Hoax Vs Fakta, Benarkah Ada Meteor Jatuh di Surabaya?

Hoax Vs Fakta, Benarkah Ada Meteor Jatuh di Surabaya?

Rosmha Widiyani - detikInet
Selasa, 12 Mei 2020 08:02 WIB
kabar hoax meteor jatuh surabaya
Foto: tangkapan layar facebook/Hoax Vs Fakta, Benarkah Ada Meteor Jatuh di Surabaya?
Jakarta -

Media sosial kembali diramaikan kabar adanya meteor jatuh di wilayah Surabaya, Jawa Timur. Kabar yang beredar di Facebook ini sebetulnya sudah muncul sejak Jumat (8/5/2020), namun masih dibaca dan menjadi trend di Google.

Kepala Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menyatakan kabar tersebut tidak benar. Masyarakat tak perlu khawatir atau menganggap serius kabar meteor jatuh yang beredar di Facebook dan Twitter.

"Hoax. Itu sampah antariksa yg jatuh di luar Indonesia," kata Thomas dalam pesan pendek yang diterima detikcom pada Senin (11/5/2020).

Dikutip dari situs LAPAN, sampah antariksa yang dianggap meteor jatuh tersebut punya nama lain yaitu space debris atau space junk. Menurut PBB, sampah antariksa adalah semua benda buatan yang mengorbit bumi namun tidak punya fungsi. Benda buatan tersebut misalnya satelit atau roket yang sudah tidak beroperasi lagi.

Sampah antariksa juga bisa berupa materi yang tidak atau sengaja terlepas di luar angkasa. Materi yang tidak sengaja misal sarung tangan astronot, serpihan cat, dan pelindung permukaan. Sedangkan contoh materi yang sengaja dilepas adalah baut atau tangki bahan bakar saat satelit beroperasi.

Materi lain yang termasuk sampah antariksa adalah benda luar angkasa yang mengalami reentry di atmosfer. Sampah antariksa menjadi telah menjadi agenda khusus di Scientific and Technical Subcommitte (STSC) PBB sejak 1994.

Sampah antariksa, yang dikira meteor jatuh tersebut, menjadi perhatian internasional karena berisiko mengganggu dan merusak satelit. Wahana antariksa lain yang masih beroperasi juga bisa terganggu karena besarnya energi yang dimiliki sampah antariksa.

Situs LAPAN mengatakan, kecepatan sampah antariksa mencapai 7 km/detik atau 25 km/jam. Artinya, sampah dengan berat 5 kilogram bisa memiliki energi sebanding mobil yang bergerak dengan kecepatan 100 km/jam.

PBB telah menyusun pedoman mitigasi untuk mengendalikan sampah antariksa. Mitigasi meliputi komitmen mengendalikan sampah dan desain satelit atau roket yang minim space junk. Cara lain adalah memasukkan sampah antariksa yang berada di orbit rendah ke dalam bumi, sehingga tidak ada lagi yang mengira sampah antariksa sebagai meteor jatuh.



Simak Video "Sebuah Batu Antariksa Meledak di Langit Tokyo Tertangkap Kamera"
[Gambas:Video 20detik]
(row/erd)