Selasa, 16 Okt 2018 12:35 WIB

Mengenang Paul Allen, Sebuah Obituari

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Paul Allen, pendiri Microsoft yang baru saja meninggal dunia. Foto: Getty Images Paul Allen, pendiri Microsoft yang baru saja meninggal dunia. Foto: Getty Images
Jakarta - Kabar duka menyelimuti jagat teknologi setelah salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen, meninggal dunia. Kanker Limfoma non-Hodgkin menjadi penyebab kematiannya di usia 65 tahun.

Allen lahir pada 21 Januari 1953 di Seattle, Amerika Serikat, dari pasangan Kenneth Sam Allen dan Edna Faye Allen. Baik ayah maupun ibunya sama-sama bekerja di institusi pendidikan.

Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Allen juga menurunkan sejumlah sifat yang dimiliki orang tuanya. Ia sangat suka membaca, terutama novel dan bacaan mengenai fiksi ilmiah. Selain itu, ia juga diketahui menyukai musisi legendaris Jimi Hendrix, yang sama-sama berasal dari Seattle.

Perjalanan Allen dalam mendirikan Microsoft bermula saat ia memutuskan untuk bersekolah di Lakeside School, salah satu sekolah swasta di Seattle, ketika dirinya duduk di bangku SMP.




Di sana, ia bertemu dengan Bill Gates, yang usianya dua tahun lebih muda dibanding dirinya. Saat itu, Allen berada di kelas 11. Keakraban antara keduanya terjalin lantaran memiliki ketertarikan di bidang yang sama.

Ya, baik Allen maupun Gates sama-sama gila komputer. Terlebih, keduanya juga merupakan anak yang pandai. Untungnya lagi, Lakeside School memiliki komputer sebagai salah satu fasilitasnya, sebuah kelangkaan di SMA Amerika Serikat pada saat itu.

Walau begitu, proyek perdana mereka tidak lahir di sekolah tersebut. Pada 1971, ketika Allen sudah menimba ilmu di Washington State University jurusan ilmu komputer, mereka baru mendirikan usaha secara bersama-sama.

Saat itu, duo tersebut mendirikan usaha kecil bernama Traf-O-Data. Di situ, mereka membangun komputer sederhana untuk menganalisis data lalu lintas. Usaha tersebut belum menghasilkan uang bagi mereka, tapi dari situ keduanya yakin untuk lebih fokus dalam menulis kode untuk software ketimbang membuat hardware.

Kisah berlanjut ketika Allen memutuskan untuk keluar dari kampus dan pindah ke Boston untuk bekerja di Honeywell sebagai programmer. Di sisi lain, Gates memutuskan untuk kuliah di Harvard University.

Cikal Bakal Berdirinya Microsoft

Pada Desember 1974, Allen sedang dalam perjalanan untuk menemui Gates. Saat itu, ia melihat sampul majalah Popular Electronics yang menampilkan Altair 8800, sebuah perangkat komputer mikro yang bisa dirancang sendiri.

Setelahnya, Allen langsung meyakinkan Gates agar bersama-sama menulis bahasa pemrograman BASIC untuk chip Intel yang digunakan Altair. Padahal, saat itu banyak ahli yang belum bisa melakukannya.

Menariknya, 'kerja rodi' yang mereka lakukan selama dua bulan sukses membuahkan hasil nyata. Mereka pun pergi ke Albuquerque, New Mexico, AS, dengan harapan bisa menjual program buatannya ke Micro Instrumentation and Telemetry Systems's (MITS), perusahaan manufaktur yang membuat Altair.

Lucunya, dalam perjalanan, Allen baru menyadari jika bagian penting dari kode tersebut hilang. Ia pun harus menulis ulang di atas pesawat. Bagusnya, perjuangannya itu tak sia-sia.

Pihak MITS memberi mereka kesempatan demonstrasi dan ternyata, penerjemah BASIC itu dapat bekerja dengan sempurna. MITS pun setuju mendistribusikannya dengan nama Altair BASIC.

Kelahiran Microsoft

Keberhasilan proyek itu menjadi awal kelahiran Microsoft pada 4 April 1975. Nama tersebut pun diberikan sendiri oleh Allen, yang ide awalnya dituliskan menggunakan tanda "-" di antara Micro dan Soft, yaitu Micro-Soft.

