Beda Sikap Twitter dan Facebook Hadapi Cuitan Donald Trump

Beda Sikap Twitter dan Facebook Hadapi Cuitan Donald Trump

Virgina Maulita Putri - detikInet
Sabtu, 30 Mei 2020 17:02 WIB
WASHINGTON, DC - MARCH 31: U.S. President Donald Trump participates in the daily coronavirus task force briefing in the Brady Briefing room at the White House on March 31, 2020 in Washington, DC. The top government scientists battling the coronavirus estimated on Tuesday that the virus could kill between 100,000 and 240,000 Americans. Trump warned that there will be a Very, very painful two weeks ahead as the nation continues to grapple with the outbreak of the COVID-19 virus.   Win McNamee/Getty Images/AFP
Beda SikapTwitter dan Facebook Hadapi Cuitan Donald Trump Foto: Win McNamee/Getty Images/AFP
Jakarta -

Presiden AS Donald Trump kembali mengunggah ucapan yang kontroversial di Twitter dan Facebook. Tapi, di kedua platform media sosial itu, ia malah mengambil sikap yang berbeda dalam menghadapi situasi terkini di negaranya.

Cuitan tersebut dibuat Trump di tengah protes yang terjadi di Minneapolis, AS setelah kematian George Floyd di tangan polisi. Trump menyamakan demonstran dengan preman dan memperingatkan bahwa militer sedang dalam perjalanan menuju Minneapolis.

"Para PREMAN ini tidak menghormati memori George Floyd, dan saya tidak akan membiarkannya terjadi. Baru saja berbicara dengan Gubernur Tim Walz dan mengatakan kepadanya bahwa Militer akan terus mendukungnya," tulis Trump dalam cuitannya.

"Ada kesulitan, dan kami akan mengambil alih kontrol tapi, ketika penjarahan mulai, penembakan mulai. Terima kasih!," sambungnya.

Ucapan Trump tersebut diunggah di Twitter dan Facebook. Dikutip detikINET dari CNBC, Sabtu (30/5/2020) Twitter langsung mengambil sikap dengan menyembunyikan cuitan Trump tersebut dan memberikan label peringatan karena dianggap mengagungkan (glorifikasi) kekerasan.

Cuitan tersebut tetap bisa dilihat, tapi pengguna harus mengklik 'View' untuk melihatnya. Twitter juga mencegah pengguna untuk menyukai atau me-retweet cuitan tersebut.

"Cuitan ini melanggar kebijakan kami mengenai glorifikasi kekerasan berdasarkan konteks sejarah dari baris terakhir, hubungannya dengan kekerasan dan risiko ini bisa menginsipirasi tindakan serupa," jelas Twitter lewat akun @TwitterComms.

Ketika kicauan Trump disembunyikan, akun Twitter resmi Gedung Putih juga mengunggah cuitan yang sama persis dengan apa yang di-tweet Trump. Alhasil, Twitter mengambil langkah tegas dengan mengambil kebijakan membunyikan dan mendapat label peringatan.

Tapi sikap Twitter ini berbeda dengan yang diambil Facebook yang memutuskan untuk membiarkan ucapan Trump di platform-nya. CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan, unggahan tersebut tidak melanggar kebijakan perusahaannya dan akan tetap online.

Dalam postingannya, Zuckerberg mengatakan posisi perusahaannya adalah untuk memungkinkan kebebasan berekspresi sebesar mungkin, kecuali menyebabkan risiko bahaya atau menyebabkan bahaya yang spesifik seperti yang dijelaskan dalam kebijakan.

"Saya sangat tidak setuju dengan bagaimana Presiden berbicara tentang hal ini, tapi saya percaya orang-orang harus bisa melihat ini secara langsung, karena pada dasarnya akuntabilitas untuk mereka yang berkuasa hanya bisa terjadi jika ucapan mereka dicermati secara terbuka," tulis Zuckerberg.

Perkembangan terbaru ini tentu akan semakin merumitkan hubungan Trump dengan perusahaan media sosial. Baru-baru ini Trump meneken perintah eksekutif yang bisa membatasi kekebalan media sosial yang diatur dalam Section 230.

Twitter dan Facebook langsung menentang keputusan Trump tersebut. Keduanya berpendapat membatasi Section 230 justru akan mengurangi kebebasan berpendapat.



Simak Video "Cuitan Donald Trump Dapat Label Peringatan dari Twitter"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/agt)