Sabtu, 16 Mar 2019 17:06 WIB

Kominfo Ajak Santri di Purbalingga Tangkal Hoax

Arbi Anugrah - detikInet
Foto: detikINET/Arbi Anugrah Foto: detikINET/Arbi Anugrah
Purbalingga - Untuk memerangi penyebaran hoax di media sosial, perlu adanya keterlibatan semua pihak termasuk para santri di pesantren.

Hal ini dikatakan oleh Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Gun Gun Siswadi, yang juga menyebut saat ini Indonesia sudah masuk dalam masa darurat penyebaran berita bohong atau hoax.

"Penyebaran hoax saat ini kalau menurut saya sekarang ini sudah sangat luar biasa, sudah darurat kalau menurut saya. Oleh karena itu ini (untuk memeranginya) bukan hanya dilakukan oleh Kominfo dan bukan hanya pemerintah, namun ini harus melibatkan berbagai komponen masyarakat termasuk santri santriawan, tokoh tokoh masyarakat, fatayat, muslimat, para ustad, para da'i, kemudian tokoh-tokoh agama termasuk juga tokoh tokoh pemuda yang ada di wilayah masing masing. Bersatu padu supaya merapatkan barisan untuk bisa mengeliminasi informasi hoax itu yang beredar di media sosial," kata Gun Gun Siswadi, Sabtu (16/3/2019).

Hal tersebut disampaikan usai acara Halaqah Kebangsaan bertemakan peran santri dalam menangkal hoax melalui media sosial di Purbalingga, Jawa Tengah. Selain dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Gun Gun Siswadi, acara tersebut juga dihadiri oleh anggota DPR RI, Taufiq R Abdullah.

Menurut dia, acara tersebut merupakan salah satu bentuk untuk meningkatkan literasi masyarakat, khususnya para santri. Karena santri juga bagian dari pelaku media sosial dan santri termasuk dalam salah satu generasi milenial. Karena generasi milenial merupakan salah satu dari generasi yang terpapar dari informasi yang mengandung hoax, maka dari itu, mereka perlu diberikan pemahaman dan kemampuan untuk memilih dan memilah informasi.

"Sehingga ketika dia menerima informasi dari berbagai sumber terutama media sosial, yang sekarang ini banyak beredar informasi yang mengandung fitnah, ujaran kebencian, pornografi, radikalisme. Mereka mengerti bagaimana caranya memilih dan memilah informasi itu," ujarnya.

Dia mengatakan yang penting dalam kita memilih informasi di media sosial, apakah informasi tersebut mengandung berita hoax atau tidak adalah dengan kata-katanya. Biasanya dalam berita hoax itu selalu terdapat kalimat-kalimat yang mendorong atau mengajak pembaca untuk ikut menyebarkan. Karena itu memang yang diharapkan oleh penyebar hoax.

Biasanya sasaran ditujukan adalah generasi milenial antara umur 13-34 tahun. Karena generasi milenial adalah pengguna media sosial terbanyak di Indonesia, dimana saat ini hampir sekitar 125 juta orang saat ini aktif menggunakan media sosial. Oleh karena itu, Kominfo terus berupaya untuk menjaga generasi tersebut dari paparan hoax, dan biasanya orang yang telah terpapar hoax adalah orang yang tidak mempunyai sumber informasi dan jarang membaca.

"Mereka yang rentan terpapar hoax karena dia tidak mempunyai sumber informasi, kemudian dia jarang membaca, oleh karena itu saya kira masyarakat khususnya generasi milenial itu harus membaca informasi dari media mainstream yang paling utama seperti koran, televisi, radio, dan online. Jadi ada pembanding, ketika kita menerima informasi dari media yang resmi dan mapan, ini tidak mungkin mereka akan menyebarkan hoax," jelasnya.

Meskipun demikian, ketika sulit menemukan berita pembanding yang dapat mengkonfirmasi apakah berita tersebut hoax atau bukan. Kominfo memberikan akses kepada masyarakat melalui situs stophoax.id untuk mencari sumber informasi tersebut.

"Jadi sebelum kita distribusikan informasi, kita punya pembading ini hoax atau bukan, kalau pun kita sulit menemukan itu, Kominfo punya akses seperti stophoax.id untuk bisa melihat apakah berita ini hoax atau bukan. Atau misal kita menemukan informasi, pornografi, kekerasan, radikalisme, terorisme, kita ada aduankonten.id, kita terus melakukan upaya-upaya itu supaya kita mampu menjaga masyarakat terbebas dari informasi hoax," ujarnya.

Dia menjelaskan, biasanya informasi hoax akan semakin banyak dan beredar menjelang momentum-momentum tertentu atau saat terjadi kekisruhan situasi. Apalagi sekarang ini seluruh aktivitas kehidupan masyarakat itu sudah hampir dipenuhi media sosial dan masyarakat tidak mampu untuk menyaring dan memilih informasi itu sehingga informasi yang hoax itu selalu bertambah banyak.

"Makanya kita minta dengan para santri ini. Kalau di pesantren itu kan mengajarkan kebaikan, moralitas itu diutamakan, karena hoax itu informasi kita harus lawan dengan informasi yang baik lagi yang dikeluarkan oleh para santri itu, jadi produksilah konten konten yang positif untuk melawan konten yang negatif," ucapnya.

Sementara menurut Taufiq R Abdullah mengatakan jika semua komponen bangsa ini harus peduli terhadap fenomena hoax ini, karena dampaknya sangat luar biasa dan dapat menimbulkan perpecahan antar sesama, dapat memunculkan sikap yang tidak disadari jika seseorang itu terlibat dalam penyebaran hoax. Karena orang tidak bisa secara cermat membedakan mana yang hoax dan mana yang tidak hoax.

"Hoax sekarang itu keluar dari mulut dan tulisan orang orang yang baik, sehingga orang orang baik di banyak tempat itu mempercayai sebuah kebenaran. Maka hari ini kita kumpulkan komponen santri, karena santri bagian dari komponen bangsa dan di banyak tempat mayoritas bangsa ini adalah santri," jelasnya.

Maka dari itu, jangan sampai para santri ini terpengaruh hoax, mereka harus bisa membedakan mana yang hoax dan mana yang bukan hoax dan harus membekali diri untuk menangkal.

"Mereka harus menjadi pion pion yang bisa menjelaskan kepada masyarakat ini hoax ini bukan hoax. Karena santri ini kan memiliki banyak sekali sarana untuk bisa menyampaikan pesan baik. Karena santri dalam melakukan apapun itu ada dasar-dasar diniahnya, jadi orang akan semakin yakin jika santri yang bicara, mereka menyebarkan, dan mengklarifikasi berita baik," ujarnya. (asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com