi yang dilakukan oleh program ini? Pengguna cukup mengaksesnya dari rumah setelah mendapatkan kode akses dari petugas kesehatan yang bersangkutan. Kemudian, program ini akan mengajukan pertanyaan terkait kondisi kejiwaan. Selain itu juga ada semacam game tempat pengguna bisa memilih reaksinya pada kondisi tertentu. Seperti dikutip detikINET dari AP, Jumat (5/10/2007), program terapi ini berlangsung dalam sepuluh minggu dengan sesi satu jam. Ini disebut lebih singkat daripada program terapi yang biasa dijalani masyarakat Inggris dengan psikiater manusia."Ide dari terapi ini adalah mengulangi terapi dasar yang dilakukan oleh psikiater. Pasien menceritakan masalahnya, lalu komputer menganalisis dan memberikan solusi," ujar Dr. Isaac Marks, profesor di King's College Institute of Psychiatry, London. Isaac juga merupakan konsultan pengembangan FearFighter. Dengan Fearfighter, pasien diajarkan cara untuk mencegah kepanikan mereka. Mereka juga dijari cara untuk menghilangkan ketakutannya. Pasien diajari untuk mengidentifikasi rasa panik, mencatat hal-hal yang membuat mereka takut. Mereka harus mempraktekkan, melalui simulasi, kemampuan mereka untuk mengantisipasi situasi tak nyaman yang mereka hadapi.Namun program ini tak akan sepenuhnya menggantikan psikiater dan tenaga pendukung lainnya. Masalah-masalah kejiwaan serius seperti hasrat bunuh diri, dan schizophrenia merupakan masalah yang terlalu kompleks bagi terapi online. Kasus-kasus tersebut membutuhkan kehadiran psikolog secara langsung. Selain itu, program komputer juga tidak diperbolehkan menulis resep. Sehingga untuk terapi yang membutuhkan obat-obatan, pengguna masih perlu menemui psikiater atau petugas kesehatan terkait. Studi yang dilakukan di Inggris, Amerika Serikat dan negara-negara lain melihat bahwa pasien terapi online mengalami kemajuan sama dengan jika melakukan terapi dengan manusia. Selain itu, dari segi biaya, penggunaan sistem online akan lebih murah.
(wsh/wsh)