Saat itu, Allen bekerja di MITS, sedangkan Gates masih kuliah di Harvard University. Saat itu, keduanya masih menjalankan Microsoft sebagai usaha sampingan. Untungnya, hal tersebut tak berlangsung lama sehingga kini banyak dari kita bisa menikmati software buatan perusahaan tersebut.

Pada awal 1977, Microsoft menunjukkan perkembangan yang menjanjikan sehingga Allen memutuskan keluar dari MITS. Keputusan serupa pun diambil Gates yang mundur dari bangku perkuliahan. Keduanya pun menempatkan usahanya itu sebagai fokus utama.

Dikenal sebagai seorang yang visioner, masih pada awal 1977, Allen mengungkapkan pandangannya mengenai dunia jaringan. Hal tersebut diumbarnya kepada Gates dan rekan lainnya.



Salah satu foto paling ikonik dari Paul Allen (kiri) dan Bill Gates, duo pendiri Microsoft.Salah satu foto paling ikonik dari Paul Allen (kiri) dan Bill Gates, duo pendiri Microsoft. Foto: Paul Allen

Ia memprediksi personal computer (PC) akan menjadi benda yang diandalkan oleh banyak orang, dengan kemampuan untuk menulis catatan, melakukan penghitungan, memberikan pengingat, dan menjalankan ribaun pekerjaan lainnya. Dan hal tersebut pun benar adanya, terbukti dengan kondisi di dunia teknologi saat ini.

Visinya semakin mendekati kenyataan ketika pada 1980, IBM datang ke Microsoft dan meminta untuk menyediakan sistem operasi bagi PC buatannya. Perusahaan yang kini dipimpin Satya Nadella itu pun membeli sistem operasi dari perusahaan kecil asal Seattle.

Dari situ, mereka mengembangkannya sehingga menjadi MS-DOS. Komputer IBM pun terbang tinggi, dan hal tersebut tentunya juga berlaku untuk Microsoft.

Pada 1981, Gates memberikan pandangannya terhadap peran keduanya di Microsoft. Menurutnya, Allen adalah "idea man", sedangkan dirinya adalah "the doer".

"Saya lebih agresif dan sangat kompetitif, orang terdepan dalam menjalankan bisnis dari hari ke hari, sedangkan Paul (Allen) menjaga kami tetap di depan dengan riset dan pengembangan," ujarnya kala itu.

Pertengkaran dengan Bill Gates

Sayang, kesuksesan Microsoft tidak berbanding lurus dengan hubungan pendirinya. Ya, Allen dan Gates terlibat ketegangan sehingga kedekatannya pun rusak.

Cerita rusaknya hubungan keduanya terungkap dalam buku biografi Allen berjudul Idea Man: a Memoir. Di situ, ia banyak menceritakan kedekatannya dengan Gates sekaligus bagaimana berakhirnya hubungan baik mereka.

Masalah muncul ketika pembagian saham dilakukan. Allen menyebut Gates meminta bagian lebih banyak karena merasa bekerja lebih keras.

"Aku berasumsi kemitraan kami 50-50. Tapi Bill punya ide lain," tulis Allen.




Gates meminta bagian saham Microsoft lebih besar, dengan pembagian 64% untuknya dan 36% menjadi porsi Allen. Ia pun akhirnya setuju karena merasa Gates sangat bawel dan dia tak ingin berkonflik.

Sayang, relasi mereka makin buruk seiring bertambah besarnya Microsoft. Allen dan Gates sering adu argumentasi selama berjam-jam.

Kemudian puncaknya, Gates memasukkan temannya Steve Ballmer yang di kemudian hari akan menjadi CEO Microsoft. Gates langsung menawari bagian saham 8,75% ke Ballmer, yang membuat Allen marah.

Kemalangannya di Microsoft

Pada 1982, Allen mulai menjalani pengobatan terhadap masalah yang dialaminya pada kelenjar getah bening. Walau sukses dijalani, tapi setelahnya ia menjadi menjadi mudah lelah dan dibayang-bayangi statusnya yang bukanlah makhluk abadi.

Setahun kemudian, ia juga harus berduka lantaran ayahnya meninggal akibat penggumpalan darah. Hal tersebut terjadi lima hari pasca yahnya menjalani operasi lutut yang rutin dilakukannya.

Kejadian bertubi yang menimpanya ini pun pun membuatnya mengevaluasi ulang prioritasnya. Masih di tahun yang sama, ia memutuskan untuk mundur dari operasional harian di Microsoft.

Setelahnya, ia menghabiskan dua tahun untuk bepergian keliling Eropa seraya menimbang apa yang ingin dilakukannya di sisa hidupnya. Ia pun menyadari bahwa apa yang ia tahu adalah dirinya ingin melakukan sesuatu yang bisa menjadi terobosan.

Kala memutuskan untuk kembali ke Microsoft, sayang seribu sayang, dia merasa tak dianggap lagi. Tak hanya itu, Allen juga mendengar kalau Gates dan Ballmer ingin mengurangi jatah sahamnya.




"Tidak bisa lagi menahan diri, aku meledak pada mereka dan berteriak semua ini tidak bisa dipercaya. Menunjukkan karaktermu (Gates) yang sebenarnya," kata Allen memaparkan dalam buku biografinya.

Ballmer dan Gates pun menyadari kesalahan mereka dan minta maaf, tapi bagi Allen, hubungan mereka sukar diperbaiki lagi. Ia pun memutuskan mundur dari Microsoft.

Gates mencoba membeli saham Microsoft yang dimiliki Allen seharga USD 5 per lembar, tapi Allen menolaknya. Keputusan itu sangat tepat karena harga saham Microsoft kemudian sangat tinggi.

Pada 1986, Microsoft mulai melantai di bursa, alias IPO. Pada penghujung hari pertama sahamnya diperdagangkan, porsi yang dimiliki Allen bernilai USD 134 juta. Sekarang saja kekayaan Allen lebih dari USD 21 miliar karena masih memiliki banyak saham Microsoft.

Kehidupan di Luar Microsoft

Selepas berkarir di Microsoft, Allen mencoba peruntungan untuk menjadi pengusaha, investor, dan menyibukkan diri di kegiatan filantropi. Pada 1995, ia sempat mengatakan untuk berinvestasi pada hal-hal yang orang-orang merasa antusias terhadapnya.

Usahanya yang terbesar adalah Vulcan, perusahaan yang bergerak di bidang peminjaman dan investasi. Di bawah naungan perusahaan ini lah Stratolaunch, pesawat terbesar sejagat, beroperasi.

Stratolaunch, pesawat terbesar sejagat warisan pendiri Microsoft Paul Allen.Stratolaunch, pesawat terbesar sejagat warisan pendiri Microsoft Paul Allen. Foto: Stratolaunch

Selain itu, melalui Vulcan Sports and Entertainment (VSE), perusahaan ini juga menjalankan operasi bisnis dengan menaruh kepemilikan di sejumlah klub olahraga di Negeri Paman Sam. Portland Trail Blazers (NBA), Seattle Seahawks (NFL), dan Seattle Sounders (MLS) menjadi nama-nama tersebut.




Di samping itu, Allen juga memiliki yacht yang diklaim menjadi terbesar di dunia. Bernama Octopus, yacht tersebut memiliki nilai USD 250 juta dengan fasilitas mentereng seperti dua helipad, kolam renang, sebuah kapal selam, 13 kabin tamu, dan studio rekaman.

Selain getol berbisnis, ia pun tak lupa untuk memberikan sedekah. Sepanjang hidupnya, tak kurang dari USD 2 miliar ia donasikan untuk perpustakan, musem, penelitian mengenai AIDS, dan bahkan riset untuk mencari alien.

Kebanyakan kegiatan filantropinya disalurkan melalui Allen Institute yang bergerak untuk memberikan pendanaan terhadap riset ilmiah. Salah satu fokusnya adalah pada kecerdasan buatan.

Kambuhnya Penyakit Lama

Pada 2009, kanker kelenjar getah bening yang dideritanya menyapanya kembali. Sejak saat itu lah, ia terus berjuang melawannya.

Akhirnya, pada Senin (15/10/2018) sore waktu setempat, ia menghembuskan napas terakhirnya di Seattle. Komplikasi terhadap penyakitnya itu yang menjadi penyebabnya.

Selamat jalan, Paul Allen. Terima kasih telah melahirkan Microsoft dan memberikan kontribusi besar di dunia teknologi.




Tonton juga 'Kesedihan Petinggi Teknologi atas Kepergian Pendiri Microsoft':

[Gambas:Video 20detik]

(mon/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed