CEO Pfizer Murka, Sebut Penyebar Hoax Vaksin Kriminal

CEO Pfizer Murka, Sebut Penyebar Hoax Vaksin Kriminal

Fino Yurio Kristo - detikInet
Jumat, 12 Nov 2021 09:45 WIB
Inggris Pesan Jutaan Vaksin Corona Eksperimental BioNTech dan Pfizer
Suntik vaksin Corona. Foto: DW (News)
Jakarta -

Cukup marak kabar di media sosial tentang vaksin Corona yang tidak benar dan menyesatkan, sehingga tak sedikit orang enggan divaksin. Hal itu memicu kemarahan CEO Pfizer, Albert Bourla.

Seperti dikutip detikINET dari CNBC, Albert menyebut bahwa orang-orang yang menyebarkan informasi sesat tentang vaksin Corona adalah kriminal dan telah menyebabkan orang meninggal dunia.

"Orang-orang itu adalah para kriminal. Mereka kriminal karena mereka sungguh mengorbankan jutaan kehidupan," katanya dengan keras.

Dengan membaca informasi sesat, orang yang sudah enggan divaksin makin tidak mau melakukannya. Saat ini saja, jutaan orang Amerika Serikat yang seharusnya divaksin belum melakukannya, diduga kuat lantaran terpapar informasi hoax.

Survei yang dipublikasikan oleh Kaiser Family Foundation mengungkap bahwa lebih dari tiga perempat orang dewasa di Negeri Paman Sam rentan percaya pada hal tidak benar mengenai vaksin Corona. Misalnya, mereka cemas vaksin Corona mengandung microchip atau bisa mengubah DNA.

Padahal menurut Bourla, hanya dengan vaksin Corona yang luas maka kehidupan bisa kembali normal seperti sebelum pandemi.

"Satu-satunya hal yang menghalangi antara cara hidup yang baru dengan saat ini, jujur saja, adalah keengganan untuk divaksin," kata sang CEO Pfizer lagi.

Sebelumnya, Bourla optimistis pandemi Corona segera dapat dikendalikan. "Dalam waktu satu tahun, saya pikir kita akan mampu kembali ke kehidupan yang normal," cetusnya dalam wawancara dengan ABC baru-baru ini.

Akan tetapi bisa jadi agar pandemi Corona tetap terkendali, orang perlu disuntik vaksin Corona sekali dalam setahun. Selain itu, menurutnya bukan berarti varian baru virus Corona tidak akan muncul lagi.



Simak Video "CDC Sebut Booster Vaksin Covid-19 Dapat Ditoleransi dengan Baik"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/afr)