5 Pelajaran Bermedsos dari Tragedi Kanjuruhan

5 Pelajaran Bermedsos dari Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Kolom Telematika

5 Pelajaran Bermedsos dari Tragedi Kanjuruhan

Hariqo Wibawa - detikInet
Minggu, 02 Okt 2022 17:04 WIB
Women weep after receiving confirmation that their family member is among those killed in a soccer riots, at a hospital in Malang, East Java, Indonesia, Sunday, Oct. 2, 2022. Panic at an Indonesian soccer match Saturday left over 150 people dead, most of whom were trampled to death after police fired tear gas to dispel the riots. (AP Photo/Dicky Bisinglasi)
5 Pelajaran Bermedsos dari Tragedi Kanjuruhan. Foto: AP/Dicky Bisinglasi
Jakarta -

Seluruh masyarakat sedang berduka, utamanya keluarga besar dari saudara kita yang meninggal dunia maupun yang dirawat karena kejadian di Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10) malam.

Ini juga duka setiap warga, duka seluruh bangsa Indonesia dan dunia. Mari luangkan waktu, kita wajib mendoakan. Satu nyawa saja tidak boleh hilang karena pertandingan apa pun, apalagi 130 nyawa (data sementara dari teman-teman wartawan per pukul 13.10 WIB).

Jumlah ini terbesar sepanjang sejarah pertandingan olahraga di Indonesia, dan yang kedua terbesar dalam sejarah sepakbola di dunia ini.

Jumlah sangat besar ini tidak boleh jadi sekadar angka, sebab bagi keluarga, ini adalah luka, kesedihan yang tidak akan terlupa. Untuk itu, dengan hormat Komunikonten mengimbau:

1) Agar kita tidak mem-posting hal-hal yang membuat keluarga dari korban, baik yang meninggal dunia maupun dalam perawatan menjadi semakin terluka, marah, dan lain-lain.

Belajar dari Almarhum Pak Sutopo BNPB, utamakan berempati, menghayati apa yang dirasakan oleh seluruh keluarga besar korban yang ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat dicintai.

2) Kepada para penyelenggara, panitia, pejabat, aparat, dan lain lain agar menyampaikan informasi yang benar, jujur, sehingga masyarakat tidak kecewa, marah.

Sebaiknya yang disampaikan adalah bahan yang sudah ditulis terlebih dahulu dan telah dicek berlapis kebenarannya.

Belajar dari sejarah, bahwa prinsip kejujuran adalah kebijakan yang terbaik harus diterapkan dalam setiap konten, konferensi pers, interaksi, data, perkembangan informasi dan lain lain.

Kejujuran, keseriusan, hukuman dapat membuat kejadian menyedihkan ini tidak terulang kembali. Abaikan soal nama baik organisasi dan orang per orang, utamakan kejujuran dalam seluruh proses untuk perbaikan.

3) Kepada seluruh netizen, utamanya para pejabat publik yang digaji negara, agar menahan diri dari mem-posting hal-hal yang tidak relevan, seperti konten liburan, pamer kekayaan, dan konten-konten lain yang jauh dari sikap empati sebagai sesama keluarga besar bangsa Indonesia. Empati adalah kunci kerja sama.

4) Hindari menggunakan emoticon, emoji dalam konten ucapan duka, karena bisa menyebabkan salah duga, salah tafsir.

5) Berhati-hati dalam membuat, menyebarkan konten apa pun (foto, video, teks, audio, dan lain lain). Informasi yang benar mempercepat perbaikan. Sedangkan hoaks akan semakin menambah kebingungan, dan kerusakan.

Mari kita berdoa, agar Tuhan YME, Allah SWT memberikan surga untuk saudara-saudara korban tragedi Kanjuruhan, menguatkan, menganugerahi kesabaran pada keluarga yang ditinggalkan.

*) Hariqo Satria adalah pengamat media sosial dari Komunikonten dan CEO Global Influencer School.



Simak Video "Komnas HAM Serahkan Laporan Investigasi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT