Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Pemanfaatan ICT untuk Mengamankan Selat Malaka
Kolom Telematika

Pemanfaatan ICT untuk Mengamankan Selat Malaka


- detikInet

Jakarta - Pada tanggal 7-8 September 2005 ini Departemen Luar Negeri RI bekerja sama dengan International Maritime Organization (IMO) akan mengadakan pertemuan internasional bertajuk "The Straits of Malacca and Singapore: Enhancing Safety, Security and Environmental Protection" di Jakarta. Banyak pihak telah urun rembug mengenai bagaimana melakukan tindakan pengamanan di salah satu perairan terpadat di dunia tersebut. Termasuk di dalamnya usulan-usulan untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan pemantauan dan pengawasannya, sebagaimana telah di bahas di detikcom, (Baca: "Langkah Jitu Kelola Selat Malaka").Gambaran SistemSeperti apa sih sebenarnya solusi teknologi informasi untuk pengamanan perairan tersebut? Secara prinsip, sistem tersebut masuk kategori marine surveillance system. Sistem tersebut bisa memanfaatkan berbagai macam sensor untuk mendeteksi pergerakan objek di perairan. Sensor yang umum digunakan adalah radar pantai dan AIS (automatic identification systems). Penggunaan AIS sudah menjadi kewajiban bagi kapal-kapal internasional sesuai dengan amandemen terbaru mengenai Safety of Life at the Sea (SOLAS) dari IMO (International Maritime Organization). Selain itu bisa juga digunakan berbagai macam sensor lain termasuk CCTV untuk penginderaan visual.Β Β Β Β Referensi IMO untuk sistem semacam itu bisa dilihat pada gambar berikut:Contoh keluaran sistem semacam itu bisa dilihat pada gambar berikut ini.Simbol bintang menandakan keberadaaan kapal-kapal internasional yang tertangkap oleh sistem AIS, sementara simbol bulat adalah kapal-kapal yang tidak memakai AIS. Ini bisa kapal lokal, bisa juga kapal internasional yang mematikan perangkat AISnya. Kapal seperti ini nantinya akan ditangkap oleh instalasi radar pantai. Jangkauan AIS umumnya sekitar 30 mil laut, sesuai dengan karakter gelombang VHF yang menjadi basis teknologinya. Sedangkan jangkauan radar pantai tergantung pada beberapa variabel, seperti tinggi lokasi pemasangan, kuat sinyal, lebar pancaran (bisa diasosiasikan dengan panjang antena radar) dan faktor-faktor lain. Gambar contoh tersebut merupakan hasil tangkapan sebuah radar kapal berukuran 4 kaki yang sudah dimodifikasi. Jangkauannya sekitar 14 mil laut. Penggunaan radar pantai kelas yang lebih baik akan memberikan hasil yang lebih baik. Untuk keperluan pengamanan perairan, implementasi sistem seperti itu umumnya dapat menghasilkan:
  • Pengamatan kapal meliputi kecepatan, haluan, posisi, dan besaran kapal.
  • Pemberitahuan (alarm) otomatis jika terjadi:
    • pelanggaran aturan lalu lintas perairan setempat (misal: kapal tak dikenal masuk jalur pelayaran internasional, kapal internasional masuk jalur pelayaran domestik, dsb.)
    • kondisi ada dua atau lebih kapal yang saling merapat dan melambat di jalur yang tidak seharusnya (indikasi penyelundupan) dan ada kapal yang merapat mendekati kapal lain yang tidak mengubah kecepatan (indikasi rencana perompakan/pembajakan)
    • ada kapal baru yang mendadak muncul di area pengamatan tanpa diketahui jejak jalur pelayaran sebelumnya. Biasanya terjadi karena adanya kapal lebih kecil yang melepaskan diri atau keluar dari kapal yang lebih besar, yang merupakan indikasi dimulainya salah satu modus operandi rencana perompakan.
Dengan adanya sistem semacam itu koordinasi antar kapal dan pusat komando aparat berwenang juga bisa dilakukan dalam rangka penentuan target/sasaran dan koordinasi untuk pengejaran target operasi.Β Β Β Β Mahalkah implementasi sistem semacam itu? Tergantung, setidaknya pada dua hal: jenis sistem dan presisi pemantauan. Sistem surveillance semacam ini, dulu banyak memanfaatkan perangkat-perangkat khusus yang diproduksi secara terbatas. Kini sudah banyak sistem yang memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak yang jamak tersedia di pasaran. Akibatnya harga sistem bisa ditekan dari order jutaan dolar per titik menjadi ratusan ribu dolar saja pertitiknya. Sistem yang menghasilkan keluaran di atas misalnya, terpasang dengan menggunakan perangkat yang mudah dibeli di banyak toko komputer. Kemajuan teknologi software telah memindahkan sebagian besar proses komputasi ke tataran software, karena itu tak heran jika harga perangkat lunak untuk keperluan tersebut umumnya bisa jauh melebihi harga perangkat kerasnya.Faktor kedua adalah masalah presisi. Ini menyangkut kemampuan mengidentifikasi objek-objek berukuran kecil, jumlah objek yang banyak (pada lalu lintas padat seperti Selat Malaka), dan di masalah jangkauan pengawasan. Pada sistem berbasis AIS, penggunaan perangkat transponder kelas base station mutlak dilakukan. Ada beberapa instalasi yang mencoba memanfaatkan transponder kapal, tetapi umumnya kinerjanya menurun tajam ketika lalu lintasnya padat. Ini juga tidak lepas pada sifat teknik transmisi SOTDMA yang dipakai AIS. Ibarat kemampuan menerima SMS, tentu saja kemampuan handphone dan mesin SMS Center (SMSC) berbeda jauh. Perangkat AIS kelas base station umumnya dijual di pasaran pada kisaran harga 20 ribuan dolar, bandingkan dengan harga transponder kapal yang sekitar 3-5 ribu dolar.Pada sistem berbasis radar, masalahnya lebih kompleks lagi. Selain faktor instalasi fisik, rentang kemampuan radar juga sangat beragam. Radar untuk pemantauan semacam ini umumnya tersedia di pasaran pada kisaran harga yang sangat ekstrim, dari 20 ribuan, sampai 300 ribuan dolar Amerika. Bisa saja melakukan eksperimen dengan modifikasi radar kapal kelas 4-5 ribuan seperti yang penulis lakukan. Hanya saja jangkauannya relatif terbatas dan semakin jauh areanya, presisinya semakin rendah. Pada contoh di atas, jika ada kapal kecil (misalnya tug boat) yang berdampingan dengan kapal tanker besar pada jarak 6-8 mil, umumnya radar akan mengenalinya sebagai satu objek saja. Padahal itu salah satu modus operandi tindak kejahatan di laut: menggunakan kapal kecil untuk merampok kapal besar.(Penulis, Haemiwan Fathony, adalah praktisi teknologi informasi, sedang bermain-main dengan sistem surveillance laut. Penulis bisa dihubungi melalui e-mail iwanzf@cbn.net.id) (wsh/)







Hide Ads