Rabu, 24 Okt 2018 13:16 WIB

Algoritma, Sumber Pendapatan Sekaligus Momok YouTuber

Virgina Maulita Putri - detikInet
YouTube. Foto: Sean Gallup/Getty Images YouTube. Foto: Sean Gallup/Getty Images
Jakarta - Ketika pertama kali membuka homepage YouTube, kita pasti disambut dengan halaman yang penuh dengan rekomendasi, baik itu video atau kanal. Rekomendasi ini dibangun oleh sistem yang bernama algoritma.

Algoritma milik YouTube sendiri dipuja sekaligus ditakuti oleh YouTuber. Betapa tidak, dalam satu menit ada 400 jam konten yang diunggah ke YouTube. Nah, algoritma ini yang menentukan mana di antara ratusan konten tersebut yang cocok untuk menjadi video rekomendasi.

Ketika menjadi YouTuber profesional yang kehidupannya bergantung kepada berapa banyak orang yang menonton video mereka, algoritma juga yang menentukan berapa banyak pendapatan yang akan YouTuber terima dari iklan.



Semakin banyak video unggahan YouTuber yang dijadikan rekomendasi oleh algoritma, berarti semakin banyak yang menonton dan semakin banyak pendapatan dari iklan yang diterima.

Banyak yang mengira ini merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan krisis kesehatan mental di kalangan YouTuber. Ini mendorong mereka untuk terus mengeluarkan konten setiap hari, jika tidak ranking video atau kanal mereka akan turun di mata algoritma dan subscriber.

"Konten yang dirilis secara konstan membangun loyalitas audiens," kata Austin Hourigan, YouTuber yang menjalankan kanal ShoddyCast yang telah memiliki 1,2 juta subscriber, dikutip detikINET dari The Guardian, Rabu (24/10/2018).

"Semakin besar loyalitas yang dibangun, semakin besar kemungkinan penonton kalian akan kembali lagi, yang nantinya akan memberikan kalian semacam jaminan keuangan di tempat yang terus berubah-ubah," sambungnya.



Kebencian terhadap algoritma YouTube yang dianggap pilih kasih juga memicu YouTuber, Nasim Najafi Aghdam untuk menyerang kantor YouTube di California, AS pada bulan April 2018. Dengan membawa senjata api, ia melukai tiga orang sebelum akhirnya ia bunuh diri.

Dalam video yang ia unggah sebelum serangan terssebut, ia menganggap algoritma YouTube tidak mempromosikan video dan kanalnya, sehingga tidak ada orang yang menonton videonya.




Tonton juga 'Polisi Ini Sambilannya Jadi YouTuber dan Gamer':

[Gambas:Video 20detik]

(fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed