Jangan Beli Invitation! Gabung Clubhouse Itu Gratis

Jangan Beli Invitation! Gabung Clubhouse Itu Gratis

Adi Fida Rahman - detikInet
Senin, 15 Feb 2021 15:22 WIB
Clubhouse
Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Lantaran banyak tokoh dan influencer Tanah Air ramai bergabung di Clubhouse, banyak netizen yang ingin join di media sosial (medsos) berbasis audio chat ini. Hanya saja saat ini cara bergabung Clubhouse tidak semudah Instagram ataupun medsos lainnya.

Seseorang harus punya teman yang sudah menjadi pengguna Clubhouse. Nantinya dia bisa mengirimkan invitation atau memperbolehkan masuk ke dalam media sosial ini.

Sayangnya eksklusivitas ini dimanfaatkan sejumlah oknum untuk menjual invitation Clubhouse di e-commerce, salah satunya Tokopedia. Pantauan detikINET, Senin (15/2/2021), undangan tersebut ditawarkan seharga Rp 150 ribu. Konsultan kreatif sekaligus CEO Riuh Renjana Creative, Dwika Putra, menyarankan untuk tidak membelinya.

"Menurut saya tidak perlu (dibeli), karena sebenarnya bisa diperoleh gratis, selama kita bisa mendapat jalur yang tepat. Apalagi, ada beberapa 'gerakan' yang dibuat untuk memerangi penjualan tersebut, dengan cara membagi-bagi invitation gratis," kata Dwika saat dihubungi detikINET.

Saat ini Clubhouse memang tengah menjadi fenomena. Sejak Elon Musk membuat sesi obrolan, membuat medsos besutan Paul Davison dan Rohan Seth itu mendadak populer. Semua orang pun ingin bergabung untuk menjajalnya, termasuk di Indonesia.

Dalam beberapa dua pekan terakhir, banyak netizen di Tanah Air bergabung. Ini bisa dilihat makin beragamnya topik obrolan, serta bertambahnya jumlah speaker maupun listener di setiap room. Rasanya tren ini akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

"Menurut saya sih orang Indonesia saat ini sedang masuk fase sangat antusias terhadap Clubhouse. Ketertarikan terhadap hal baru, ditambah promosi dari berbagai publik figur, pastinya akan semakin menumbuhkan rasa FOMO atau takut tertinggal. Hal ini akan menyebabkan makin banyak orang tertarik untuk masuk Clubhouse," ujar Dwika menanggapi fenomena Clubhouse di Indonesia.

Hanya saja Dwika enggan menebak-nebak sejauh mana kehebohan Clubhouse di Indonesia ini akan terus berlangsung. Tapi menurutnya media sosial yang didirikan Maret 2020 bisa menjadi platform yang bisa diperhitungkan.

"Saya tidak mau menebak-nebak, tetapi melihat perkembangan yang ada saat ini, sepertinya Clubhouse akan jadi sebuah alternatif untuk platform konten yang cukup bisa diperhitungkan. Sifatnya yang dapat dijadikan background noise, karena dapat didengar sambil melakukan hal lain, akan menjadi faktor pembeda yang cukup signifikan," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Dwika memberikan saran penting bagi kamu yang ingin bergabung ke Clubhouse. Kendati bentuknya media sosial, baiknya untuk berkomunikasi dan interaksi di Clubhouse selayaknya di dunia nyata.

"Perlakukanlah komunikasi dan interaksi di Clubhouse sebagaimana komunikasi dan interaksi di dunia nyata. Apa yang menyakitkan untuk disampaikan di dunia nyata, juga akan menyakitkan jika disampaikan di Clubhouse, sebagaimana dengan social media lainnya," tuturnya

"Selalu ingat bahwa di balik avatar sekecil jari kamu, ada orang yang sungguh nyata yang mendengar dan merasakan apa yang kamu katakan," tegas Dwika.

Untuk mengetahui Clubhouse lebih jauh, kamu bisa mendengarkan podcast Obat Gaptek berikut ini:



Simak Video "Clubhouse Masuk Android, Jadi Downgrade?"
[Gambas:Video 20detik]
(afr/fay)