Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Anak Buah Mark Zuckerberg Jadi Buron Rusia, Kenapa?

Anak Buah Mark Zuckerberg Jadi Buron Rusia, Kenapa?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Morning commute traffic streams past the Meta sign outside the headquarters of Facebook parent company Meta Platforms Inc in Mountain View, California, U.S. November 9, 2022.  REUTERS/Peter DaSilva
Foto: REUTERS/PETER DASILVA
Jakarta -

Anak buah Mark Zuckerberg, pendiri Facebook dan CEO Meta, sedang kena masalah. Rusia telah memasukkan juru bicara Meta, yang memiliki Facebook, WhatsApp, dan Instagram, ke dalam daftar orang yang dicari alias buron.

Agensi Rusia Tass melaporkan direktur komunikasi Meta Andy Stone dimasukkan dalam daftar tersebut beberapa minggu setelah pihak berwenang Rusia pada bulan Oktober mengklasifikasikan Meta sebagai 'organisasi teroris dan ekstremis'.

Data Kementerian Dalam Negeri Rusia tidak memberikan rincian kasus yang menimpa Stone, hanya menyatakan dia dicari atas tuduhan pidana. Adapun Meta tidak segera menanggapi permintaan komentar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kantor berita negara Rusia TASS juga melaporkan bahwa Stone dicari berdasarkan pasal KUHP Rusia. Menurut LinkedIn, Stone menjabat sebagai direktur komunikasi untuk Meta dan telah bekerja di perusahaan media sosial tersebut sejak 2014.

Stone dilaporkan sudah diputuskan ditangkap secara in absensia oleh pengadilan Rusia pada pertengahan November. Seperti dikutip detikINET dari Insider, rincian kasusnya belum dirilis.

ADVERTISEMENT

Tuduhan terhadap Stone merupakan aksi lain dari tindakan keras Rusia terhadap raksasa media sosial tersebut. Sebelum perang di Ukraina, produk Meta seperti Facebook dan Instagram menikmati popularitas di Rusia. Namun, situs tersebut kini dilarang di Rusia dan Meta sendiri telah terdaftar sebagai organisasi "teroris" dan "ekstremis" sejak Oktober 2022.

WhatsApp, yang juga dimiliki oleh Meta, masih beroperasi di negara tersebut. Rusia juga membuka kasus terhadap Meta pada Maret 2022, dengan mengatakan bahwa perusahaan tersebut mempromosikan "aktivitas teroris". Saat itu, kementerian Rusia menyebut Stone karena dia telah mengumumkan keputusan Meta untuk mengizinkan pengguna memposting ujaran kebencian terhadap Rusia setelah menginvasi Ukraina.




(fyk/fay)






Hide Ads