Permainan Nenek Moyang Makin Laku di Internet
- detikInet
Tokyo -
Sebuah permainan nenek moyang rumpun Asia berpotensi jadi game online populer, menyusul ketertarikan perusahaan-perusahaan game mengembangkan jaringan permainan internasional. Langkah tersebut merupakan upaya menciptakan keterhubungan jutaan pemain, khususnya yang berasal dari kawasan Asia Timur.Go, demikian nama permainan tersebut dalam bahasa Jepang. Di Cina permainan tersebut dikenal dengan nama Wei Qi dan Baduk. Permainan tersebut lahir di Cina, dan telah dimainkan oleh orang Cina sejak 2000 tahun silam. Permainan tersebut kemudian berkembang menjadi permainan budaya yang meluas dan sarat dengan strategi-strategi yang cukup kompleks.Permainan strategi ini melibatkan dua orang pemain, masing-masing bertujuan memperluas area kekuasaan, dengan memainkan batu hitam dan putih yang ditempatkan pada papan yang terdiri dari 19 garis horisontal dan 19 garis vertikal. "Game ini memiliki sejarah panjang dan aturan permainan yang umum. Tidak ada sekat budaya dalam permainan ini," ujar Ryu Seung Yup, kepala dewan bisnis pada operator game NHN Corp. di Korea Selatan seperti dilansir News.com dan dikutip detikINET, Senin (12/2/2007).NHN yang menjalankan situs Go di Korea Selatan, Jepang dan Cina berencana untuk merilis sebuah platform global tahun ini.Dirilisnya game ini dalam permainan online merupakan upaya lain untuk membantu pemain menemukan partner bermain. "Banyak pemain telah menemukan partner internasional mereka di Cina, Jepang dan Thailand melalui situs game ini," ujar Yang Hyung-mo, juru bicara Korea Baduk Association. Hyung-mo yakin, kedepannya, hal ini akan menarik lebih banyak kaum muda yang belum pernah memainkan Go versi offline. Meningkatnya penetrasi Internet merupakan faktor pendukung meluasnya Go versi online. Jepang dan Korea tercatat sebagai negara dengan penetrasi Internet broadband yang tinggi, sementara Cina mencatatkan penetrasi Internet sebesar dua digit.Menurut data yang dimiliki NHN, Korea Selatan tercatat memiliki 3 juta orang yang memainkan game Go melalui berbagai situs. Sementara Cina, memiliki kira-kira 2 juta pemain. Untuk kawasan Jepang, diperkirakan telah memiliki 500 ribu pemain. Berkebalikan dengan jumlah pemain Go online yang kian membengkak, pemain tradisionalnya justru mengalami penyusutan. Menurut data Yang dari Korea Baduk Association, jumlah pemain di Kiwon, rumah permainan yang bertujuan untuk mempertemukan para pemain Go, menyusut jadi tinggal sepertiga dari 1.000 pemain di akhir 1990-an.
(lni/nks)