Jumat, 04 Jan 2019 08:32 WIB

Hacker Bobol Akun Twitter Lawas Sebar Propaganda Teroris

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: twitter Foto: twitter
Jakarta - Hacker tampaknya memanfaatkan celah di Twitter untuk menyebarkan propaganda teroris. Mereka membobol akun-akun yang telah tidak aktif bertahun-tahun.

Dilansir detikINET dari Tech Crunch, Jumat (4/1/2019) hacker dan peneliti keamanan, WauchulaGhost menemukan bahwa hacker pendukung kelompok teroris ini memanfaatkan celah yang telah ada bertahun-tahun di Twitter.



Pada awalnya, Twitter tidak membutuhkan pengguna untuk mengkonfirmasi alamat email saat mendaftarkan akun mereka, sehingga mereka bisa menggunakan layanan media sosial ini tanpa alamat email yang valid. Jadi, banyak dari akun-akun yang dibajak ini menggunakan alamat email yang tidak valid, atau alamat email yang telah lama kadaluarsa.

Akun-akun ini juga kadang menggunakan alamat email dengan nama yang sama dengan username mereka. Karena Twitter hanya menutup sebagian dari alamat email tersebut, hacker dengan mudah menebak bagian dari alamat email yang ditutupi kemudian mencoba login dan mereset password.

Akun-akun tersebut digunakan oleh hacker untuk menyebarkan propaganda teroris lewat foto, teks dan video serta me-retweet dari akun propaganda lainnya. Tidak main-main, akun yang dibajak juga terhitung populer, dengan beberapa akun memiliki puluhan ribu follower.

Sebagian besar akun yang ditemui Tech Crunch telah dihapus oleh Twitter, tapi masih ada beberapa yang masih aktif.

Hacker Bobol Akun Twitter Lawas untuk Sebarkan Propaganda TerorisFoto: TechCrunch


Dalam pernyataan resminya kepada Tech Crunch, juru bicara Twitter mengatakan bahwa mereka sedang mencoba menyelesaikan masalah tersebut, walaupun Twitter mengklaim bahwa mereka bukan yang bertanggung jawab atas masalah ini.

"Menggunakan ulang alamat email dengan cara seperti ini bukanlah masalah baru untuk Twitter atau layanan online lainnya," ujar juru bicara Twitter.

"Sebagai peran kami, tim kami sadar dan bekerja untuk mengidentifikasi solusi yang dapat membantu menjaga akun Twitter aman dan terlindungi," sambungnya.



Twitter sendiri mengklaim telah merazia lebih dari satu juta akun yang menyebarkan dan mempromosikan konten terorisme sejak tahun 2015. Di paruh pertama tahun 2018, mereka juga telah merazia lebih dari 205.000 akun.



(vim/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed