Rabu, 09 Mei 2018 09:32 WIB

Twitter Siapkan Fitur Pesan Terenkripsi?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Reuters/Kacper Pempel Foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta - Meski perlawanan terhadap layanan pesan terenkripsi tengah mendapat sorotan tajam, Twitter malah kemungkinan bisa menjadi nama baru yang menghadirkan fitur tersebut.

Twitter tampaknya tengah mengerjakan sebuah fitur baru dalam menjaga keamanan penggunannya saat mengirim pesan menggunakan Direct Message. Hal tersebut terlihat dari sebuah temuan oleh Jane Manchun Wong, mahasiswi dari University of Massachusetts Dartmouth, Amerika Serikat.

Perempuan yang mengambil jurusan ilmu komputer tersebut menemukan sebuah fitur bernama Secret Conversation di dalam kode pada tools Android APK bagi aplikasi Twitter, sebagaimana detikINET kutip dari CNET, Rabu (9/5/2018). Fitur tersebut memungkinkan user untuk saling bertukar pesan yang sudah terenkripsi.

Melalui akun Twitter miliknya, Jane mengunggah sejumlah screenshot yang memperlihatkan tampilan fitur pesan terenkripsi itu. "Twitter tengah mengerjakan DM rahasia lewat enkripsi end-to-end," tulisnya dalam kicauannya tersebut.




Menariknya, kemunculan calon fitur baru Twitter ini seakan menjadi jawaban dari tantangan yang diberikan oleh Edward Snowden kepada Jack Dorsey, CEO media sosial tersebut. Snowden, yang terkenal sebagai whistleblower terhadap National Security Agency (NSA), sempat mengatakan kepada Dorsey mengenai sebuah ide dalam membuat DM yang hilang setelah dibaca akhir 2016 lalu.




Jika Twitter benar-benar memunculkan fitur Secret Conversation, maka media sosial ini akan meramaikan pasar yang sudah diisi nama-nama seperti Telegram, WhatsApp, hingga Signal. Dengan begitu, maka Twitter pun harus menerima konsekuensi yang ada setelah menawarkan layanan berbagi pesan terenkripsi.

Hal tersebut tercermin dari keputusan sejumlah negara yang memblokir layanan berbagi pesan terenkripsi. Platform yang mengusung fitur tersebut dianggap oleh pemerintah dari berbagai negara tidak sejalan dengan visinya untuk menjaga keamanan nasional. Hal ini dikarenakan mereka kesulitan untuk melacak apakah platform tersebut digunakan dalam kegiatan kriminal dan terorisme atau tidak.

Rusia dan Iran menjadi nama terkini yang memutuskan untuk memblokir Telegram. Di samping itu, ada Prancis yang memilih untuk membuat platform pesan terenkripsi sendiri dan memblokir layanan sejenis dari luar negeri. Bukan tidak mungkin Twitter juga mengalami nasib serupa jika memutuskan untuk meluncurkan fitur Secret Conversation. (asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed