Rabu, 22 Mei 2019 16:00 WIB

Go-Jek si 'Ojek Online' yang Awalnya Populer untuk Kirim Barang

Robi Setiawan - detikInet
Foto: Robi Setiawan/detikcom Foto: Robi Setiawan/detikcom
Jakarta - Go-Jek dewasa ini telah memiliki lebih dari satu juta mitra driver, yang mana tak sedikit dari mereka asalnya berprofesi sebagai ojek pangkalan. Masyarakat pun cukup familiar dengan istilah 'ojek online' yang melekat pada Go-Jek.

Alih-alih kesuksesannya kini sebagai andalan transportasi yaitu ojek, pada awal berdirinya Go-Jek justru lebih akrab di masyarakat sebagai layanan pengantar barang.

"Orang yang pertama gunakan untuk kirim-kirim barang, bukan ojek. Jadi ojeknya (pengguna) mungkin 20%, 80% kirim-kirim barang," kata pendiri dan CEO Go-Jek Nadiem Makarim kepada detikcom.




Kalangan yang saat itu mendominasi menjadi pengguna Go-Jek menurutnya salah satunya adalah sekretaris. Sekretaris banyak menggunakan Go-Jek untuk mengirim barang dan dokumen-dokumen kantor karena dengan Go-Jek bisa lebih cepat.

Bagi Nadiem hal ini bukanlah masalah. Ini justru menunjukkan bahwa peran ojek, khususnya di Indonesia sangatlah besar. Bukan hanya layanan transportasi, ojek memiliki nilai lebih yang bisa dimanfaatkan.

"Ojek itu suatu hal yang nilainya luar biasa untuk berbagai macam fungsi. Benefit-nya nggak ada orang lain yang percaya itu, (dulu) hanya tim saya yang percaya bahwa ojek ini aset negara, karena dia bisa digunakan untuk berbagai layanan kalau ada kepercayaan," ungkapnya.




Dalam hal meraih kepercayaan ini, Nadiem pun mengungkapkan tidaklah mudah. Untuk itu ia pun harus mulai dengan percaya terlebih dahulu kepada masyarakat, sebelum ia bisa meraih kepercayaan dari masyarakat.

"Jadi Go-Jek itu mem-bridge tiga tahun pertama bangun kepercayaan dulu, eh ternyata mereka (mitra Go-Jek) bisa lho profesional, bisa belikan makanan, bisa kirim dokumen yang berharga dan penting," katanya.


(prf/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com