Selasa, 25 Sep 2018 20:10 WIB

Catatan dari Hangzhou

Menjelajahi Masa Depan Dunia Digital Alibaba

Rachmatunnisa - detikInet
Mobil otonom pengantar barang. Foto: detikINET/Rachmatunnisa Mobil otonom pengantar barang. Foto: detikINET/Rachmatunnisa
Hangzhou - Tak lama setelah pendiri Alibaba Jack Ma mengumumkan rencana pensiun, Alibaba Cloud, divisi teknologi cloud milik Alibaba Group, menggelar hajatan besar The Computing Conference 2018.

Di hajatan yang digelar pada 19-22 September 2018 di Yunqi Town, Hangzhou, China ini, kita diajak menjelajahi dan merasakan langsung seperti apa masa depan dunia digital.

Boleh dibilang, The Computing Conference adalah etalase Alibaba yang memperlihatkan perusahaan ini tak cuma jadi raksasa retail, tapi juga memimpin inovasi digital di China.

Menjelajahi Masa Depan Dunia Digital Alibaba Suasana The Computing Conference 2018. Foto: detikINET/Rachmatunnisa


Pemanfaatan otomatisasi, algoritma dan jaringan yang dilakukan Alibaba tampak berjalan mulus. Di masa depan, penggunaan teknologi kecerdasan buatan, internet mobile dan cloud computing adalah keniscayaan. Di China, hal ini sudah terjadi.

Alibaba memperlihatkan bagaimana teknologi dimanfaatkan di berbagai sendi kehidupan, dari keperluan logistik, belanja, smart city hingga kebutuhan di rumah.

Menjelajahi Masa Depan Dunia Digital Alibaba Belanja serba pakai ponsel. Foto: detikINET/Rachmatunnisa


Belanja mudah dan menyenangkan

Kejayaan Alibaba dalam urusan retail sudah tak diragukan. Hal ini diperkuat dengan penerapan teknologi berbelanja melalui konsep new retail yang secara konsisten terus didorong oleh sang pendiri Jack Ma.

Lihat saja bagaimana jaringan supermarket Hema milik Alibaba sukses menggabungkan pengalaman berbelanja online dan offline. Di supermarket ini, konsumen berbelanja menggunakan aplikasi yang terinstal di ponsel.

Berbelanja di Hema juga tidak perlu bertanya pada pegawai. Setiap produk punya QR code yang bisa dipindai menggunakan aplikasi Hema di ponsel. Nantinya akan muncul informasi detail mengenai produk yang akan dibeli.



Selesai berbelanja, kita memindai sendiri belanjaan yang dibeli. Tak ada kasir. Pembayaran langsung terdebet dari akun Alipay. Kemudian barang ditempatkan di tas khusus dan belanjaan akan 'berjalan sendiri'. Tinggal duduk manis, tak repot membawa barang, belanjaan tiba di rumah.

Konsep semacam ini, juga diterapkan di mini market, toko pakaian, toko kosmetik, hingga ke kedai makanan dan minuman tradisional.

Semua dilakukan lewat aplikasi di ponsel dan berbaur mulus dengan pengalaman berbelanja di tempat. Serba otomatis, tanpa kasir.

Menjelajahi Masa Depan Dunia Digital Alibaba Robot pelayan mengantarkan makanan dan pakaian. Foto: detikINET/Rachmatunnisa


Robot gantikan manusia

Alibaba juga berupaya memenuhi kebutuhan berbagai pelayanan dengan keberadaan robot, salah satunya robot pelayan hotel yang tampil memukau pengunjung The Computing Conference 2018.

Seperti pelayan hotel manusia, robot ini juga bisa diajak berkomunikasi dengan perintah suara, sentuhan atau gestur tangan. Robot ini punya tugas utama mengantarkan makanan hingga pakaian ke para tamu hotel.



Robot lainnya yang dipamerkan Alibaba adalah robot untuk membantu tugas polisi mengawasi terjadinya tindak kriminal dan kecelakaan. Ada juga robot tangan untuk keperluan logistik yang cekatan mengepak barang.

Perusahaan yang didirikan Jack Ma 19 tahun lalu ini bahkan berambisi untuk menjadi yang terdepan dalam riset dan pengembangan (research and development/R&D) kecerdasan buatan dengan mengemukakan rencan membuat chip robot sendiri.

Menjelajahi Masa Depan Dunia Digital Alibaba Robot polisi jadi bagian dari sistem kota pintar Hangzhou. Foto: detikINET/Rachmatunnisa


Kota yang semakin pintar

Hangzhou juga menjadi kota yang pintar dengan pemanfaatan sistem berbasis teknologi cloud dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan jalan-jalan di kota.

Sistem ini telah menjadi infrastruktur kota Hangzhou yang mencakup area sebesar 420 kilometer persegi, termasuk 1.300 lampu lalu-lintas.

Lebih dari 200 petugas lalu-lintas terkoneksi melalui telepon
genggam, sehingga mereka dapat menerima data secara real time terutama jika terjadi keadaan darurat di jalan.

Pada versi terbaru yang dirilis saat perhelatan The Computing Conference 2018, sistem ini mengoptimalkan upaya pemadaman kebakaran dengan
memberikan informasi penting untuk para petugas.



Informasi yang bisa mereka dapatkan termasuk tekanan air, jumlah dan posisi hidran air di area tertentu, lokasi pipa gas, dan hal-
hal penting lainnya.

Sistem tersebut memangkas waktu, karena kecerdasan buatan dan algoritma yang canggih menganalisis banyak data menjadi
informasi untuk pengambilan keputusan dengan cepat.

Sistem yang sama juga diterapkan untuk kebutuhan medis dan mendeteksi arus jalan. Jika dibutuhkan untuk keadaan darurat medis, sistem ini otomatis menyesuaikan lampu lalu-lintas agar kendaraan seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran dapat melewati jalan tanpa terganggu.

Menjelajahi Masa Depan Dunia Digital Alibaba Teknologi Alibaba lindungi satwa liar. Foto: dok: Alibaba


Teknologi merambah alam liar

Tak sampai di situ, Alibaba juga menunjukkan bahwa teknologi pun merambah ke wilayah yang sebelumnya tak terpikir oleh kita, salah satunya kawasan hutan belantara.

Alibaba Cloud mengumumkan kolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Margasatwa Republik Kenya, dalam pemanfaatan teknologi Alibaba Cloud guna mendukung Proyek Perlindungan Satwa Kenya.

Pada proyek ini, kedua pihak akan menggunakan berbagai fitur yang terkoneksi dengan platform IoT Alibaba Cloud.

Teknologi seperti sensor untuk melacak satwa, kamera dengan sensor infra merah, pos-pos perkiraan cuaca pintar, peralatan untuk para ranger, dan drone pemantau area luas rencananya akan diterapkan untuk mengumpulkan data real time pergerakan dan kondisi kesehatan satwa secara umum.

Platform ini kemudian menganalisis data dan memprediksi perilaku serta rute jelajah, dan membantu pusat komando untuk berjaga-jaga akan potensi risiko dan bahaya seperti penangkapan ilegal dan konflik antara manusia dan satwa.



Teknologi ini pun akan membantu pengaturan tim lapangan taman nasional menjadi lebih sigap dan lebih baik dalam mengelola Taman Nasional.

Seperti itulah kira-kira dunia serba digital. Bukan sekadar ramalan, tapi seperti kita saksikan, sudah mulai diterapkan. Saat ini memang baru China dan negara-negara maju lain yang sudah menjalankannya. Namun kita pun harus bersiap. Cepat atau lambat, semua kecanggihan ini akan menyentuh kita.

(rns/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed