7 Langkah Penanganan Virus Corona di Medsos

Kolom Telematika

7 Langkah Penanganan Virus Corona di Medsos

Hariqo Wibawa Satria - detikInet
Minggu, 15 Mar 2020 06:01 WIB
Virus corona: Apakah mengenakan masker bisa mencegah kita tertular virus?
7 Langkah Penanganan Virus Corona di Medsos. Foto: Istimewa
Jakarta -

Arus informasi yang deras terkait wabah virus corona bisa kurang efektif dan membingungkan publik jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karenanya, perlu penanganan khusus terkait isu tersebut di media sosial (medsos).

Tentunya, penanganan pun dilakukan dengan mempertimbangkan banyak faktor agar informasi yang disampaikan bisa diterima dengan baik. Berikut ini langkah-langkahnya.

1. Bentuk tim inti

Personilnya bisa diambil dari Kementerian, Lembaga Negara (K/L) yang punya tim medsos kuat seperti Kemendikbud, Kemkominfo, BNPB, KPU, TNI, POLRI dan unsur organisasi masyarakat seperti NU, MUhammadiyah, dan lain-lain.

Rekrut pengawas dari jurnalis senior dengan jam terbang tinggi dan mereka yang berpengalaman menangani kasus flu burung. Kumpulkan penanggungjawab, admin, jubir atau pengelola media sosial di seluruh K/L. Jelaskan pedoman penanganan virus corona di internet, website dan media sosial.

2. Umumkan akun khusus

Umumkan akun khusus yang fokus menyampaikan informasi dan perkembangan tentang COVID-19. Sampai sekarang publik bingung, banyak akun Kementerian, Lembaga Negara menyampaikan informasi tentang virus corona, namun dicampur dengan informasi lain.

Akun tidak perlu dibuat baru, namun bisa menggunakan akun lama dengan jumlah follower tinggi. Akun ini merujuk pada website khusus yang menjadi pusat informasi.

3. Gunakan pola sentralisasi

Menggunakan pola sentralisasi artinya konten diproduksi hanya oleh satu tim, sedangkan tim yang lain cukup menyebarkan. Boleh saja setiap K/L membuat konten sendiri, namun tetap mencantumkan sumber dari tim inti. Namun buat apa membuat konten yang sama? Lebih baik di-share, retweet, repost, dan lain-lain.

Sekarang ini, dalam pengamatan saya, yang terjadi adalah pola multiple hub and spoke bahkan yang lebih parah organic-holistik. Maksudnya, setiap K/L memproduksi konten tentang corona, bahkan banyak pejabat atau yang sudah tidak menjabat juga memproduksi konten tentang itu. Alhasil, publik makin bingung karena hubungan masyarakat dengan tokoh tertentu sangat kuat.

4. Pusatkan di Facebook

Mengapa Facebook? Karena kolom interaksinya bagus untuk komentar dan jawaban. Tim bisa bekerja 7 hari 24 jam. Jawab seluruh pertanyaan warga, buat Q and A. Berikan tautan yang mengarah pada landing page pada setiap jawaban.

5. Fokus pada pesan kunci

Jangan gunakan emoticon atau emoji apapun dalam menyampaikan informasi dan merespons netizen. Semua komunikasi dan informasi harus berdasarkan fakta, bukan emosi dan perasaan. Perlu diingat juga agar penyampaian informasi tidak membuat panik, melainkan berisi petunjuk-petunjuk teknis pencegahan.

Bangun semangat memperjuangkan kepentingan nasional dan solidaritas, bukan ego Kementerian atau kepentingan golongan tertentu.

6. Panggil semua perusahaan medsos

Panggil semua perusahaan medsos yang beroperasi di Indonesia seperti Google, Facebook, YouTube, Instagram, WhatsApp, Twitter, TikTok, LinkedIn, termasuk aplikasi medsos lokal. Minta mereka agar membantu maksimal dengan berpedoman pada SOP yang sudah dibuat pemerintah.

7. Berdayakan berbagai organisasi bentukan pemerintah

Organisasi seperti Generasi Pesona Indonesia (GENPI) yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata misalnya, bisa diberdayakan untuk membantu hal ini. Menurut pengakuan Kemenpar, GENPI punya 15 ribu anggota yang tersebar di 34 provinsi dan terdiri dari anak-anak muda kreatif.

*) Hariqo Wibawa Satria adalah Direktur Eksekutif Komunikonten dan penulis buku Seni Mengelola Tim Media Sosial.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/asj)