Rabu, 08 Agu 2018 09:48 WIB

Baidu Yakin Menang Lawan Google di China

Josina - detikInet
Foto: Reuters/Aly Song Foto: Reuters/Aly Song
Jakarta - Rencana Google untuk kembali ke China tidak membuat Baidu resah. Malah mereka yakin menang bila harus 'bertarung' dengan rakasa pencarian internet asal Amerika Serikat itu.

"Baidu akan menang. Perusahaan-perusahaan China saat ini memiliki kemampuan dan kepercayaan diri untuk bersaing secara global," kata CEO Baidu Robin Li di akun sosial medianya.

Apa yang dikatakan Li memang ada benarnya. Huawei sebagai bukti, mereka mampu mendepak Apple dari urutan kedua pasar ponsel global pada kuartal kedua 2018. Sang pembuat iPhone itu kini berada di posisi ketiga.



Diberitakan sebelumnya, Google yang telah diblokir di Cina sejak 2010 dikabarkan akan menghadirkan kembali mesin pencariannya di negeri tirai bambu tersebut.

Hanya saja mesin pencarian Google di China akan berbeda. Hasil pencarian akan menyensor beberapa keyword dan topik sensitif sesuai permintaan pemerintah China.

Berdasarkan laporan seorang whistleblower yang dikutip detikINET dari The Verge, Senin (6/8/2018), Google telah mengembangkan mesin pencari yang disensor di bawah nama kode 'Dragonfly' sejak awal 2017.

Mesin pencari ini dikembangkan sebagai aplikasi untuk smartphone Android yang memiliki pangsa pasar sebesar 80% di China. Mesin pencari ini akan memblokir pencarian sensitif dan menyaring situs yang dilarang oleh sensor web China, seperti Wikipedia dan BBC News.



Hasil pencarian yang disensor akan meliputi seluruh platform pencarian, termasuk pencarian gambar, pemeriksa ejaan, dan suggested search.

Tetapi, untuk mesin pencari Google dapat hadir di China, mereka harus melewati beberapa rintangan seperti pesetujuan dari pemerintah China dan keyakinan Google bahwa mesin pencarinya lebih baik dibandingkan mesin pencari utama di China, Baidu.

Internet di China sendiri disensor ketat dengan adanya 'Great Firewall' yang melarang warganya untuk mengakses banyak situs. Selain itu, informasi mengenai topik seperti agama, kejahatan polisi, kebebasan berpendapat, dan demokrasi disaring dengan hebat. (jsn/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed