Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Finalis Lomba ICT Keblinger di Open Source

Finalis Lomba ICT Keblinger di Open Source


- detikInet

Jakarta - Penjurian untuk lomba Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information and Communication Technology - ICT) untuk Pendidikan diadakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (30/6/2005). Beberapa hal menarik mengemuka dari ajang tersebut. Misalnya, seorang peserta yang tampak keblinger soal berbagi source aplikasi alias Open Source. Lomba terbagi atas tiga kategori yaitu media pembelajaran, koran sekolah dan aplikasi. Seorang peserta dalam kategori aplikasi sempat membuat bingung juri dengan presentasinya. Peserta dalam kategori ini diminta membuat aplikasi yang dapat berguna dalam menjalankan fasilitas administrasi tertentu di sekolah.Menurut peserta itu, yang enggan disebutkan namanya, masyarakat umum boleh meng-oprek (mengutak-atik) aplikasi yang dikembangkannya. Hal seperti itu umum terjadi dalam bidang Open Source, yaitu piranti lunak yang dikembangkan secara terbuka. Artinya, siapa pun dipersilakan untuk melihat source aplikasi yang bersangkutan.Dewan juri kemudian menanyakan apakah peserta itu berniat untuk membuka source aplikasi itu. "Tidak!" jawabnya tegas. Hal ini sontak membuat dewan juri terkejut. Lomba itu digelar oleh ICT Centre dan didukung oleh Microsoft Indonesia. Pada babak final dihadirkan 15 peserta, lima untuk masing-masing kategori. Finalis yang disaring dari ratusan peserta di seluruh Indonesia itu terdiri dari guru dan siswa Sekolah Menengah Atas maupun Sekolah Menengah Kejuruan.Ada juga peserta aplikasi yang membuat juri tertawa geli karena mencatatkan source aplikasi dengan tulisan tangan pada selembar kertas yang disimpannya dalam dompet. Setiap peserta bidang aplikasi memang diminta menyediakan source aplikasi mereka kepada juri. Gaya Mobile WorkerPeserta lain yang cukup menarik perhatian juri adalah Dirgayuza, murid kelas 2 di SMA Pelita Harapan. Menurut penuturannya, Dirgayuza menyusun proyek untuk lomba ini secara mobile. Penggemar terjun payung itu dengan semangat menceritakan bagaimana ia berkolaborasi dengan rekan-rekannya melalui koneksi GPRS dan MSN Messenger. Kerja mereka, tutur Dirgayuza, sama sekali tidak dibatasi oleh lokasi. Dirgayuza dan rekan-rekannya mengikuti kategori Koran Sekolah. Untuk kategori ini, mereka diminta berkreasi membuat desain layout dan konten untuk koran sekolah (cetak). Dalam mengikuti lomba ini, Dirgayuza mengakui masih memakai aplikasi bajakan. "Kalau bisa menang, saya mau beli yang licensed," ujarnya percaya diri. Sebelum memulai presentasi Dirga sempat 'menantang' juri untuk menggunakan presentasi dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. "If you want me to give the presentation in English, i'd be happy to," tuturnya bersemangat. Kategori terakhir yang dinilai adalah kategori Media Pembelajaran. Peserta diminta melampirkan satu karya yang bisa digunakan sebagai alat bantu belajar-mengajar di kelas. Kebanyakan peserta kategori Media Pembelajaran menggunakan piranti lunak Power Point. Untuk Koran Sekolah kebanyakan menggunakan Microsoft Publisher, sedangkan kategori Aplikasi memakai software Visual Basic .Net.Dewan juri terdiri atas Pendiri ICT Center Bona Simanjuntak, pendiri IlmuKomputer.com Romi S.W, peneliti senior ICT Watch Donny B.U. dan Achmad Ridwan, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta. (wsh/)





Hide Ads