Di Kenya
Pocket PC Bantu Kurangi Biaya Sekolah
- detikInet
Jakarta -
Sebuah pilot project tengah dilancarkan di Kenya, Afrika. Sebuah proyek teknologi untuk mendukung mengurangi biaya pendidikan yang masih terbilang mahal untuk negara miskin seperti Kenya.Proyek ini bernama Eduvision Pilot Project. Sebuah proyek yang menghasilkan pocket personal computer (PC) pengganti buku teks sekolah. Pocket PC ini dinamai e-slates."E-slates ini berisikan semua informasi yang dapat ditemukan di dalam buku teks. Bahkan tak terkecuali informasi lain," tutur Maciej Sudra, pendiri Eduvision seperti dilansir BBC News yang dikutip detikinet Senin (1/8/2005).E-slates memiliki fasilitas koneksi wi-fi dan beroperasi dengan software berlisensi open-source. Hal ini tentu saja membuat harganya menjadi lebih terjangkau.Konten yang dikandungnya adalah konten teks, informasi visual dan pertanyaan. Informasi visual ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan file audio, video klip, dan tentunya animasi.Tetapi untuk saat ini e-slates hanya berisikan textbooks format digital. Meski begitu, harapan ke depannya murid-murid dapat menyelesaikan tugas sekolah dengan alat ini dan mengirimkannya kepada guru mereka. Sehingga staff pengajar dapat menilai pekerjaan rumah dan segera mengirimkan nilainya kepada murid mereka.Sementara itu, alasan pemilihan pocket PC ketimbang desktop adalah karena pocket PC lebih mudah dibawa-bawa. Sehingga, anak-anak dapat membawa benda itu ke rumah.Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah metode belajar lewat alat ini dinilai lebih murah. Jadi lebih cost-effective dibanding metode pembelajaran tradisional.Sekolah yang menjadi objek pilot project ini adalah sebuah sekolah dasar lokal bernama Mbita Primary School. Ini adalah sekolah dasar yang berada di area kampus yang paling terkenal dalam urusan riset.Sebagai satu-satunya sekolah yang berada di area yang terjangkau listrik, Mbita boleh dibilang cukup istimewa. Walaupun masih harus menderita masalah klasik yang biasa dihadapi sekolah-sekolah negeri lainnya. Misalnya, kelas yang padat dipenuhi anak-anak dan keadaan proses belajar yang memaksa mereka harus saling berbagi buku pelajaran.Ini juga merupakan imbas dari kebijakan pemerintah Kenya dua tahun lalu. Pemerintah menetapkan program sekolah dasar bebas biaya. Akibatnya, banyak anak mendaftar untuk sekolah. Padahal sumber daya pengajar sangat kurang. Matthew Herren, mitra pendiri Eduvision mengatakan, keluarga setidaknya harus menghabiskan US$100 (Rp 1 juta) per tahun untuk membeli buku pelajaran anak-anak.Namun dengan sistim ini, diharapkan segalanya bisa lebih tahan lama. E-slates mampu bertahan lebih dari setahun. Ini tentu saja membantu mengurangi biaya pendidikan.Terlebih lagi, konten di dalam e-slates dapat diperbaharui secara wireless. Meski transmisi penyebaran informasinya butuh koneksi wi-fi.Ini artinya, mereka dapat memasukan segala macam informasi ke dalam e-slates. Termasuk buku teks yang baru saja terbit hingga konten lokal atau halaman dari situs.Tim Eduvision juga telah membuat sistim yang lebih rapi untuk proses pemasukan informasi ke dalam e-slates. Konten dibuat khusus dengan format khusus e-slate. Kemudian pusat operasi menyalurkan materi lewat satelit radio yang kemudian di-downlink ke sistim penerima satelit radio di sekolah itu.Setelah itu informasi tadi disebar ke para siswa lewat stasiun transmisi secara wireless. Akhirnya, cara belajar yang baru pun lahir! Menyenangkan bukan? Disamping keuntungan, ada pula kerugian. Asisten Menteri Pendidikan Kenya memaparkan, daya jangkau listrik yang kurang menyebabkan pengguna e-slates agak kesulitan. Karena alat ini harus di-charge.Belum lagi mesin ini cukup rentan jika terbanting. Kemungkinan terbanting atau terjatuh sangat besar mengingat keadaan geografis Kenya yang berundak-undak.Status proyek yang masih pilot project meski sudah berjalan selama 18 bulan ini juga jadi hambatan. Asisten Menteri Pendidikan lebih lanjut mengatakan, proyek ini masih dinilai mengecewakan baik dari segi disain maupun konsep. "Kita harus hati-hati, jangan terlalu banyak mencoba. Ini adalah lompatan besar. Bahkan sangat besar. Terutama untuk negara yang penduduknya belum banyak tahu soal desktop atau kegunaan komputer," tandasnya. Kendatipun begitu, Eduvision tetap bersikeras. Pihaknya yakin hal ini akan berperan besar terhadap masa depan digital Afrika. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?
(ien/)