Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Untuk Tunanetra, Diknas Sediakan Perpustakaan Digital

Untuk Tunanetra, Diknas Sediakan Perpustakaan Digital


- detikInet

Jakarta - Para tunanetra kini tertolong untuk membaca buku-buku di perpustakaan. Departemen Pendidikan Nasional menyediakan pojok tunanetra yang memungkinkan mereka membaca buku-buku perpustakaan secara digital.Karena keterbatasan indera penglihatan, para tunanetra kesulitan memperoleh akses bacaan yang layak dan bermutu. Keterbatasan akan buku-buku bacaan dengan huruf braille juga menjadi salah satu faktor, selain layanan perpustakaan umum yang kurang memadai. Beruntung kini mereka bisa memanfaatkan fasilitas khusus yang ada perpustakaan umum di Departemen Pendidikan Nasional, di Jl Sudirman, Jakarta. Selain berisi 1.800 buku bacaan, di perpustakaan seluas 800 meter persegi ini kini terdapat 'Pojok Tunanetra'. Selain karena memang terletak di pojok, di ruang terbuka ini ada tiga unit komputer lengkap dengan software dan perangkat input yang bisa dimanfaatkan tunanetra untuk membaca.Untuk bisa 'menikmati' isi buku, mereka cukup memindai halaman-halaman buku di scanner. Dengan software OpenBook yang terinstal di komputer, materi yang ada di buku akan dikonversi ke format digital. File buku digital kemudian dibaca dengan software pembaca layar (screen reader) JAWS (Job Access with Speech). Software tersebut akan mengkonversi teks menjadi suara yang bisa didengar tunanetra melalui perangkat output seperti earphone atau speaker.Selain itu, tersedia pula bahan bacaan dalam bentuk braille dan kaset, serta koneksi internet yang memungkinkan tunanetra mencari bahan bacaan di internet. "Saya merasa terbantu sekali dengan adanya layanan ini, karena sekarang saya bisa membaca buku-buku yang sebelumnya tidak bisa saya baca karena tidak bisa melihatnya," tutur Adi Ariyanto, kepada detikINET, di Perpustakaan Diknas, Jakarta, Rabu (29/11/2006). Adi adalah mahasiswa tunanetra yang menjadi anggota perpustakaan, Keberadaan 'Pojok Tunanetra' digagas oleh Yayasan Mitra Netra, yang menilai masih sulitnya akses ke sarana pendidikan bagi tunanetra. Bambang Basuki, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra berharap inisiatif ini dapat menumbuhkan kepedulian berbagai kalangan untuk menyediakan fasilitas serupa. "Perpustakaan publik harusnya bisa dinikmati oleh publik dari berbagai kalangan, termasuk penyandang tunanetra. Oleh karena itu, fasilitas seperti ini harusnya tersedia di perpustakaan-perpustakaan," ujar Bambang. (nks/nks)




Hide Ads