Temukan Cara Unik
Google Berniat Patenkan Iklan Sindikasi
- detikInet
Jakarta -
Google mengklaim telah menemukan cara unik untuk mendistribusikan iklan secara online lewat berita sindikasi. Dan berniat mematenkan teknologi tersebut. Bagaimana tanggapan kompetitor?Jika diberikan, paten ini sedianya akan menjadi hak ekslusif Google untuk menyertakan iklan kedalam sindikasi informasi. Misalnya lewat Really Simple Sundication (RSS). RSS sebuah format standar untuk menampilkan konten dari situs berita online, blog, lowongan kerja dan situs-situs lain. Trend ini cukup menarik minat para pebisnis.Google dan Yahoo kini tengah mempelajari potensi sindikasi sebagai medium baru untuk menawarkan iklan. "Jika Google diijinkan untuk membuat hak patennya, maka hal ini akan menjadi hantaman besar bagi para lawan bisnisnya di lapangan," papar Charlene Li, analis Forrester Research. Seperti dilansir CNET News yang dikutip detikinet Minggu (31/7/2005).Karyawan Google, Nelson Minar adalah orang yang mengajukan permohonan terkait. Yang sekarang masih menjadi tinjauan lembaga hak paten dan perdagangan Amerika Serikat pada 31 desember 2003. Sistem lain untuk pendistribusi iklan teks lewat sindikasi RSS, termasuk diantaranya Feedster, Kanoodle, Moreover Technologies dan Yahoo. Yahoo masih tetap mengetes sistem ini, ketika Kanoodle and Moreover sudah meluncurkan layanan ini secara bersamaan pada bulan Februari. Sindikasi iklan adalah hal yang belum lama dilakukan Google. Percobaan sistem ini mulai dilakukan bulan April dan mulai menjual iklan pada bulan Mei.Secara spesifik, permintaan paten Google mencakup pengiriman iklan dengan menggunakan server iklan otomatis. Pelayanan ini digunakan untuk menyediakan kata kunci atau iklan berbasis konten. Iklan disertakan secara langsung kedalam sindikasi. Ketika Google dan Yahoo dimintai pendapatnya mengenai hak paten ini, mereka menolak untuk mendiskusikannya. Minar pun tidak ingin buru-buru berkomentar. Begitu pula anggota dari Feedster, Kanoodle dan Moreover.Sindikasi lewat format RSS masih terbilang baru bagi kebanyakan orang. Tahun lalu saja, hanya 5 persen pengguna internet yang menggunakan teknologi sindikasi terkait.Terutama yang digunakan untuk membaca headline berita dan konten lainnya. Demikian menurut hasil penelitian dari Pew Internet dan American Life Project.
(ien/)