Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Air Putih Fokus Bangun Serat Optik di Aceh

Air Putih Fokus Bangun Serat Optik di Aceh


- detikInet

Jakarta - Yayasan Air Putih, relawan teknologi informasi untuk pemulihan Aceh dan Nias pasca bencana, menganggap proyek infrastruktur pre-WiMax hampir rampung. Kini, mereka fokus membangun serat optik dan pengembangan komunitas. Pasca bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh dan Nias, sekelompok relawan Teknologi Informasi (TI) yang menyebut diri 'Tim Air Putih' melakukan pembangunan infrastruktur internet di lokasi bencana. Tim yang kini berbentuk yayasan itu hampir selesai membangun infrastruktur nirkabel pre-WiMax. "Intinya, masih terus dilakukan maksimalisasi. Semua client dan node pre WiMax, sekarang ini diminta untuk menyediakan PC router, sehingga distribusi koneksinya bisa lebih maksimal," ujar M. Sholahuddien, juru bicara Yayasan Air Putih, kepada detikinet, Selasa (19/7/2005). Infrastruktur pre-Wimax yaitu infrastruktur Internet nirkabel yang menggunakan perangkat dengan teknologi WiMax namun belum benar-benar bisa disebut WiMax karena belum adanya standardisasi WiMax di dunia. Pengadaannya dilakukan dengan bantuan dari Intel. Karena sudah boleh dikatakan rampung, Intel sebagai donor WiMax pun selesai tugasnya. Meskipun, menurut Sholahuddien, belum ada pernyataan resmi mundur dari Intel. Serat OptikUntuk selanjutnya, ujar Sholahuddien, Air Putih akan berkonsentrasi dalam mengupayakan pembangunan jaringan serat optik di Aceh dan Nias. Seperti juga pre-WiMax pembangunan serat optik ini akan dilakukan dengan bantuan donor.Calon donor yang sudah mulai melakukan pembicaraan adalah Global Marine Systems Limited(GMSL), sebuah perusahaan infrastruktur bawah laut. Dalam waktu dekat, ujar Sholahuddien, akan ada pertemuan segitiga antara Air Putih, GMSL dan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Sumatera Utara (BRR)."Dalam pembicaraan terakhir antara wakil Air Putih dan BRR, kemungkinan apabila GMSL tetap berminat melanjutkan donasi ini, kita meminta agar fiber optic itu terus digelar hingga ke Nias, nggak hanya berhenti di Meulaboh," Sholahuddien menjelaskan. Pertanyaan 'satu miliar'-nya adalah, siapa yang akan mengelola serat optik tersebut? Pasalnya, infrastruktur serat optik bisa menjadi lahan bisnis yang potensial. Selain membutuhkan profesionalitas dan biaya tinggi dalam mengelolanya. "Buat Air Putih, fiber optic itu baru sebuah rencana, belum ada realisasinya. Sehingga semua pembicaraan yang terkait dengan fiber optic seharusnya dikonsentrasikan pada upaya untuk mewujudkan terlebih dahulu rencana itu," ujar pria yang kerap dipanggil Didin itu. Didin menegaskan Air Putih tidak mempunyai tendensi apa-apa terhadap proyek serat optik itu. "Apabila nantinya fiber optic itu benar-benar dapat diwujudkan, Air Putih tidak mempunyai tendensi untuk misalnya mengambil alih kepemilikan atau menguasai infrastruktur itu atas dasar kepentingan komersial," tuturnya. Menurut Didin, dalam pengelolaan serat optik tersebut nantinya Air Putih akan membutuhkan bantuan dari pihak lain. "Kami sangat terbuka untuk membicarakan ke depan, bagaimana bisnis model, pengelolaan dan bentuk kepemilikan yang terbaik untuk fiber optic itu. Termasuk kemungkinan membicarakan masalah ini dengan pemerintah dan operator yang ada," lanjut Didin. Namun Didin mensyaratkan kesepeakatan semacam itu harus selalu sesuai dengan persyaratan yang diajukan oleh pihak donatur. "Kepemilikan haruslah mengikutsertakan komponen masyarakat aceh, existing player yang selama ini berperan, komunitas pendidikan dan pers sebagai stakeholder," pria dengan julukan 'Pataka' itu menjelaskan. Kembangkan KomunitasSelain soal serat optik, Air Putih saat ini juga sedang mengembangkan pemanfaatan TI bagi komunitas di Aceh dan Nias. "Sejujurnya, justru yang community development ini sudah berjalan, lebih dekat untuk diwujudkan ketimbang fiber optic," tukas Didin. Menurut pria asal Malang itu, selama ini kegiatan Air Putih di Aceh dan Nias sudah termasuk pelatihan dan pengembangan komunitas lainnya. Meskipun, untuk hal ini, ia mengaku belum ada kerjasama formal dengan pihak lain. "Air Putih juga sedang mempersiapkan penerbitan buku, yang intinya berisi catatan pengembangan Information Communication Technology (ICT) di daerah bencana dan bagaimana fungsi serta peran serta ICT pada saat penanggulangan bencana. Nantinya publikasi semacam itu akan terus kita lakukan untuk menciptakan awareness terhadap ICT secara umum kepada masyarakat luas," Didin menambahkan. (wsh/)





Hide Ads