Kamis, 08 Mar 2018 18:39 WIB

Mengintip Kampung Bisnis Online di Purbalingga

Arbi Anugrah - detikInet
Foto: Arbi Anugrah/detikcom Foto: Arbi Anugrah/detikcom
Jakarta - Ketika rata-rata pemuda di desa lain sibuk mencari penghasilan di kota-kota besar, di pelosok desa di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ada ratusan pemuda yang bekerja online setiap harinya dengan bermodalkan smartphone.

Di Desa Tunjungmuli, Kecamatan Karangmoncol yang jauh dari keramaian kota ini tepatnya, para pemudanya sudah bisa menghasilkan jutaan rupiah dengan membantu memasarkan produk para pelaku pasar online dari seluruh Indonesia melalui Kampung Marketer.

Kampung Marketer sendiri dirintis oleh Nofi Bayu Darmawan, seorang pemuda desa yang sudah menjalani internet marketer sejak kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Akuntansi (STAN) Jakarta.

Pada 2013, dia diterima sebagai PNS di Kementerian Keuangan. Namun berjalan 3,5 tahun bekerja, dia mundur sebagai PNS dan lebih memilih kembali ke desa untuk menjalankan bisnis online.

Mengintip Kampung Marketer Online di Purbalingga Kerja bermodalkan smartphone dan koneksi internet. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


"Kurang lebih Rp 45 juta saya harus mengganti denda karena mundur sebagai PNS. Gajiku saat itu Rp 5,5 juta, tapi di online dengan nominal itu aku bisa dapat dalam sehari, karena ada beberapa aplikasi juga yang aku rilis," kata Nofi Bayu Darmawan, Owner Kampung Marketer saat berbincang dengan detikcom.

Dari kemampuan digital marketing itulah, gejolak dalam dirinya berkecamuk saat banyak para pemuda desa kesulitan mencari pekerjaan dan lebih memilih ke kota besar untuk mencari pekerjaan.



Dari pengalaman dan adanya keluhan dari sesama pelaku bisnis online akan kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk Customer Service (CS) di bisnis online, secara bertahap dia mulai merekrut pemuda desa untuk dilatih kemampuan menjadi seorang CS dalam bisnis online.

"Awalnya saya ingin membuat sesuatu yang berimbas langsung ke masyarakat, makanya saya inisatif membuat program peberdayaan SDM ini dan sebenernya juga tidak sengaja," tutur Nofi.

"Mulanya di grup yang saya kelola ada yang nyari CS. Katanya di kota gajinya mahal, problem nyari SDM itu susah. Terus aku nyeletuk di situ, sini aku cariin aja dari SDM di kampungku, karna di kampungku banyak yang nganggur," sambungnya.

Mengintip Kampung Marketer Online di Purbalingga Memanfaatkan internet untuk mencari penghasilan. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


Mengenalkan Kerja Online ke Desa

Ternyata tidak mudah mengubah pola pikir masyarakat desa dengan segala kesederhanaannya. Nofi harus mengajar mulai dari nol tentang apa itu bisnis online, cara kerja bisnis online serta transaksi dalam bisnis online.

Namun dari dua pemuda yang dia ajukan pada partner bisnisnya, ternyata kinerjanya diapresiasi memuaskan. Selanjutnya, Nofi terus mengembangkan SDM bisnis online melalui payung Kampung Marketer.

"Awal kita open rekruitmen dua, tapi saat itu banyak banget warga yang daftar makanya banyak yang kita tolak. Ternyata kerjanya bagus, hasilnya bagus dan dia (partner bisnis) puas, karena dia puas, kenapa tidak aku perbanyak lagi untuk lebih memberdayakan warga-warga sini," ungkapnya.

Untuk mengakomodir permintaan SDM CS bisnis online tersebut, akhirnya dia membuat website sebagai sarana penawaran resmi yang menjelaskan tentang apa saja SDM yang disediakan, keunggulannya, cara mengontrolnya hingga sistem evaluasinya. Karena keunggulan bisnis online, teknologi marketing bisa dikerjakan dimanapun termasuk di desa oleh pemuda desa, selama ada jaringan internet.

Kini, setidaknya Nofi sudah mempunyai enam kantor yang didirikan di dua desa dengan karyawan hampir 200an orang. Para karyawan tersebut merupakan SDM di bidang CS bisnis online, iklan, content writer, serta leader CS yang direkrut dari pemuda-pemudi di delapan desa disekitar desa Tunjungmuli.

Dalam lima bulan, jumlah partner yang bekerjasama dengan Kampung Marketer sebanyak 62 partner bisnis mulai dari pemilik brand, reseller hingga dropshipper.

"Di sini, minimal pendapatan mereka (karyawannya) Rp 1 juta dan maksimal Rp 4 juta untuk standar di desa, kerja santai, bisa pulang ke rumah, makan di rumah, ketemu keluarga hanya bermodalkan smartphone atau laptop," ucapnya.

Nofi menargetkan, Kampung Marketer bisa memberdayakan masyarakat desa dan mengurangi angka pengangguran serta arus urbanisasi dari desa ke kota sekitar 1.000 karyawan. Dia juga ingin membuat anak-anak desa mengerti cara memanfaatkan teknologi.

"Salah satu motivasi selain menyerap pengangguran, kita juga ingin meminimalisir dan mengedukasi orang-orang di sini bahwa yang namanya kerja itu tidak harus ke kota. Karena yang namanya posisi kerja di online seperti ini, bisa dikerjakan di mana saja," jelasnya.

