Rabu, 26 Jun 2019 18:51 WIB

Industri Game Picu Minat Terhadap Animasi

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Dok. ESDA Foto: Dok. ESDA
Jakarta - Pertumbuhan industri game yang terbilang pesat tak cuma berdampak pada gamer, melainkan diklaim juga memicu minat terhadap animasi.

Dugaan ini terlihat dari menjamurnya jurusan khusus animasi di berbagai universitas, juga semakin banyaknya jalur pendidikan nonformal dalam bentuk pelatihan-pelatihan animasi.

Salah satu yang menawarkannya adalah Enspire School of Digital Art atau ESDA. Lembaga yang didirikan sejak tahun 2013 ini merupakan kursus komputer yang fokus pada kursus 3D animasi dan modeling. Menariknya lagi, ESDA juga memiliki studio animasinya sendiri bernama Enspire Studio.

Studio animasi ini juga diklaim telah sering dipercaya oleh sejumlah perusahaan game dan hiburan dari luar negeri untuk menangani proyek mereka. Selain mampu memberikan hasil yang diharapkan, gaji animator Indonesia yang berada di angka maksimal Rp 25 juta per bulan juga menjadi daya tarik sendiri.

Pasalnya di luar negeri, rata-rata animator disebut memiliki bayaran mulai dari Rp 60 juta per bulannya. Meski lebih rendah dibanding bayaran animator di luar negeri, animator Indonesia bisa dibilang sebagai salah satu penerima gaji tertinggi di Indonesia tanpa gelar sarjana.

ESDA juga telah banyak bekerja sama dengan banyak instansi pinjaman pendidikan guna membantu murid yang kurang mampu, yang ternyata telah terlibat dalam banyak proyek CSR perusahaan perusahaan besar seperti CGV.

Sosok yang ada di balik berdirinya ESDA adalah Andre Surya yang merupakan 3D animator Indonesia yang sudah go international. Andre telah terlibat dalam pembuatan film-film box office seperti Ironman, Transformers dan lain-lain.

"3D bukanlah trend, tapi standar masa depan. Kreasi animasi anak Indonesia terbukti tidak kalah dengan luar negeri," jelasnya dalam keterangan yang diterima detikINET.

Kurikulum ESDA yang bisa diketahui lebih jelas melalui esda.co.id atau akun Instagram esda_id untuk info kursus, hanya ditempuh dalam kurun waktu 6 bulan. Kurikulum tersebut juga diharapkan mampu mencetak SDM berkualitas tinggi demi menghadapi industri 4.0. (asj/asj)