Selasa, 20 Agu 2019 11:45 WIB

Kolom Telematika

Membumikan Layanan Maha Data

Dimitri Mahayana - detikInet
Ilustrasi big data. Foto: Istimewa Ilustrasi big data. Foto: Istimewa
Jakarta - Maha data, atau kita lebih mengenalnya sebagai big data, kian hari kian populer di Indonesia. Seraya di waktu bersamaan, dengan lebih banyak tidak disadari, telah menukik masuk sendi kehidupan keseharian kita, terutama pada pola digital lifestyle kita.

Sekalipun ada beberapa insiden kasuistik, di mata penulis, big data memberi lebih banyak benefit bagi masyarakat Indonesia. Hidup berkualitas yang ringkas, efektif, serta dipandu akurat learning machine, kini banyak dirasakan (bahkan saat tulisan ini sedang dirampungkan).

Itulah sebabnya, beberapa survei terakhir kami semakin menunjukkan relevansi antara penggunaan layanan big data dengan preferensi perusahaan lintas sektor dalam 'menambang' maha data itu untuk menunjang targetan perusahaan.

Dalam Survei Big Data kurun waktu Februari-Desember 2018, 66% responden dari korporasi menyebut maha data akan booming dalam kurun 1-2 tahun ke depan. Sebanyak 17% (3 tahun ke depan), 13% (lebih dari 3 tahun ke depan), dan 4% (tidak tahu).

Karenanya, 22% responden memilih mengembangkan sendiri sistem terkait, 22% membeli, serta sisanya mengalihdayakan (outsource). Adapun layanan yang terbanyak digunakan dalam jawaban terbuka adalah Amazon Web Service 75% dan Microsoft Azure 50%, dengan bahasa pemrograman Phyton dan R menjadi yang paling banyak digunakan.

Responden kemudian menyebutkan, data primer yang akan diolah untuk layanan big data kepentingan korporasi adalah data transaksi 93%, teks (email, fax, pdf) 40%, data sensor 40%, media sosial 27%, dan data image 7%.

Sebuah temuan menarik adalah sebenarnya rerata korporasi sudah memiliki layanan mirip big data, yakni Enterprise Data Warehouse (EDW). Namun mayoritas responden menyatakan akan menggantikan dengan big data (29%) serta akan menjadikan EDW sebagai data rujukan utama bagi big data (24%).

Dari seluruh profil statistik barusan, terdapat tiga hal yang menjadi perhatian penulis dengan kepentingan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Pertama, sebagaimana menjadi concern HUT ke-47 Republik Indonesia tentang SDM unggul, demikian pula gambaran obyektif kebutuhan SDM pada layanan big data.

Sharing Vision menemukan data bahwa kebutuhan data scientist hanya dapat dipenuhi sekitar 50% pada 2018. Ini memang relevan dengan tren global, yang mana lembaga riset telematika McKinsey pun menyimpulkan di Amerika Serikat pun, kebutuhan SDM big data hanya bisa dipenuhi separuh dari kebutuhan korporasi (300 ribu pasokan SDM dari 490 ribu kebutuhan SDM).

Maka, sebagai amanah para pahlawan kemerdekan, para pihak seyogyanya tidak terus berkubang dalam polarisasi politik, namun menemukan berbagai kesamaan untuk selanjutnya sama-sama meningkatkan sinergi untuk terus membentuk SDM unggul tadi.

Kedua, peningkatan utilitas big data tetap harus sangat mengutamakan standar keamanan informasi global. Kita memang membutuhkan hidup yang makin ringkas namun efektif, namun privasi data juga sangatlah utama dan vital.

Cukup sudah kejadian yang menguras emosi seperti kasus Cambridge Analytica membuat personality quiz app (thisisyourdigitiallife) di tahun 2013, yang membuat jutaan data netizen di Indonesia bocor dan disalahgunakan.

Terbaru, temuan tentang fintech ilegal yang bisa mengakses big data dari pengguna layanan dua super apps berbasis transportasi serta satu penyedia e-commerce yang ironisnya ketiganya telah tercakup layanan decacorn.

Transformasi big data, terutama yang layanan publik, harus terus mengacu dan mengimplementasikan pada standar keamanan informasi dunia seperti ISO 27001 ISO/IEC 27001:2013 (sistem information security management).

Bahkan, korporasi Indonesia harus mampu menyesuaikan diri dengan pengembangan ISO mutakhir yakni standar untuk big data (ISO/IEC 20546 Information technology - Big data - Overview and vocabulary) dan ISO/IEC 20547 (Information Technology - Big data Reference architecture).

Last but not least, semua pihak mari tepikan berbagai perbedaan yang beberapa tahun ini menguat, dan ikatlah dalam kolaborasi besar untuk menghadirkan berbagai layanan berbasis big data yang menghadirkan solusi konkret atas berbagai masalah kemasyarakatan.

Dalam riset kami, yang antara lain mengacu best practises global, kita sangat mungkin merealisasikan layanan kemasyarakatan tersebut. Semisal di Brasil, prediksi wabah demam berdarah berbasis cuitan di Twitter dengan kata kunci "dengue", "disease", "fever", menciptakan kemudahan mendapatkan data terjadinya wabah (waktu, biaya, tenaga) sekaligus mempersiapkan dini pencegahan dan penanganan wabah.

Di Sri Langka, maha data berbasis gambar satelit resolusi rendah dan resolusi tinggi (membedakan rumah dari kepemilikan mobil, luas bangunan, dan tipe atap bangunan) berhasil memberikan pemetaan akurat prediksi variasi geografis kemiskinan berdasarkan warna.

Di Bogota, Kolombia, olahan maha data juga berhasil memprediksi daerah yang berpeluang terjadi kejahatan setelah sebelumnya membantu pembuatan keputusan dalam perbaikan infrastruktur. Hal ini terjadi ketika machine learning mampu memberikan relevansi antara kepemilikan dan nilai lahan dengan saluran pembuangan kota/saluran air kota/saluran gas kota/blok-blok kota.

Di Kanto, Jepang, layanan maha data pada meteorological data (suhu udara, kecepatan angin, curah hujan, dan sunshine duration) serta geo-scientific data (jenis tanah, kemiringan tanah, dan slope length), juga berhasil merilis implementasi prediksi banjir secara real time terhadap operasional waduk menggunakan DIAS (Data Integration Analysis System).

Di Dublin, Irlandia, perjalanan waktu kendaraan berhasil dikurangi 10 - 15% berkat identifikasi akar penyebab kemacetan lalu lintas dengan melihat big data streaming perpaduan jadwal bus dengan inductive-loop traffic detectors, kamera CCTV camera, dan GPS update pada 1.000 bus yang ditransmisikan setiap 20 detik. Dalam hemat penulis, kita bisa memulai yang sederhana merujuk yang diterapkan di Cebu, Filipina sbagai berikut:

Membumikan Layanan Maha Data


Pada akhirnya, semua upaya membumikan big data ini akan kembali pada seberapa sungguh-sungguh kita menerapkan tren global mutakhir tentang ekonomi kolaboratif karena ini memang kerjaan kolosal yang besar. Jangan sampai kita hanya selalu pintar urusan tambah-kurang, namun selalu lemah urusan bagi-bagi-an alias sinergi!



*) Penulis, Dr. Dimitri Mahayana adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui dmahayana@sharingvision.com.




Simak Video "Wow! Google Bakal Bangun Cloud Data Center di Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com