Karena saat ini, lanjutnya, kebanyakan anak-anak di desa setelah lulus SMA berkeinginan bekerja di Jakarta untuk anak laki-laki. Sedangkan anak perempuan kebanyakan akan bekerja di kota Purbalingga sebagai buruh pembuatan bulu mata, wig. Banyak orangtua tidak setuju karena kerjanya lembur. Kondisi ini tentu sangat relevan jika dibandingkan dengan bekerja secara online.

"Bahkan ada beberapa orang tua di desa yang ngerti ada Kampung Marketer bilang sama anaknya yang pada di kota agar pulang ke desa dan kerja di sini sambil menjaga orangtuanya," ucapnya.

Permintaan mencetak SDM dalam bisnis online sangat menjanjikan. Apalagi saat ini sudah ada beberapa patner yang meminta SDM yang dapat bekerja shift malam. Menurut Nofi, salah satu yang sudah melamar untuk bekerja shift malam itu adalah guru TK yang kerja pagi sampai siang mengajar, tapi bingung cari penghasilan tambahan.

"Sampai Februari saja meskipun selalu ada karyawan baru kita masih minus. Karena biasanya partner kita macam-macam. Ada yang satu partner bisa sampai 15 CS. Biasanya bertambah itu ketika peformanya (jualan) mereka rasa sudah bagus, kalau dalam bisnis itu selling pemasaran, ketika 1 SDM bisa sumbangsih sekian rupiah, kenapa tidak ketika dia tambah," ucapnya.

Mengintip Kampung Marketer Online di Purbalingga Anak-anak muda Purbalingga yang diberdayakan di Kampung Marketer. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


Tantangan

Namun semua kerja keras Nofi untuk mengurangi angka pengangguran di desanya bukan tanpa hambatan. Masih banyak warga desa yang belum melek teknologi tidak mengerti apa yang sebenarnya dilakukan oleh Nofi. Bahkan tidak semua pemerintah desa mengerti dengan apa yang dia kerjakan.

"Sampai saat ini belum ada dukungan dari pemerintah desa atau Kabupaten Purbalingga dengan apa yang saya kerjakan. Malah dukungan kebanyakan datang dari pemerintah Kabupaten dan perguruan tinggi di kota lain yang sengaja datang ke sini untuk belajar," ungkapnya.

Meski demikian, hasil jerih payahnya mentransfer ilmu bisnis online juga bisa dirasakan beberapa orang yang pernah belajar dengan dirinya. Prinsip Nofi, jangan takut membagi ilmu yang dimiliki kepada orang lain.

Sebuah kebahagiaan baginya, jika mengetahui ilmu yang dibagikannya bisa bermanfaat bagi orang lain. Dia mendengar cerita, ada pegawai KUA dan guru SD yang mempunyai bisnis online secara sampingan dan sudah bisa mendapatkan penghasilan melebihi gajinya selama bekerja.

"Ada juga yang kerja di PT akhirnya resign. Ada juga kakakku yang kerja di kapal pesiar gaji lumayan besar sekarang jualan knalpot online. Adikku yang sekarang masih kelas 1 SMA sekarang sudah punya karyawan dengan pendapatan bersih puluhan juta, biaya sekolah dan uang saku sudah tidak minta orang tua, padahal masih belasan tahun tapi pikiranya udah kayak umur tiga puluhan tahun," tuturnya.

Mengintip Kampung Marketer Online di Purbalingga Tak perlu ke kota, di desa pun bisa produktif lewat smartphone. Foto: Arbi Anugrah/detikcom


Sementara menurut Ganjar Kurniawan Hakim (24), karyawan Nofi yang bertanggung jawab sebagai tim iklan, mengaku dirinya sempat kaget mengetahui media sosial bukan hanya dibuat sebagai update status saja, tapi bisa dimanfaatkan sebagai sarana mencari penghasilan.

"Media sosial itu juga bisa buat kerja. Padahal hampir setiap hari kita update status. Malah bisa kita maksimalkan untuk mencari keuntungan untuk kita. Dulu memang saya seperti halnya anak-anak biasa, kita punya Facebook hanya untuk buat updete status," jelasnya.

Dia mengisahkan saat dirinya harus merantau ke luar kota dengan penghasilan yang sama namun bekerja lebih berat dan banyak aturan yang harus dijalani. Tapi hal berbeda dialaminya saat menjalani pekerjaan di Kampung Marketer. Selain menjadi lebih dekat dengan keluarga, dirinya juga tidak banyak dituntut seperti layaknya saat bekerja di Kota.



"Banyak keuntungan untuk sendiri, bisa berwirausaha. Sekarang jauh-jauh ke kota mau ngapain, di kota memang dapat pengalaman tapi kenyataannya pengalamannya cuma sedikit. Apalagi ketika kita dituntut oleh perusahaan harus gini-gini tapi dampaknya ke kita cuma sedikit, beda dengan kita masuk di sini (Kampung Marketer) terutama saya jadi tahu, Facebook bisa buat jualan, dan ada fitur juga," ucapnya.

Ganjar sendiri awalnya sempat bingung dengan apa yang dilakukan Nofi. Namun kini, dia paham bahwa Nofi mengajari orang bisa memanfaatkan internet untuk mencari penghasilan.

"Penghasilan saya disini diatas Rp 1 juta. dibanding dulu kerja di Jakarta dari segi kerja beda, di sini bisa santai, dis ana kerja 8 jam dan 1 jam untuk istirahat. Itu pun harus dituntut bekerja terus," ujarnya. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed