Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Chip Bisa Percepat Deteksi Flu Burung

Chip Bisa Percepat Deteksi Flu Burung


- detikInet

Jakarta - Peneliti di Amerika Serikat telah menemukan sebuah microchip yang bisa digunakan untuk mendeteksi 11 jenis virus flu secara lebih cepat. Termasuk untuk virus flu burung. Teknologi itu dikembangkan di University of Colorado, Amerika Serikat. Meski saat ini masih dalam uji validasi, peneliti di balik chip itu berharap hasil riset mereka bisa segera digunakan untuk deteksi flu langsung di lapangan."Jika kita bisa meletakkan teknologi ini pada setiap ruang praktek dokter, pasti akan fantastis," ujar Kathy Rowlen, profesor kimia dan biokimia yang turut dalam penelitian itu, seperti dikutip detikinet, Selasa (8/11/2005), dari reuters. Chip tersebut bisa mendeteksi dalam waktu seperempat dari waktu uji yang ada saat ini. "Saat ini analisa strain virus flu bisa mencapai tiga hingga empat hari. Jika jenis flu burung yang menular antar manusia telah muncul, waktu itu akan terlalu lama," ujarnya. Selama ini tes cepat untuk flu hanya bisa dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus, bukan membedakan antara jenis virus yang menyerang. Padahal, virus flu senantiasa bermutasi dan menghasilkan jenis-jenis baru. Menurut uji coba yang dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention) chip itu memiliki tingkat ketepatan lebih dari 90 persen saat mendeteksi virus flu H5N1 alias flu burung, Chip tersebut juga bisa digunakan untuk mendeteksi jenis-jenis virus flu lainnya. "Teknologi baru ini harusnya bisa membantu pengawasan flu secara global," ujar Rowlen. Sayangnya saat ini teknologi tersebut masih terbilang rumit. "Kami masih harus memproses sampel dengan cara yang cukup rumit," Rowlen memaparkan. Rowlen dan timnya saat ini sedang mengusahakan agar proses yang diperlukan bisa lebih sederhana dan lebih mudah untuk dilakukan di mana saja. "Kami bisa membuatnya cukup kecil dan sederhana sehingga bisa dibawa ke daerah-daerah pedesaan seperti di Kongo, Kamboja, atau Indonesia yang mungkin masih kekurangan fasilitas lab-nya," ia menambahkan. (wsh/)






Hide Ads