Target Penetrasi Internet APJII Diragukan
- detikInet
Jakarta -
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menargetkan penetrasi Internet mencapai 20 persen penduduk pada akhir 2007. Namun target ini diragukan oleh mantan sekjen-nya. Tanpa sosialisasi, target tersebut dianggap tidak mungkin tercapai. Sesuai hasil musyawarah nasional APJII Mei 2005 yang lalu, asosiasi para Internet Service Provider (ISP) itu menargetkan peningkatan pengguna Internet mencapai 20 persen penduduk Indonesia pada akhir 2007. Jika jumlah penduduk kurang lebih ada 200 juta, maka angka yang dicari adalah 40 juta. Heru Nugroho, mantan Sekretaris Jenderal APJII, memandang pesimis target tersebut. Menurut Heru, yang aktif di Yayasan Sekolah2000, jika upayanya masih seperti sekarang target itu tidak akan tercapai. "Sampai akhir tahun 15 juta pengguna saja tidak akan tercapai," ujarnya kepada detikinet, Jumat (19/8/2005). "Upaya-upaya dari APJII untuk sosialisasi kurang. Soal Indonesia Internet Exchange, domain .id, dan sebagainya itu kan berdampak pada existing user. Tapi itu kan tidak menstimulasi pengguna baru," tukas Heru.Selain target APJII, Indonesia juga ditantang oleh target World Summit on Information Society (WSIS). Dari pertemuan tingkat tinggi yang digelar di Jenewa tahun 2003 itu tercanangkan target muluk yang membebani pundak Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Targetnya: Pada tahun 2015, separuh penduduk dunia harus memiliki akses ke Internet. Secara harfiah ini berarti di Indonesia, pada tahun 2015, penetrasi pengguna Internet harus mencapai 50 persen penduduk. Heru memandang upaya Kominfo untuk memenuhi target itu masih minim. Sekadar tahu saja, 'bos Kominfo' Sofyan Djalil adalah satu-satunya Menteri dari Partai Demokrat. Sedangkan di Partai itu Heru berposisi sebagai Wakil Ketua bidang Telematika di Departemen Kominfo. Menurut Heru, saat ini sudah bukan waktunya lagi memperdebatkan perlu-tidaknya Information and Communication Technology (ICT). "Kalau masih berkutat dengan manfaatnya ICT ada apa nggak, ya masih primitif," tuturnya.
(wsh/)